tita's posts with tag: anak anak
Bermula dari adiknya Ara menyebut huruf Hijaiyah AlipBa...Ta .. Sa, tiba tiba si kaka merasa adiknya itu sedang sengaja mengolok ngolok dirinya…perang kata sejenak lalu tak lama si kaka menangis. Penjelasan papah yang kebetulan lagi sempit hatinya tentu tidak melegakan hati kaka, akhirnya kaka masuk kamar dan terisak makin dalam. Melihat kaka Alief yang sedih seperti itu, seperti melihat bayangan diriku 27 tahun silam saat seumuran kaka. Mang Nana begitulah namanya, tetangga beberapa rumah dari rumahku ini memberi kenangan masa kecil yang menyedihkan buat aku, entah kenapa setiap berpasangan denganku dia selalu mengolok aku dengan menyebut aduhhh “TITAJONG” sambil berpura pura jatuh atau terantup batu, dimanapun kapanpun bertemu selalu tak pernah lupa ia mengolok aku seperti itu. Tita adalah nama depanku tapi kalau di tambah menjadi JONG (Titajong) nama itu dalam bahasa Sunda jadi berarti orang yang lagi terhantup batu atau orang yang terpeleset karena sesuatu. Untuk orang tua mungkin itu hal yang remeh temeh, tapi untuk aku saat itu sungguh ejekan yang menyakitkan hati, karena terbukti virus ini menular ke temanku yang lainnya, mereka sering sekali mengolok aku dengan sebutan yang ku benci itu “TITAJONG”, dulu aku merasa namaku jelek sekali . Aku mulai merasa percaya diri dan menganggap namaku cantik setelah beberapa puluh tahun kemudian, saat kuliah dan lagi gila gilanya telenovela yang di bintangi Thalia, kalau enggak salah judulnya Maria Mercedes, trus ada kan anaknya yang namanya TITA, wahhhh…serasa panas setahun di hapus oleh hujan sehari, rasanya pengen ku teriakkan “mang Nanaaaaaaaaaaa…namaku itu keren tau, buktinya ada di telenovelanya Maria Mercedes” . Namun apa daya..balas dendam itu tak mungkin terlaksana, pertama mang Nana jaraknya ratusan kilo meter, palingan dia lagi di sawah dan sudah tidak ingat lagi dengan ke “anehannya” waktu itu, yang kedua belum tentu juga dia punya TV nya. Rupanya apa yang ku alami dulu di alami juga oleh anak sulungku. Sungguh aku merasa aneh melihat orang tua yang senanggggggggg sekali meluangkan waktunya, menggunakan mulutnya untuk sengaja mengejek anak anak. Kaka Alief kadang suka juga di ejek oleh tetangga dengan memanggilnya..Alief…Ba…Ta. Di kamar saat kami, Alief dan aku berduaan. “Mah…kenapa sih mamah itu ngasih nama Salman Ma’ruf Setiawan, tapi aku di panggil Alief, kenapa namaku enggak Salman Alief Ma’ruf Setiawan ?”. “Kaka mau tau kenapa..sini mamah ceritakan tapi sambil mamah peluk ya. Kaka Alief tau enggak, dulu kaka tuh anak yang mamah nanti nantikan, waktu kaka masih di dalam perut, mamah beli buku nama nama dalam Islam, terus rasanya semuaaaaaaaaaa nama indah yang ada di buku itu ingin mamah berikan ke kaka, tapi kan enggak mungkin ya…(kaka mulai tersenyum..) jadi mamah harus memilih, papah berdo’a juga lho, jadi pilihan mamah dan papah untuk nama kaka adalah, Salman seperti nama sahabat nabi Salman Al Farisi, sholeh, terkenal dermawan dan banyak lagi julukan baik lainnnya, terus mamah tambahkan Ma’ruf, itu dari papah artinya biar kaka selalu berada di jalan yang baik, berakhlak baik pokoknya yang baik baik deh, terus ditambah lagi Setiawan ya artinya Salman Ma’ruf tuh anaknya pak Setiawan gitu lho… “Tapi kenapa aku di panggilnya Alief enggak Salman aja?” “Nah kalau itu …..panggilan sayang mamah dan papah buat kaka, abis namanya keren terus huruf pertama Hijaiyah huruf hurufnya Allah, huruf dalam Al-Qur’an, Raihan juga kan punya lagu si Alief kecil, banyak kok yang pake nama Alief, menurut mamah nama Alief itu kerennnnn deh pokoknya”. “Tapi mah…mulai sekarang aku pengen di panggil kaka Salman aja…enggak usah di panggil Alief lagi…” “Aduh gimana ya ka…karena itu panggilan sayang mamah kayaknya enggak bisa langsung berubah seperti itu..tapi Insya Allah mamah cobain manggil kaka Salman, kan di sekolah mamah sudah manggil Salman, gimana…?” Dan sudah seminggu ini si mamah pabaliut antara manggil kaka Alief sama kaka Salman, kadang sedih juga mengingat panggilan kaka Alief itu sudah begitu nempel di hati. Hikmahnya..setelah obrolan ini aku berjanji bila ada tetangga/orang tua yang ngolok kaka Alief lagi, aku akan berusaha untuk menegurnya tak peduli dia orang tua, mengingat hal ini tidak di lakukan mamahku 27 tahun yang lalu. Dan aku tidak mau sejarah kembali terulang. Balikpapan 19 May 2008
 Suatu hari kaka Alief sulung kami, curhat tentang sekolahnya untuk kesekian kali. “Mah…aku pas pulangan di panggil duluan terus aku di bilang “Calon Penghuni Syurga” sama bu Guru”. “Oh ya…Subhanallah…kok bisa kaka di bilang Calon Penghuni Syurga, memangnya kenapa ?”. “Aku kan sholatnya full mah jadi di bilang calon penghuni syurga, temanku juga ada tapi enggak banyak”. “Alhamdulillah…iya ya kalau sholat kita full kan artinya memang jadi calon penghuni syurga nantinya, apalagi kalau sholatnya enggak di suruh suruh wahhhh….makin di sayang tuh sama Allah, trus kalau yang sholatnya enggak full di marahin enggak sama bu guru?” “Enggak sih mah….” Lalu apa yang terjadi setelah sulungku mendapat gelar ini. Kak Alief lebih bahagia dan PD nya makin tinggi, itu salah satunya, dan Insya Allah makin termotivasi dan memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara gelarnya ini. Terbukti, bila saya mengingatkan akan waktu sholat, cukup saya bisikan..”psssstt…calon penghuni syurga sudah sholat belum?”. “Oh iya…aku lupa mah”, sambil terus berlari ngambil gayung dan acara wudhu pun segera di mulai. Tidak ada paksaan, tidak ada teriakan, semua berjalan damai. Bahkan yang menjadi catatan saya dua minggu belakangan ini, kaka meminta saya membangunkannya sholat Subuh tepat waktu, memang sih kadang berhasil kadang tidak, namun bukan itu yang menjadi pointnya. Sulung saya sudah memiliki keinginan dari hatinya sendiri untuk menegakkan Dien nya ini. Alhamdulillah…terimakasih tak terhingga untuk Ibu guru yang telah memperkenalkan Islam kepada buah hati saya, tidak lewat doktrin dan paksaan, tapi lewat Cinta dan Kasih Sayang. Balikpapan 6 April 2008
Catatan mamah : gelar sayang dari bu gurunya ini Alhamdulillah membawa perubahan positip yang terus berlanjut, ibarat virus menyebar ke kegiatan kaka lainnya, sekarang untuk bangun pagi jadi terbalik mamahnya yang di bangunkan, karena kaka berkeras yang pegang alarm hp, sholat tepat waktu, mandi pagi jam setengah enam, dan jam tujuh harus sudah ada di sekolah. Bila semester satu mamah yang rese nyuruh kaka cepat cepat takut terlambat, sekarang jadi sebaliknya. Perubahan kaka ini pun memakan korban, satu de Rizqy yang jadi berkurang jadwal ASI paginya dan kaka Ara yang kadang belum puas di peluk peluknya. Untuk perubahan positip kaka Alief ini semoga Allah tetap menjaga sampai akhir hayat kaka, juga menjadi contoh buat kedua adiknya, dan mamah papahnya tentu saja, amien ya Robbal A'lamin.
