“Ya Allah..semoga mamah sama papah punya uang banyak, biar bisa beliin aku sepedah..juga beli cet …amien”. (salah satu do’a Ara, selesai sholat Maghrib)
Keinginan Ara untuk memiliki sepeda kuattttttttttttt sekali, sudah bilangan bulan bahkan tahun keinginannya belum pupus juga, tetap setia dan sabar menanti sampai keinginannya suatu saat terpenuhi. Tak jarang air mata meleleh dan sesenggukan di pangkuan, lalu curhat tentang temannya yang tak juga mau meminjamkan sepeda mereka. Namun kalau lagi beruntung, saat temannya ngajak main dan sangat membutuhkan kehadirannya, Ara jadi kan kesempatan langka ini untuk tawar menawar, “San ..kalau mau main sama aku, tapi nanti pinjamin aku sepedanya ya, main sepedanya harus gantian ya?”, begitu tawaran yang di ajukan Ara pada temannya. Dan senyuman pun tersungging manakala tawarannya tersebut langsung di setujui Ihsan anak tetangga kami. Yang satu butuh teman yang satu butuh Sepedanya, cocok bukan, ini yang namanya win win solution. Kesimpulannya tak satupun yang di rugikan.
Sampai suatu hari saya dan ayahnya menyaksikan di teras kami, Ara sudah melaju di atas sepeda Putri, tetangga kami lainnya, “Pahhh..mahhh…coba liat aku sudah bisa naik sepedahhh”, teriaknya bangga sekali. Saya acungkan dua jempol dan senyuman ibu paling bangga sedunia. “Ara seperti mamah waktu kecil pah, tidak semua benda yang diinginkan mudah di dapatkan, Ara keren ya tidak punya sepeda tapi bisa juga naik sepeda”. Suami diam, menerawang lalu hanya dua kata yang samar terdengar “Hemmm..sepertinya cukup….”. Tak perlu di tanyakan, tak perlu di jelaskan, saya tau waktunya telah datang…mimpi Ara sebentar lagi jadi kenyataan.
Lalu bagaimana dengan mimpi ke 2 nya, pengen di belikan cat biar dinding rumahnya enggak jorok dan banyak coretan lagi, ah jadi resolusi 2009 aja soalnya masih ada satu tukang coret yang tersisa di keluarga ini, sapa lagi kalau bukan de Rizqy.
Catatan mamah : Sepedah ini di belikan papah tiga minggu lalu, sekarang Ara bahkan sudah bisa laju n ngangkat kaki segala...iiihh ngeri pokoknya.