 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Agnes Triharjaningrum |
Mutiara dari sahabat maya
Liburan Idul Adha juga kesibukan membuat laporan HSE karena sebentar lagi kantorku akan di audit, membuat aku tersadar ternyata sudah hampir seminggu aku tidak membuka email. Begitu ID dan password ku masukkan, buzz… Mataku langsung tertuju pada email berwarna biru tanda belum ku baca berderet rapih di layar kaca. Email dari teman mulai dari masalah Idul Adha, Palestina sampai Isu Formalin yang lagi santer di Indonesia berderet memenuhi halaman pertama mailbox ku. Sampai akhirnya mataku tertuju pada deretan paling bawah, email dari sahabat mayaku teh Agnes.
Barisan kata-kata yang kubaca membuat aku terkesiap dan gagap, “Buku aku udah siap terbit, sekarang Ita aku beri kehormatan nih sebagai sahabat setia yg mengunjungi blogku untuk memberi endorcement”, begitu isi pesannya. Duh hatiku langsung gerimis, antara merasa tersanjung karena aku di beri kesempatan menjadi orang ketiga yang membaca naskahnya, turut bahagia karena menulis buku adalah salah satu yang sudah lama di idam-idamkannya, panik antara ingin cepet baca naskah buku atau nyelesaikan dulu laporan yang berjibun di meja, sekaligus feeling hopeless karena sepertinya penawarannya ini sudah expire alias tak berlaku lagi.
Hemm..aku jadi ingat ketika saat pertama kali berkenalan dengan sosok ibu yang satu ini, Allah Yang Maha Penyayang mengenalkan aku dengan teh Agnes dengan cara yang sungguh indah dan unik. Di bilang unik, karena aku merasa sudah sangat dekat walau belum pernah berbicara apalagi bertatap muka dengannya.
Ceritanya saat itu aku sedang mencari artikel tentang kesehatan reproduksi wanita khususnya masalah aborsi yang ingin aku sharing dengan teman di pengajian. Subhanallah hanya melalui perantara PC, colokan kabel telephone, dan dengan perantara ‘mbah google’ (saya ambil istilahnya teh Agnes) dalam sekali klik hitungannya juga detik Allah langsung mengantarkan aku kerumah maya teh Agnes nun jauh di negeri Belanda sana.
Awalnya hanya membaca topik yang tengah ku cari, lama-lama aku keasyikan melahap menu lain yang teh Agnes suguhkan dirumahnya. Selanjutnya ‘Diary Parenting’ adalah yang menjadi menu pavoritku setiap kali aku berkunjung ke rumah mayanya. Jarak dan waktu yang terbentang jauh antara Balikpapan dan Belanda, kini tak lagi menjadi kendala. Boleh jadi bila silaturahin ini dilakukan di dunia nyata, teh Agnes bisa cemberut dan keki dibuatnya. Lha wong saban hari aku berkunjung, kapan teteh punya waktu buat masak, ngurus anak dan rumah tangga. Tapi Subhanalah begitulah Allah memberi kemudahan bila bersilaturahmi di dunia maya, hingga aturan dan batasan waktu menjadi nomor dua.
Tepat jam satu malam aku terbangun, oalah..lagi-lagi acara menina bobokan kedua buah hatiku selalu membuat mata dan badanku yang lelah ikut hanyut dalam buayan pulau kapuk yang begitu nikmat menggoda. Ditengah kesunyian, setelah menghadapkan wajah pada sang Khalik sang empunya malam, dan sambil menyempatkan merendam cucian yang begitu menggoda ingin segera kubereskan. Lalu perlahan kuambil naskah buku yang tadi siang terburu-buru kubaca. Malam ini aku ingin menikmati halaman per halaman semua curahan hati teh Agnes dengan hati tenang.
Subhanallah setelah membaca bukunya, kesan yang kurasakan sama seperti saat pertama kalinya mengunjungi rumah mayanya Juni tahun lalu. Tulisannya sederhana, mudah dicerna tapi sarat akan makna. Perjalanan batin teh Agnes terutama saat menemani dan membimbing kedua buah hatinya sungguh memberi inspirasi luar biasa bagi diriku. Selalu ada mutiara yang bisa ku ambil dari perjalanan batinnya. Terutama saat ia sedang luka, merasa sendiri, dan tak berdaya menghadapi medan jihadnya di rumah, dalam menjalankan amanah menemani dan membimbing anak-anaknya menjadi anak yang sholehah. Membesarkan anak-anak di negeri berwajahkan sekuler, tentulah bukan perkara mudah.
Lalu bagaimana dengan diriku ? Ampuni aku ya Robb…bahkan setelah aku diberi berbagai kemudahan oleh-Mu, diberi rumah dekat Mesjid, bisa menyekolahkan anak di lingkungan Islami, bertemu teman-teman di Liqo yang sholehah. Tapi membimbing kedua buah hatiku, tetap saja suka lengah dan payah. Bahkan aku sering mencari bermacam alasan, hanya sekedar menghindari rengekan kedua buah hatiku untuk ditemani sholat di Mesjid, berkelit dan mengobral janji esok hari saja bila putra ku minta di bacakan buku, dan berbagai alasan yang kubuat hanya karena lelah tapi bila sedikit saja aku berusaha aku sebenarnya mampu melakukannya. Semoga semua kisah yang baru saja ku baca, membuat aku belajar mengejar ketertinggalan, dan Biiznillah harapan dan impianku mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehan dapat terwujud.
Khusus untuk teteh Agnes selamat ya, diary mengenai pola pengasuhan anak kini menjadi lahan dakwah bagimu, tidak hanya di rumah mayamu tapi kini sudah ada di dunia nyata lewat buku ini. Hingga para pembaca yang belum mempunyai kesempatan menjamah internet, tetapi concern dan giat mempelajari ilmu parenting dapat juga menikmati bukumu ini.
TE, Balikpapan 15 Januari 2006
  | Aduuh Ita, jadi terharu, bukuku di review sama Ita disini. Tapi jadi tau cerita lengkapnya nih, oo begitu toh ceritanya hehe. Nuhun pisan nya say buat semua-muanya. Kita sama-sama berjuang ya, memang jadi ortu ga mudah, dimanapun ngasuh anak mesti adaa aja gogodana. Eh btw, udah dapet buku aslina blum? Sigana mah nteu nyampe ka kalimantan nya hehe. |
 | He..he... telat ya teh up loadnya, maaf juga reviewnya kayak diari...abis biasa namina oge ibu ibu baru belajar. Mengenai bukuna percaya tidak....baru bulan may kemarin dapat, setelah titip sana sini enggak ada yang nemu...(waktu itu aku kira...jangan jangan udah abis, alhamdulillah juga sih...). Tau tuh di gramdi balikpapan payoyehhhh...makana bukuna kayak jimat aja, yang sering ita baca yang naskah pertama aja...he...he... Teh...bila ada miscom...sama anak, teteh adalah salah satu orang yang paling ku kangenin.... |
 | mba, beli dimana sih? kok cari di gramedia ngga ada ya???? |
 | Kemaren di gramedia balikpapan masih ada..... |
| |