Masih lanjutan cerita sebelumnya
Dalam rangka memenuhi janji, di food court Pasifica Balikpapan Plaza, kaka Alief dan Ara langsung memesan satu porsi fried chiken nya Texas yang paling ekonomis. Sambil melahap ayam gorengnya, ka Alief rupanya heran melihat mamahnya yang Cuma memandangi mesra wajah kedua anaknya. “Mah…kok mamah enggak pesan makanan?”. “Enggak ah..”. maksud hati sih mo nungguin mereka terutama Ara, biasanya nyisa, kan mubazir istilahnya. Menit berlalu, tapi tanda tanda “Sisaan” itu kelihatannya tidak akan terjadi, enggak ada pilihan lain karena si perut dah berteriak teriak tak mau kompromi, terpaksa saya order juga. Tak berapa lama “Mah..makasih ya aku sudah di beliin texas, kita kan enggak pernah kesini ya, trus aku masih mau…boleh enggak nambah lagi?”. Glek…hiks..seandainya mie goreng di depan mata ini bisa ku batalkan, beberapa detik kemudian otak mulai lagi ngerjain soal tambah tambahan dan pengurangan dan hasilnya “Yaa..boleh deh kak, tapi habis ini udah ya…uang mamah enggak cukup lagi, nanti kita enggak bisa pulang, ongkos angkotnya kurang”. Tak berapa lama Alhamdulillah semua yang ada di depan mata tandas tak tersisa. Karena ini acara santai, kaka Alief sempat ngelanjutin baca komiknya, dan Ara sibuk dengan mainan barunya, nyuci tangan-sabunin lagi-keringkan tangan lagi, begitu terus di ulang ulang enggak keliatan bosan. Sementara si mamah sama dengan anak gadisnya, enggak bosan bosan memandangi takjub kedua buah hatinya. “Mah…uang mamah masih ada berapa?”. “Kan mamah udah bilang tadi, habis, kecuali untuk ongkos taxi, kalau kaka mau beli beli lagi boleh, tapi kita pulangnya jalan kaki”. He..he.. nada si mamah mulai keki. “Aku sebenarnya cuma mau nanya mah, bukan mau beli lagi, mah sekarang jawab pertanyaanku, pilih salah satu ya, mamah sedih karena uang mamah sekarang habis, atau bahagia karena melihat anak anak senang?”. Halahhh..kirain tuh..Astagfirullah..makanya kalau anak ngomong di dengerin dulu, jangan di cut begitu aja…mbatinnn deh si mamah..enggak enak hati jadinya. “Maaf kak, kirain kaka mo beli lagi, gimana ya, ya sedih juga uang mamah habis tapi bahagia juga karena anak anak senang”. “Harus pilih salah satu mah enggak boleh dua duanya” “Ya udah…mamah pilih.. hari ini mamah bahagia karena anak anak senang”, tapi masih di lanjutin dalam hati, tapi ya sedih juga uang mamah dah habis….he..he..
Apryl 2008
“Ya Allah..semoga mamah sama papah punya uang banyak, biar bisa beliin aku sepedah..juga beli cet …amien”. (salah satu do’a Ara, selesai sholat Maghrib) Keinginan Ara untuk memiliki sepeda kuattttttttttttt sekali, sudah bilangan bulan bahkan tahun keinginannya belum pupus juga, tetap setia dan sabar menanti sampai keinginannya suatu saat terpenuhi. Tak jarang air mata meleleh dan sesenggukan di pangkuan, lalu curhat tentang temannya yang tak juga mau meminjamkan sepeda mereka. Namun kalau lagi beruntung, saat temannya ngajak main dan sangat membutuhkan kehadirannya, Ara jadi kan kesempatan langka ini untuk tawar menawar, “San ..kalau mau main sama aku, tapi nanti pinjamin aku sepedanya ya, main sepedanya harus gantian ya?”, begitu tawaran yang di ajukan Ara pada temannya. Dan senyuman pun tersungging manakala tawarannya tersebut langsung di setujui Ihsan anak tetangga kami. Yang satu butuh teman yang satu butuh Sepedanya, cocok bukan, ini yang namanya win win solution. Kesimpulannya tak satupun yang di rugikan. Sampai suatu hari saya dan ayahnya menyaksikan di teras kami, Ara sudah melaju di atas sepeda Putri, tetangga kami lainnya, “Pahhh..mahhh…coba liat aku sudah bisa naik sepedahhh”, teriaknya bangga sekali. Saya acungkan dua jempol dan senyuman ibu paling bangga sedunia. “Ara seperti mamah waktu kecil pah, tidak semua benda yang diinginkan mudah di dapatkan, Ara keren ya tidak punya sepeda tapi bisa juga naik sepeda”. Suami diam, menerawang lalu hanya dua kata yang samar terdengar “Hemmm..sepertinya cukup….”. Tak perlu di tanyakan, tak perlu di jelaskan, saya tau waktunya telah datang…mimpi Ara sebentar lagi jadi kenyataan. Lalu bagaimana dengan mimpi ke 2 nya, pengen di belikan cat biar dinding rumahnya enggak jorok dan banyak coretan lagi, ah jadi resolusi 2009 aja soalnya masih ada satu tukang coret yang tersisa di keluarga ini, sapa lagi kalau bukan de Rizqy. Catatan mamah : Sepedah ini di belikan papah tiga minggu lalu, sekarang Ara bahkan sudah bisa laju n ngangkat kaki segala...iiihh ngeri pokoknya.
Sabtu 15 March 2007, saya di minta bunda Wilda kepala sekolahnya kaka Alief dulu untuk ikut berpartisipasi mengisi acara bulanan parenting di gedung Telkom Balikpapan. Saya sanggupi dengan asumsi, saya hanya sebagai pemeran pembantu saja, pemeran utamanya kan bunda Wilda. Namun kemudian karena kesehatan, bunda berhalangan hadir diganti oleh bu Danik. Saya tetap di minta datang namun sebelumnya saya tetap reconfirm dulu bahwa status saya di situ masih sebagai pemeran pembantu. Namun Subhanallah apa yang terjadi saudara saudara….benar benar pengalaman yang menegangkan, mencekam sekaligus memalukan, satu jam yang membuat gigil hati saya. Selepasnya bahkan di motor tak henti saya menyesali mengapa sampai ini terjadi..tau begini persiapan dulu…bikin kerangka dulu..begini..begitu..Astagfirullah…bla..bla..bla.. bergidik lagi…Beristigfar lagi…terus saja saya menyalahkan diri sendiri. Begini ya rasanya kalau ngomong di depan orang enggak siap…semua memory rasanya menguap. Hanya pertolongan Allah saja yang membuat saya tetap bertahan enggak pingsan. Anak anak di rumah rupanya melihat gelagat mamahnya yang rada aneh, bagaimana tidak sedikit sedikit bilang Astagfirullah sambil bergidik …begitu mereka tanya ada apa, saya cuma bisa bilang mamah lagi banyak pikiran sambil meminta mereka memberikan pelukan untuk meredakan. Malamnya saat ngasih Asi de Rizqy….pengalaman gagal tadi sore masih terus menghantui, kaka Ara yang baru saja gabung rupanya jadi tidak enak hati. “Mah.. kenapa sih..marah ya sama aku?”. Si mamah yang enggak nyangka di tanya seperti itu jadi makin tidak enak hati, entah dapat ide dari mana langsung curhat ke anak perempuannya yang baru berumur 4 tahun ini. “Maaf ka… mamah enggak marah kok sama kak Ara..mamah sayang lagi…Cuma mamah ada masalah tadi sore, begini ceritanya…kan mamah di suruh cerita di acara ibu ibu, kayak waktu mamah cerita atau mendongeng di acara anak anak, cuma acara yang ini mamah enggak siap, mamahnya jadi gugup terus rasanya ngomongnya jadi salah salah, trus ada bapaknya lagi, trus mamahnya jadi maluuuuuuu sekali, gemes, pokoknya mamah jadi malu sama ibu ibu yang ada di Telkom tadi, jadinya mamah kepikiran terus ”. Nah disinilah klimaks dari drama di keluarga blok AK 24 ini, ketika kaka Ara bilang begini, “Sudahlah mah enggak usah sedih…enggak usah di pikirin…yang penting kan anak mamah baik”, pelan bicaranya, lembut nadanya namun tegas disampaikannya. Entah bagaimana caranya, tiba tiba omongan Ara sudah bikin anyepppppp dada dan otak saya. Kegagalan, kepanikan, dan rasa malu sore tadi bukan hal yang penting lagi, sudah berganti menjadi ketakjuban melihat bijaknya apa yang di sampaikan anak perempuannya ini. Subhanallah…Alhamdulillah Catatan Mamah: Ngobatin kangen dan cemas mamah, kak Ara mendadak demam tinggi malam tadi, tapi tadi pagi saat mamah tinggal kerja dah baikan lagi, barusan mamah telpon papap, Alhamdulillah kaka Ara dah ceria lagi.
