Masih lanjutan dari cerita, "Sepeda Pertama Ara"
Suatu malam di meja makan, saat para adik telah terlelap, saya, papah, kaka Alief terlibat dalam suatu perbincangan.
“Kaka…. papah punya rezeki pengen beli sepeda, tapi sepertinya kaka Ara dulu yang di belikan, karena kalau beli sepeda buat kaka Alief juga uangnya papah tidak cukup, enggak apa apa ya, kaka bersabar dulu ya?”. Si papah mulai membuka percakapan.
“Hemmm…gimana ya”, muka kaka Alief serius, nimbang sana nimbang sini, mulai berfikir. Dia tak menyangka kami membicarakan sepeda, saya tau dia berat menjawabnya karena dia mempunyai impian yang sama dengan adiknya.
“Memangnya harga sepedah itu berapa sih mah”.
“Mahal kak sekitar tiga ratus ribuan. Jadinya papah enggak bisa kalau beli sekaligus dua. Kaka Ara itu kasian lho kak..kalau teman temannya naik sepeda dia cuma nonton, kadang di kasih pinjam kadang enggak, lagian enggak bisa setiap hari kan temannya ngasih pinjam. Nah sekarang papah punya rezeki, kaka ikhlas kan kalau ka Ara dulu yang di belikan sepedanya, gimana….ikhlaskan sayang…anakku…calon penghuni syurga?”. Saya berusaha mengetuk pintu empatinya dengan panggilan penghuni syurga, panggilan dari ibu gurunya yang membuat dua minggu belakangan ini bikin berseri hatinya.
“Ya sudah…enggak apa apa ka Ara yang dibelikan sepeda, asal aku di traktir makan di texas”.
“Lho kaka kan sudah di traktir makan di Kentucky sama papah tadi”
“Tadi tuh bukan makan di Kentucky fried chiken mah, tapi di Kentucky nya pinggir jalan yang jualannya orang jawa”, si papah ikut menimpali
“Lagian aku kan sudah bersabar mah enggak di beliin sepedah, jadi karena aku sudah bersabar, gantinya mamah traktir makan di texas ya”. Saya dan suami langsung pandang pandangan campur geli…sepeda diganti texas…ya bolehlah, kali ini gantian otak si mamah yang bekerja, tung itung dana…hemmm Insya Allah cukup lah.
Pertengahan April 2008