 Sabtu yang melelahkan… bude Ani pengasuh kami tidak datang karena putranya sakit, bungsu saya de Rizqy pun juga demam sejak semalam tadi, saya kira nongolnya gigi geraham sebelah kirinya yang jadi biang keladinya. Sementara kaka Ara ..terus terusan rewel minta di izinkan main di rumah temannya lagi dan lagi. Bujukan saya agar mainnya istirahat dulu tidak di indahkan, bahkan makin lama rengekan Ara berubah jadi teriakan, terakhir dengan marah yang teramat sangat tangan kiri saya di gigitnya...terus dengan sigap meraih gagang pintu...tak lama berselang Ara pun sudah beredar dan hilang dari pandangan. Jujur …saya syok dan kaget dengan sikap dan emosi kaka Ara yang belakangan ini suka meledak ledak, gigitannya kali ini membuat saya sedih dan instropeksi diri. Belum lagi masalah peraturan mamah yang tidak di gubrisnya lagi. Ahhh…Pasti ada sesuatu yang salah yang telah saya lakukan pada anak gadis kesayanganku ini Sindrom anak tengah, mungkinkah penyebab emosi ka Ara yang selalu meledak ledak akhir akhir ini. Dari artikel yang ku baca Sindrom anak tengah Ini biasa terjadi dalam suatu keluarga. Penyebabnya, pola asuh yang salah tapi tidak disadari oleh para orang tua. Sindrom ini terjadi karena orangtua membeda-bedakan, baik perhatian, kasih sayang, dan lainnya antara si sulung, si tengah, dan si bungsu. Perhatian yang berbeda itu menimbulkan karakter dan tingkah laku yang berbeda pada setiap anak. Astagfirullah…bisa jadi karena factor ketidak sengajaan saya pernah dan bahkan sering melakukannya. Terbayang saat kaka Ara marah, menangis, merengek lalu kecewa saat banyak keinginannya yang tanpa sengaja tidak bisa saya kabulkan. Saat jealous ke adiknya timbul, Ara selalu merengek minta di gendong, di temani nonton, di temani baca buku, bermain, belajar dsb. Tak jarang dia sesenggukan di samping saya minta di keloni terlebih dahulu, memohon agar wajah dan badan saya hanya menghadap kearahnya saja, sementara saya sedang tanggung memberi ASI adiknya. Ahh…..Ara sayang maafkan mamah nak. Mamah masih juga belum terlatih menempatkan waktu. Sebenarnya Ara istimewa sekali di hati mamah. Ara adalah anak gadis kesayangan mamah. Insya Allah nak ya …mamah dan papah akan belajar lebih keras lagi membagi waktu dan kasih sayang, sehingga tidak ada lagi anak anak mamah yang merasa tidak di prioritaskan. Dan mamah akan memulai dengan bilang, “Ara...adalah anak gadis kesayangan mamah, Ara adalah anak baik kesayangan mamah, Ara tau itu kan?” Awal February 2008 Catatan mamah : Setelah discuss ke papah tentang fenomena Ara ini...Alhamdulillah kita sepakat Ara harus lebih mendapat prioritas untuk urusan cinta ini, makin sering dapat bisikan cinta dan berbagai treatmen cinta lainnya. Alhamdulillah...kini Ara menjadi anak gadis sholeha dan menyenangkan lagi, enak di ajak curhat dan mulai mengerti dan mau menjalani hal hal yang berkaitan dengan peraturan dan konsekuensi. Bahkan home schoolingnya mulai lancarrrrrr lagi...Alhamdulillah...segala Puji Bagi Allah....25 Feb-08
“Mamah waktu aku kecil pernah makan tai cicak ya ?. Iya…kaka Alief sama Ara juga sama kayak de Rizqy pemakan segala. Kalau aku pernah ngusap muka ku sama pipisku sendiri kan mah, kata kaka ara tak mau kalah juga”. Ha…ha..ha.. tawa kami berempat pun memenuhi ruangan. Obrolan ini seringkali terjadi manakala mereka melihat adiknya sedang memakan apa saja yang tersebar di lantai maupun di sudut sudut ruangan, tidak terkecuali remote, handphone, sampah atau jempol kaki kita yang seringkali menjadi sasaran gigitannya. Lain waktu saat saya sedang menggendong de Rizqy, melantunkan surah surah dengan wajah cemas dan sedih, sambil air mata menetes melihat de Rizqy yang sedang demam tinggi, mereka ikut pula berempati menolong sana sini sambil mendoakan adiknya ini. Mereka jadi bisa membayangkan begini juga yang mamahnya rasakan, yang mamahnya lakukan sewaktu mereka sakit ketika masih bayi dulu. Apalagi kak alief ketika umur 4 bulan pernah di rawat 2 minggu, dan kaka Ara saat berumur 8 bulan pernah di rawat satu minggu, dengan kasus yang sama demam tinggi. Atau saat aku dan papahnya sedang memeluk, mencium dan menyayangi de Rizqy. Saat pura pura marah setiap ade menggigit saat di beri ASI, saat semua luapan sayang dan cinta sedang kami curahkan pada si bungsu ini. Selalu dan selalu ada pertanyaan dari kakak kakaknya, “mah…waktu aku masih bayi di sayang juga kayak de Rizqy kan..?” tanya mereka sekaligus menegaskan. Subhanallah…Alhamdulillah…Allahu Akbar….Allah yang maha Rahman dan Rahim, memiliki banyak cara indah untuk memperkenalkan kasih sayang pada hambanya. Dari seorang de Rizqy yang baru genap satu tahun ini, bisa memberikan pengetahuan tidak hanya verbal tapi visual tentang bagaimana kakaknya Alief dan Ara di timang dan di sayang oleh kedua orang tuanya ketika mereka masih bayi dulu. Cerita masa kecil adalah salah satu favorit di rumah kami, dan Allah memudahkan kegiatan ini lewat senyuman, dan tingkah laku de Rizqy. Selamat milad yang pertama anakku sayang…..biarlah senyumanmu selalu berpendar di setiap ruang, mengisi dan menyirami cinta di hati kami, selalu. Amien...
Balikpapan 16 December 2007
Pulang kantor Alhamdulillah Allah memberi rezeki hingga bisa beli sirup dan keperluan sahur lainnya. Kebutuhan yang paling utama adalah sirup karena untuk buka sudah berapa hari mengidamkan es blewah begitu juga dengan ka Ara. Namun karena sirupnya belum ada, jadi keinginan berhari hari tertunda. Begitu datang yang paling antusias kaka Ara, langsung pengen di buatkan es blewah sama bule nya. Nah ..disinilah kehebohan di mulakan. Setelah di beri satu gelas seorang, kaka Ara dan mas Putra (anaknya bule Ani). Rupanya kaka Ara mulai salah paham ketika panci es blewah di cuci bule Ani. Di kira es blewahnya sudah habis semua. Kaka Ara secara tiba tiba langsung teriak, dan ngomel, intinya dia enggak mau lagi ngasih mas Putra es blewah, enggak mau teman lagi dan seterusnya. Kita yang dengernya aja kaget semua. Penjelasan bule Ani, nasehat mamah enggak ada yang mempan. Teguran kaka Alief agar ade sopan dan tidak berteriak, tidak juga di indahkan. Sampai kaka bilang begini ke bule nya, “Bule…daripada di marahin, di teriakin kaka Ara, bule cepet cepet pulang aja”. Alhamdulillah mas Putra yang baru bangun tidur, enggak terpengaruh, asyik aja minum es blewahnya di temanin baby Rizqy. Sampai ada kata kata kaka Ara yang makin mengagetkan dan bikin aku terpancing juga, “huh…aku enggak mau teman…awas nanti ku pukul pake pisau”. Aih..mau enggak mau si mamah marah juga. Itu bahasanya dapat dari mana, seingatku sudah dua hari ini bahasa kaka Ara aneh begini. Menurut informasi dari papah, gara gara berteman sama teman barunya “F”, gadis cilik yang rumahnya di ujung sana. Sampai menjelang pulang, bujukanku agar minta maaf ke Bule dan mas Putra enggak mempan juga, kaka Ara tidak bergeming dari tempat duduknya. Ingat sama seminar kemarin, aku nyoba praktekkan satu tips Teknik Merubah Perilaku yang di berikan bp Novian Triwidia Jaya (penulis buku Super Mom), yaitu tekhnik Tatapan Berbagai Makna, suatu tatapan datar yang tiada hasrat apapun di dalam pikiran, seperti tatapan kosong tetapi ini tidak. Tidak melotot dan tidak untuk menekan anak. Dan kita tetap focus kepada anak kita yang sedang bertingkah laku tidak baik. Masalahnya adalah saat ku berikan “Tatapan Berbagai Makna” ini, kaka Ara ikut menatap ku juga, entah karena mamahnya kurang latihan atau emang kaka Ara nya pikaseurieun (lucu mukanya), si mamah malah nyerah dan tak kuat untuk tidak menahan senyum. Akhirnya gagal total deh tipsnya, lagian menurut pak Novia juga perlu latihan jadi wajar saja si mama di KO begini. Yang jelas aku pake cara lain, ini gurunya bunda Neno, diem dan cuek tapi enggak marah. Alhamdulillah berhasil (udah pengalaman soalnya), lama lama ka Ara tak enak hatinya, apalagi di lihatnya mamahnya ngelus ngelus sama meluk de Rizqy dan kaka Alief. Kaka yang lagi duduk di ruang tamu, mendekat perlahan, lalu minta maaf. “mah…maaf ya, aku pengen di peluk mamah” begitu katanya pelan sekali. Si mamah yang biasanya langsung luluh, kali ini tahan harga sejenak. “iya mamah maafkan, tapi sebenarnya kaka harus minta maaf dulu sama bule, soalnya bule itu sedih lho ka anaknya di teriakin begitu sama kaka. Mamah juga bisa sedih banget kalau kaka Alief, kaka Ara atau de Rizqy di teriakin, di marahin sama orang lain”. Kaka Ara diam, menunduk, rupanya marahnya sudah selesai, lagian blewah di gelasnya juga udah abis. Si mamah pun tak kuasa untuk tak memeluk anak gadis kecintaannya ini, apalagi ia sudah berjanji esok akan minta maaf dan meluk bule Ani. Pagi tiba…penasaran sekaligus berdoa semoga kaka Ara tidak lupa untuk memenuhi janjinya. Ning nong…Assalamualaikum…bel berbunyi, “kaka Ara masih ingat enggak sama janji yang kemarin,” aku berusaha mengingatkan. Pintu di buka..lalu ku lihat kaka Ara tersenyum berlari menuju bule Ani, meminta maaf, mencium tangannya kemudian memeluknya sambil berjanji tidak akan mengulangi lagi (Insya Allah). Bule Ani tersenyum memandangku, aku pun membalas dengan mengedipkan mata. Alhamdulillah..lega lah sudah, “Ayo kak Alief..waktunya kita berangkat sekolah”. Dan mataharipun menyambut pagi, cahayanya menembus sampai ke dada kami. Alhamdulillah hi robbil alamin. Pagi yang indah, 20 Septmber 2007
9 September 2007 Sore hari kaka pulang di antar ayahnya mas Rafli dan de Hisyam. Aura bahagia sudah terpancar di wajahnya, sambil mengerjakan English home work bersama papahnya, membuat miniature mesjid dari karton bekas susu, kaka Alief cerewet dan sibuk berbagi cerita pada kita semua, tentang apa saja yang sudah di lakukannya di rumah keluarga mas Rafly dan de Hisyam sahabat barunya. Kaka juga cerita mengenai keseharian sahabatnya di sana, ada beberapa advise dari kita, agar hal hal yang baik tentang sahabat barunya boleh di ceritakan dan yang kurang baik agar tetap menjadi rahasia dan tidak di tertawakan, karena kaka sendiri mempunyai kekurangan. Alhamdulillah..kaka mengerti mengenai hal ini. Untuk aku pribadi, harus berusaha menahan diri untuk tidak banyak bertanya, karena aku mempunyai waktu yang istimewa untuk ngobrol atau bercerita tentang pengalamannya ini, Ya malam hari saat menjelang tidur, adalah waktu yang paling tepat dan indah untuk kami berdua, bercerita tentang apa saja. Saat yang di tunggu tiba, doa doa baru saja di panjatkan, lampu telah lama di matikan, kami bertiga, aku, kaka Alief dan Ara (baby Rizqy telah lama terlelap) mulai merajut malam dengan obrolan. Kak Alief, mamah bahagia sekali hari ini, menurut tante Susi kaka Alief Alhamdulillah sholeh selama menginap di rumah mereka, mau mentaati peraturan dan bersikap baik, mamah bangga sekali, terus mamah mau di ceritain lagi dong, senang enggak nginep di rumahnya mas Rafli. Senang mah, aku di ajak ke mall fantasi, terus di beliin pesawat, mas Rafli beli robot, tapi kalau de Hisyam enggak di belikan soalnya enggak mau di potong rambutnya. Mah aku juga di potong rambutnya, enggak apa apa ya. Iya mamah tahu, enggak apa apa kok, ada hal tertentu yang kaka boleh memutuskan sendiri, lagian kaka jadi tambah rapih dan cakep mukanya. Terus di rumah tante susi peraturannya sama enggak dengan di rumah kita, kak. Wah tante Susi peraturannya banyak sekali, aku sampai enggak ingat, enggak bisa menyebutkan. Kasih mamah contoh satu aja kak. Enggak bisa mah peraturannya banyak sekali, aku enggak ingat. Coba ingat ingat, misalnya tentang nonton. Oh iya pokoknya enggak boleh nonton sinetron sama main play station kelamaan, itu aja yang aku ingat. Yang lainnya, kak. Enggak ingat mah. Rupanya kaka enggak terlalu antusias menceritakan peraturan ini, lagian emang membosankan, lagi bahagia kok ditanya masalah peraturan, waktunya untukku mencari alternative lain agar kaka mau makin terbuka. Trus kak…menurut kaka rumahnya tante Susi itu gimana. Wah mah…asyik aku mandi di kamarnya tante susi, ada bak yang gede, begini mah bentuknya (kaka berdiri sambil mencoba mendisplaykan bentuk bak nya tante susi dengan kedua tangannya), besar mah kayak yang di mall fantasi. Maksud kaka tante Susi punya kolam renang gitu. Bukan, bak mandi besar, kita bisa berenang. Oh itu kayaknya namanya bath tub kak. Kaka pun terus bercerita mengenai detil rumahnya tante Susi. Kemudian beralih ke rumah Eyang nya mas Rafly, bercerita masalah arisan, dan seterusnya dan seterusnya. Sampai di penghujung cerita, ada yang membuat aku takjub tak terkira, susah sebenarnya untuk menggambarkannya, kaka menurutku “makin BIJAKSANA”, semoga kata ini bisa mewakilinya. Mah menurut aku tante susi itu kaya Harta lho. Oh ya…Subhanallah..kok kaka tau kalau tante Susi itu kaya Harta. Iya…tante Susi punya mobil, trus mas Rafly sama Hisyam punya play station, punya lemari mainan, banyak lah pokoknya. Oh…begitu, jadi tante Susi menurut kaka cuma kayak Harta aja ya, tanya ku makin ingin tahu. Eeemmmm…tapi ku pikir pikir tante susi juga kaya Hati mah. Alhamdulillah…Subhanallah kaka tau dari mana kalau tante Susi kaya Hati. Tante susi menurutku orangnya baik. Kalau menurut kaka, kalau kita, kaya nya kaya apa kak. Kalau kita kaya Hati aja mah. Mah kapan ya kita kaya Harta juga seperti tante Susi. Insya Allah nak…kalau kaka sholeh, pinter dan besar nanti, mamah doakan, kaka kaya Harta juga, jadi bisa menolong orang yang enggak punya. Sekarang kaka kaya Hati dulu, besar nanti di tambah sama Allah jadi kaya Harta, mamah doakan ya nak. Amien Ya Robbal A’lamin. 10 September 2007 Dua hari berlalu, namun keantusiasan kaka tentang tante Susi, Mas Rafly dan de Hisyam masih juga belum selesai. Malam ini saat menjelang tidur malam, obrolan kaka temanya masih tentang mereka. Topik malam ini yang paling banyak di bicarakan mengenai berapa banyak gajinya tante Susi, berapa banyak gajinya mamah. Kenapa tante Susi kaya Harta sedangkan kita hanya Kaya Hati. Setelah ku berikan gambaran lagi tentang tetangga Enin Aki nya di Babulu, betapa rumah mereka sangat sederhana, ada yang enggak punya tv, enggak punya motor, makan juga enggak pakai ikan dst. Dan betapa kita harus bersyukur karena kita sebenarnya lebih kaya segala galanya di bandingkan dari orang orang Transmigran di kampung Enin dan Aki sana, kaka mulai mengerti, diam dan tidak membahas masalah kaya Harta lagi. Namun di ujung malam, aku jadi mengerti mengapa kaka memulai obrolan dengan masalah gaji dan kaya Harta, rupanya ada udang di balik batu, diam diam kaka mempunyai maksud tertentu, permintaannya minimal menjelaskan padaku. Mah bisa kah kalau mamah gajian nanti ngambil uang di ATM nya banyak, sampai berjuta juta pokoknya. Lho memangnya untuk apa. Aku pengen di belikan lemari seperti punya mas Rafly, terus nanti aku mau nyimpan koleksi mainanku di sana. Subhanallah…terpaksa mamahnya berpanjang lebar lagi tentang masalah ngambil uang di ATM, bagaimana kondisi keuangan kita, dan apa saja prioritas yang harus di beli setiap bulannya. Untuk masalah ATM dan Bank, imajinasi kaka tetap sama, kita bisa mengambil uang sebanyak yang kita mau atau minta. Ha..ha.. jika saja seperti itu, wah mamahnya bisa membeli dunia dengan sekali klik saja. Sementara kaka Ara yang lagi demam, tidak seperti kemarin malam, tidak berselera untuk ikut nimbrung obrolan, diam, mendengarkan dalam pelukan. Allah…Subhanallah anak anak ini, imajinasi mereka begitu ajaib. Segala puji bagi-Mu ya Rabbi…Engkau berkenan membuat hatiku menyaksikan dan mendengarkan suara hati mereka. Amien … Noted : - Diary ini…ku persembahkan buat tante Susi, sebagai oleh oleh dari kami. Insya Allah tidak di ada adakan ….and Thanks a lot for your kind attention and everything you have share with my family.
- Masalah kaya Harta dan Kaya hati sudah mulai ku perkenalkan pada anak anak saat pindah rumah, tahun 2004 lalu, ketika mrk mulai mempermasalahkan & ngecengin rumah tetangga yang punya mobil dan tangga (rumah yang bertingkat). Mau tidak mau kami harus ekstra ngebahas hal ini, apalagi mobil tetangga yang tadinya satu jadi dua, wah kaka makih heboh aja. Geli geli gimanaaa.. gitu ngeliat tingkah polah mereka. Istilah rumput tetangga lebih hijau, ternyata tidak berlaku untuk orang tua saja, anak anakpun tak mau kalah juga.
Empat tahun sudah berlalu Lihat sekarang dirimu Bayi merah..mungil nan lucu itu Menjelma menjadi Gadis cantik kesayang ku Yang paling rajin memungut sampah Yang selalu memasukkan sepatu yang berserak di luar rumah Yang selalu membela kakak bila di marah mamah Yang selalu mengingatkan kita tentang apa saja Hatimu yang mudah ber empati Semoga menjadikanmu kelak seorang yang PEDULI Tangan mungilmu yang rajin membantu Akan memberikan kekuatan untuk membantu orang dibawah mu Cinta dan sayang mamah kan menemani mu selalu Anak ku Gadis mungil ku Belahan jiwa ku Selamat Milad kaka Ara sayang……(Balikpapan 4 September 2007) Note : Ultah kaka Ara kali ini kita rayakan dengan sederhana sekali. Tidak ada kue tart pavoritnya, walau papa sudah bersedia membuatkan namun bahannya tak juga kunjung datang. Namun Alhamdulillah masih ada balon balon kesukaannya juga hadiah baju, krayon dan kertas lipat yang di inginkannya. Saat matanya yang di tutup tangan papah di buka, satu dua tigaaaaaaaaaa….surprisedddd…teriak kita semua. Ku lihat senyum…tawa bahagia mengembang di raut wajahnya. Alhamdulillah..segala puji bagi-MU Allah…hamba bersyukur atas nikmat yang tak henti henti Engkau berikan kepada kami. Amien Ya Robbal A’lamin.
Pulang kerja, lalu menjemput kaka Ara di rumah sakit yang kebetulan di antar sama papah nya sore tadi, sekalian menjenguk teh Lia, adik ku yang mendapat musibah di serempet motor di Babulu tiga hari yang lalu, dan sekarang sedang di rawat di RSU Balikpapan. Lelah baru terasa hari ini, karena harus bolak balik kantor-RSU-rumah dari tiga hari kemarin. Sampai di rumah tidak seperti biasanya, kali ini aku di sambut tangisan keras kaka Alief, malah bisa di bilang nangis hebat lah, karena pake acara teriak teriak segala. Yang jelas tangisan kerasnya langsung nembus ke jantungku, dan naluri seorang ibu mengatakan, ini tangisan yang luar biasa kerasnya berarti luar biasa juga kesalnya. Setelah dapat keterangan dari bule, mafhum lah aku mengapa kaka murka seperti itu. Rupanya ada miscom dengan papahnya sore tadi, papah bilang kaka alief jenguk teh Lia nya nanti saja sama mamah. Maksudnya nanti, ya bisa besok karena hair ini papahnya harus kerja. Sedangkan kaka Alief mengartikannya, sore nanti pulang kantor mamah ke rumah dulu jemput kaka, abis itu baru ke rumah sakit sama sama. Makanya semenjak jam empat sore kaka udah mandi sendiri, plus pake baju rapih jali, belum lagi kaka udah kangen berat sama teh Lia, karena semenjak teh lia masuk rumah sakit, kaka belum berkesempatan menengoknya. Astagfirullah hal adzim….mamah minta maaf ya ka, kayaknya ada miscomunikasi sama papah, pasti kaka kesal sekali ya sampai nangisnya keras begini, aku memeluknya erat sekali. Ada dua anak yang saat itu merajuk di pangkuanku, satu si sulung satunya si bungsu. Yang satu pengen diantar ke rumah sakit sore itu juga, yang satunya merengek pengen nenen, sama, detik itu juga. Si bunda beristigfar kebingungan, sedangkan kaka Ara terdiam di kursi depan, wajahnya khas sekali, ciri anak yang tidak enak hati. Makanya dengan sukarela kaka Ara menawarkan jatah makanannya ke kaka Alief, sambil berusaha nenangkan tak lupa nasehatnya yang panjang lebar keluar, “sabar kak, enggak bisa sekarang, nanti de Rizqy nya enggak ada yang jaga kalau ke rumah sakit sekarang, ini permenku untuk kaka”. Huaaaaaaaaaaaaa…huaaaaaaaaaaaaaaaaaa…aku kerumah sakitnya pokoknya mau sekarang, permennya aku mau yang orange sama merah. kaka Alief makin mengeraskan volume suaranya, tapi jadi mengambil kesempatan dalam kesempitan akan kebaikan adiknya. Setelah tau mamahnya tidak bisa di bujuk untuk pergi ke rumah sakit, kaka Alief menggunakan cara kedua. Banting pintu, masuk kamar kemudian matikan lampu, sembari melanjutkan tangisannya namun suaranya tidak segarang tadi, lebih lirih atau bisa jadi karena ia sedang membenamkan wajahnya di bantal. Melihat kaka seperti ini, aku hanya beristigfar, Ya Rabb…kok stylenya persis kalau aku lagi ngambek sama papahnya ya, Astagfirullah hal adzim…kaka alief benar benar menyontek abis rupanya. Karena aku yang menularkan virusnya, jadi aku tau cara menanganinya. Tok..tok..tokk…kaka kecewa berat ya, I am really sorry kak, I love you kak….kalau udah ilang marahnya, pls bilang ya nanti mamah peluk lagi. Sepuluh menit kemudian, To..tok..tok…kaka pls open the door, mamah mau sholat, kaka alief sholat sama mamah ya. Enggak mau, aku mau sholat sendiri aja, mamah sholat di luar aja, yang boleh masuk ke kamar sini cuma de Rizqy, yang lainnya enggak boleh. Nada suaranya masih kesal, tapi marah yang mengganjal di dadanya mencair perlahan. Setelah kami semua selesai sholat di kamar masing masing, kaka Alief mulai tak nyaman di kamar sendirian, pintu di buka perlahan, mukanya melongok sebentar, mulut masih cemberut tapi air mata sudah berhenti total. “Mah…aku enggak kesal lagi, asal aku di bolehkan main computer sebentar aja”. Oke…no problem, satu jam ya kak…abis itu baca buku, dinner lalu sholat Isya. Alhamdulillah…..Horreeeeeeeeee…..kemarahan di dadanya habis sudah. Bonus dari mamah karena kaka alief sudah jadi anak sholeh malam ini, kita main catur sampai dua ronde, score nya satu satu. Bonus dari kaka karena sayang sama mamah plus ngerayu mamah yang sempat marah sebelumnya gara gara masalah komputer, dia membacakan surah As Syam. It’s so surprised to me, rupanya saat mamah menghapalkan surah ini beberapa waktu lalu, kaka Alief diam diam menyimaknya juga. Sedangkan bonus dari papah, papah melanjutkan cucian mamah sampai selesai dan Insya Allah besok selepas Maghrib, papah bisa jaga de Rizqy dan kami bertiga bisa menengok teh Lia di rumah sakit. Allah Hu Akbar…..Hemmmmmmmmm….hari yang sungguh melelahkan, namun happy ending tetap bisa tercapai. Alhamdulillah…wahai Allah yang Maha Rahman dan Rahim. Ya Rabb…Ya Muqollibal Qulub…Wahai Allah yang membolak balikkan hati. Istiqomahkan selalu hati hamba untuk selalu membimbing amanah-Mu di jalan yang Engkau Ridhai. Amien……. Bangun Reksa Asri, August 29 2007
Weekend kali ini luar biasa berkesan bagiku, makanya sayang kalau jejaknya tidak segera di tuliskan, takut keburu hilang. Friday 10 Aug 2007 Jum’at malam aku sudah memberi pengumuman ke anak anak, kalau besok mereka akan ku ajak pergi, pertama ke mesjid Nurul Salam menghadiri acara bedah buku from Zero to Hero yang diadakan dalam rangka memperingati Isro Miroj nabi Muhammad Saw, yang kebetulan motivatornya tante Eka adalah teman liqo dan yang ke dua memenuhi janji yang sempat ter delay beberapa kali, pergi ke taman bacaan “Rumah Cerdas” dan terakhir pergi ke Bandung Toys sebagai bonus buat mereka sekalian nyari kado buat ultahnya teman kaka. Sebelumnya aku meminta anak anak membuat Journal Vacation, kegiatan ini asli dapat contekan dari rumah nya tante Agnes di http://agnes.ismailfahmi.org (thanks ya teh..jadi ter inspirasi nih). Hanya saja kalau mba Lala sama Aik ngisi journal vacation saat mereka keliling Europe, nah kalau kaka Alief & Ara bikinnya ya di seputar Balikpapan aja, Insya Allah nilai kemanfaatannya sama besarnya. Setelah ku jelaskan maksud dan tujuan ngisi Journal Vacation ini, kaka Alief menuliskan kalau di mesjid Nurul Salam mau ngitung pintu dan jendela mesjid, sedang kaka ara idem ditto sama kakanya. Di taman bacaan “Rumah Cerdas” kala Alief mau baca komik Islam, terus kalau kaka Ara mau lihat ikan.. Nah…yang ini yang lumayan sulit, pergi ke Bandung Toys tapi hanya membeli bloks games sama hadiah untuk Ultah temannya kaka. Sempat tarik ulur dan bersilat lidah, pokoknya aku mengungkapan segala perbendaharaan kata agar mereka mengerti keuangan terbatas dan hanya yang paling bermanfaat yang harus di beli, akhirnya mereka setuju walau dari raut muka kelihatannya agak kecewa. Saturday, 11 Aug 2007 Sampai di mesjid Nurul Salam, kaka Alief langsung ngisi buku journalnya, menghitung pintu dan jendela mesjid, pas ku cross check Alhamdulillah benar. Kalau de Ara, ya gitu deh suka suka ngitungnya. Setelah itu mereka langsung kelalang keliling, mainan sambil sesekali dengerin acara bedah bukunya. Di pertengahan acara anak anak tetap di jalur yang benar, malah ibunya yang mulai terbujuk rayuan, ngiler pengen punya buku Zero to Hero nya Solikhin Abu Izzudin ini. Sempat discuss sama anak anak mohon keridhaan mereka untuk meng cancel beli block games yang udah di sepakati di rumah. Anak anak cemberut tidak ridha. Buku tetap ku pegang sambil berdoa ya Allah pengennya punya buku ini, mana sayang ada disc 10% kan jadi nya cuma bayar 27.000, mana ini harga Jakarta lagi, pasti lebih murah daripada beli di Gramdi kalau punya uang nanti, membatinlah diriku sambil memandangi buku yang ku pegang, tiada henti. Sampai di penghujung acara buku tetap ku pegang, masih sayang, tidak mau ku lepaskan (asli kayak anak anak juga). Sampai tibalah acara tanya jawab, kaka Alief yang kebetulan lagi di sampingku, minta izin pengen ngacungkan tangan (kayak yang tau jawabannya aja), tapi aku ngelarang ternyata ini acaranya anak SMA, kita enggak boleh ngacung, lagian malu kan. Kaka Alief enggak terima, unfear katanya, rupanya dia ngiler juga sama hadiahnya. Sampai di pertanyaan terakhir, karena anak SMA nya enggak ada yang bisa ngejawab, pertanyaan langsung di lempar ke umum. Aku langsung sontak mengacungkan tangan ketika pertanyaan “Siapa pengarang buku Zero to Hero” itu di ajukan. Alhamdulillah akhirnya dapat juga hadiahnya, dan begitu ku buka Surpriseeeeee…Subhanallah ternyata buku yang ku idamkan yang jadi hadiahnya, Allahu Akbar…Alhamdulillah ya Allah, rupanya dari tadi aku megangin buku ini emang udah di setting sama Allah maksud dan tujuannya, he..he.. kalau udah rezeki tak akan kemana. Dari acara bedah buku kita langsung menuju rumah baca, kita habiskan waktu selama satu jam di sini, kaka Alief sempat menamatkan dua buku “Asal mula Mie” dan “Asal mula Garam”, selebihnya hanya memegang dan membolak balikkan buku saja, dan Alhamdulillah sempat sholat Dzuhur sendirian di Mushola terdekat. Kalau kaka Ara tidak terlalu tertarik baca buku karena jumpa teman sekolahnya, jadi langsung asyik mainan saja. Perjalanan kita tibalah di akhir tujuan, pergi ke Bandung Toys, sempat deg deg an juga sambil terus mengingatkan anak anak tentang agreement yang udah di sepakati di rumah. Seperti biasanya, sempat bersilat lidah juga karena like mother like children, anak anak sempat ngiler dan tergoda untuk mengingkari deal yang telah di sepakati, bahkan kaka Alief sempat menitikkan air mata, namun Alhamdulillah bisa di bujuk dengan catatan kalau mamah sudah gajian mereka di bolehkan mampir ke sini lagi. Alhamdulillah acara yang paling menegangkan ini berakhir tanpa hambatan yang berarti. Jam empat sore kita pergi ke acara Ultah, karena tidak tega, Putra anak bule ngasuh di ajak serta. Dan di penghujung hari ini Allah masih berkenan memberi membahagiakan hatiku Tanpa ku kira saat acara permainan, kaka Ara tanpa di minta mengacungkan tangan maju ke depan (ya Allah…surprise sekali, tak di kira, tak di nyana anak gadisku yang dulunya pemalu, berani tampil di depan menyanyikan salah satu lagu “satu satu aku sayang ibu” andalannya). Kejutan kedua datang lagi saat kaka Alief tak mau kalah, ngacungkan tangan, maju ke depan, kemudian menjawab pertanyaan yang diajukan oleh badut “Mickey Mouse” yang jadi Hot guess hari itu. Total kita bertiga hari ini dapat hadiah gratis semua, Alhamdulillahi Robbil A’lamiin. Malam hari saat papah tiba, berhamburanlah semua cerita mengesankan yang terjadi hari ini, tak ada yang mau kalah, enggak anaknya enggak ibunya berebutan bercerita. Dan tak mau kalah juga, papah memberi hadiah special untuk kita bertiga, masakan “udang mentega” ala papah. Kaka Ara sampai order lagi dan terpaksa papah masak untuk yang kedua kali. Sedangkan kaka Alief ngucapin terima kasih yang berkesan buat papah, “mah…masakan udangnya enak, papah baru pertama kali masak seperti ini, berarti selama ini papah punya resep rahasia ya”. Hemmmmm..papah yang denger tersenyum juga akhirnya… Alhamdulillah ya Allah…segala puji bagi-Mu, atas limpahan karunia dan rezeki yang Engkau berikan kepada kami hari ini. Jadi kan kami orang orang yang tidak lupa dan selalu mensyukurinya. Amin. Saat cahaya berpendar ke seluruh ruang hatiku, Balikpapan 12 August 2007 
Papap sudah pulang membawa oleh oleh sekeranjang cinta dan hadiah istimewa untuk anak anak, buku tentu saja. Lumayan banyaklah pokoknya..dan yang terpenting harganya murah namun qualitasnya oke punya, papap katanya beli bukunya di emperan pas lagi di Rumbai-Riau kemarin. Hanya empat buku yang ku beritahukan ke kaka, tiga seri sains untuk anak dan satu kamus bahasa Inggris. Yang lainnya ku umpetin dulu, tunggu timingnya bagus baru ku keluarin biar tetap surprised bacanya. Tiga buku sains nya mulai di buka buka sama kaka, sesekali ku lihat di bacanya juga, sedangkan de Ara sukanya masih megang megang doang, trus bukunya selalu di dekap erat tanda itu miliknya, namun sesekali bertanya juga. Nah tadi malam saat sedang makan malam, tanpa di sengaja dan di luar scenario tentu saja, tiba tiba papa yang lagi asyik makan kepiting ditanya sama kaka, “pap.. bahasa inggrisnya kepiting itu apa”, papap yang masih asyik dan serius banget, Alhamdulillah langsung nyaplok kesempatan bagus ini, yah pucuk di cinta ulampun tiba gitu lah. “wah apa yah…coba cari di kamus kak, buka di bagian bahasa Indonesia, trus cari di huruf K”, jawab papahnya. Kaka pun dengan semangat langsung ngambil kamus yang lumayan tebal itu, pertama kesulitan tapi kita sabar nge guide nya. “crab pah…lho itu kan nama kura kura kita, tn. Crab kan temannya sponge bob juga” kata kaka alief surprised. Lalu dari pertanyaan yang awalnya tak di sengaja ini akhirnya jadi acara ngumpulin vocab, sekalian latihan cara nyari arti kata di kamus. Dan yang paling bikin aku bahagia, mereka berdua sebenarnya sedang belajar namun mereka tidak menyadarinya. latihan yang kedua di suruh nyari cacing, abis itu burung. Malam ini cukup nyari tiga kata saja, soalnya kaka kelihatan lelah apalagi tulisan di kamus kan kecil kecil, belum lagi di ganggu terus sama kaka Ara, yang nggak mau kalah juga dengan kakanya. Setelah acara makan selesai, kaka Ara langsung minta di kelonin sama papahnya, sedangkan kaka Alief meminta aku untuk ngelanjutin acara membaca kamusnya, tapi kaka maunya dengerin aja sambil tiduran dan bikin karya dari blok kesukaannya. Sambil ngapalin vocab, tak lupa..aku selingi dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan kegiatan di sekolahnya, miss Ade dan ibu Siti masuk juga dalam obrolan kami (ceritanya di buat di judul lain saja). Dan tanpa terasa, lebih dari tiga puluh vocab sudah di sebutkannya, sampai akhirnya ia terlelap dalam tidurnya….zzzz..zzzz.. Alhamdulillah ya Allah…Engkau tuntun kami, Engkau mudahkan belajar kami malam ini. 26 July 2007 ***
Sudah hampir tiga bulan kaka Alief mengidam idamkan GLOBE. Awalnya ia melihat di sekolah TK nya dulu, terus ngeliat juga buku PETA dunia, abis itu tiap pulang ke rumah mulai dari obrolan, tulisan, prakarya sampai gambarnya selalu tentang peta dan bendera berbagai Negara. Menulis atau ngegambar di mana saja, mulai dari buku tulis, di kertas kwarto, Folio, sampai sampai pas liburan ke rumah Enin & Aki nya di Babulu kemarin, kaka menghadiahkan aku sebuah peta dunia yang di gambarnya di kertas berwarna ukuran A3. Tipikal kaka memang seperti itu, misalnya dia lagi gandrung sama Nasyid Raihan, ya udah semua tulisan, gambar, nyanyian dan obrolannya pasti temanya tentang Raihan, kalau udah dapat kesukaan lain, baru berubah lagi. Kemarin, ceritanya aku ngisi acara bercerita di launching rumah baca yang di gelar serentak oleh PKS dalam rangka hari anak nasional. Dari pagi hujan sudah mengguyur Balikpapan deras sekali, padahal rencananya sekalian mau bawa Alief dan Ara. Jadi sambil ngejalanin amanah, sekalian sambil ngajak main anak anak, dan Insya Allah bermanfaat plus tidak keluar biaya pula. Namun apa di kata, hujan tak mau reda, jadi aku berangkat sendiri karena tugas sudah menanti, dengan janji setelah itu aku akan bawa mereka jalan jalan nanti. Jam 12:00 siang, acara sudah selesai, namun hujan belum juga reda, se sampai di rumah ku lihat kaka Alief dan Ara masih tetap sabar menanti, pakaianpun sudah rapi jali. Aku yang berniat meng cancel acara jalan jalannya jadi tak tega juga. Akhirnya sebelum pergi ritual kompromi di mulai. Ceritanya kaka Alief sebelumnya di kasih uang sama enin Ety & om Rino Rp. 30.000, sebelumnya lagi 40.000, sebelumnya lagi 5000 (makanya dia ngotot banget pengen jalan ke mall, soalnya ngerasa sudah punya uang banyak). Uang tersebut sebenarnya cukup buat beli buku, trus beli mainan ke serba lima ribu, terus makan chaki di kfc. Namun yang belum kaka tau, sebagian uang sudah aku pake, aku juga minta maaf enggak izin dulu, abis aku pikir minggu depan udah gajian dan uangnya bisa aku ganti, walau dengan muka cemberut kaka Alief berusaha ikhlas juga. Sedangkan kaka ara yang belum terlalu ngerti situasi dan kondisi, sibuk menerka nerka apa saja yang ingin dia beli, “Mah…aku kalau sampai ke Mall nanti aku pasti lapar”, katanya dengan muka melas, lucu deh pokoknya, itu artinya sebagai sign untuk sang mamah kalau makan di kfc wajib masuk dalam daftar jalan jalan nanti. Kesimpulannya kita bertiga sepakat, apa saja yang akan di beli dengan uang mereka yang sebesar Rp. 30.000 itu. Sebenarnya aku masih ada persediaan 20.000 plus uang ribuan, untuk jaga jaga saja, tapi tentu saja ini masih rahasia. Sesampai di Ramayana kaka Alief langsung melesat ke toko buku, sedang aku sibuk peluk, cium dan gosok gosok tangan de Ara yang kedinginan, soalnya kita sempat kehujanan sebentar. Antara lucu, haru, geli, mau ketawa juga melihat tingkah polah kaka Alief dan Ara, semua mau di beli, semua serba di pegang, namun akhirnya mereka sibuk berhitung juga, beli buku yang ini terlalu mahal, pengen beli catur enggak cukup uangnya, pas ngeliat Globe makin tambah ilernya, lihat crayon juga pengen. Setiap kaka menyentuh barang tak lupa selalu di lihat label harganya di belakang, setelah itu di komentari, “huh yang ini mahal” katanya sambil di taro lagi, atau ujung ujungnya “kalau mamah gajian kita kesini lagi ya”, pintanya. Hemmm…Subhanalah…Walhamdulillah aku angkat topi dan bangga dengan mereka, sabar banget menahan emosi dan enggak maksa maksa. Kalau kaka Ara sih…setelah dapat balon udah deh, merasa cukup rupanya. Jadi acara aku dan Ara hanya ngikutin saja kemana kaka Alief pergi, sambil ikut ngomentari juga, sekalian membesarkan hatinya. Tak berapa lama, Alhamdulillah akhirnya Allah ngasih jalan keluar juga buat anak sholeh dan sholeha ini. Kaka di pertemukan dengan buku PETA 33 propinsi plus dunia, harganya 16.500 plus discount 20%, dia semangat banget membuka halaman per halaman sambil terus berkomentar, rupanya dia penasaran banget pengen tau papahnya ini kalau di peta letaknya dimana. Lalu dia buka halaman propinsi Sumatera, terus dengan tangan nya dia telusuri jejak papahnya, mulai dari Balikpapan-Bali-JKT- trus Riau-akhirnya sampai di Rumbai. Kami bertiga lesehan di lantai membicarakan propinsi mana saja yang sudah papah lalui dalam dua minggu terakhir ini, sebenarnya ini gambaran kalau anak anak dan ibunya udah kangen berat sama papahnya. Trus kaka beralih ke Aceh, dia ingat kejadian tsunami lalu, dia tunjuk pulau yang kena tsunami. Habis itu ke peta Amerika, Australia, Kalimantan dan seterusnya dan seterusnya. Sedangkan kaka Ara, Alhamdulillah bahagia banget dengan balon pilihannya plus buku mewarnai pilihannya seharga 3000 rp. Terakhir setelah apa yang mereka inginkan bisa di beli, dan karena melihat kesabaran dan kesholehan mereka, akhirnya uang rahasia ku keluarin juga. Horeee….. sambut mereka, kita masih bisa makan di kfc, apalagi di lihat ada irfan dan ihsan teman bermain mereka di situ. Wah…langsung deh mereka melesat pergi. Alhamdulillah….segala puji bagimu Ya Allah…atas rezeki dan kebahagiaan yang teleh Engkau limpahkan kepada kami hari ini. Amien Saat dua bintang bersinar terang di hatiku.   Balikpapan 22 July 2007. Catatan : Sampai di rumah buku PETA masih di bahas, setelah bosan baca baca, langsung minta pulpen sama kertas, trus mengelompokkan bendera mana saja yang sama dengan bendera Indonesia, malam nya sebelum tidur buku peta masih di pelototi juga. Paginya…sempat mau di baca lagi, namun ku larang karena takut terlambat sekolah, sempat tegang dan berdebat, sampai kaka akhirnya menangis kecewa. Namun Alhamdulillah sempat berbaikan dan bermaaf2 an lagi di motor. Tiba di sekolah kaka udah ceria lagi, Alhamdulillah…selamat bersenang senang ya sayang…. ******
12 July 2007 Ada kegiatan positip yang sudah lama tidak kita lakukan lagi, seingat aku terakhir kita lakukan pas aku mau melahirkan de Rizqy. Yang jelas paska melahirkan anak ketiga, aku membutuhkan waktu yang lama untuk beradaptasi dengan dunia baru ini. Terutama berkaitan dengan merawat bayi dan huru hara yang acap kali di lakukan oleh para kaka. Pada intinya semua orang di rumah belajar beradaptasi lagi, nambah anggota baru tentu saja ilmunya harus di perbaharui juga. Kegiatan positip yang udah lama kita tinggalkan itu adalah ritual “Doa Tambahan” menjelang tidur malam. Padahal Subhanallah manfaatnya banyak sekali, menambahan kehangatan hubungan cinta kami, melatih keberanian, melatih kreativitas dalam merangkai kata atau doa, memperkenalkan keimanan bahwa Allah adalah tempat kita mencurahkan segalanya, bikin hati bahagia karena di setiap doa yang di sampaikan anak anak ini, terkadang terlontar doa yang lucu yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, dan Insya Allah masih banyak manfaat lain yang justru kita sendiri tidak atau belum menyadarinya. Malam ini timing nya pas banget, papah besok mau pergi bawa anak anak didiknya lomba Marching Band di Bali, Abis itu langsung ke Riau mentraining anak anak sekolah di sana. Jadi sekalian saja aku me launching lagi “Doa Tambahan” yang sempat kita lupakan itu. Malam ini karena ada acara special jadi papap nemenin kita, berlima kami di tempat tidur berjajar kayak ikan sarden, karena lagi bahagia sempit jadi enggak kerasa, de Rizqy tidur di tengah udah terlelap dari tadi, kaka Alief di pelukanku trus kaka Ara di pelukan papap. Setelah doa tidur dan doa orang tua yang di pimpin sama kaka, trus aku lanjutkan dengan surah surah pendek, abis itu baru doa tambahan di mulai, pertama aku dulu yang berdoa, bersyukur sama Allah minta agar papah di mudahkan dan di beri kelancaran dalam pekerjaan nya, trus di lanjutkan sama kaka Alief. Nah sekarang gantian yang ngasih doa tambahan kaka Ara, kami bertiga hening, mengangkat tangan, menahan nafas pengen dengar doa apa gerangan yang di bacakan kaka Ara. Tiba tiba dengan suaranya yang manja, bahasanya yang masih cadel keluarlah doa tambahan kaka Ara untuk papahnya. “Alloh humma balik lana fima lojaktana wakina ada banner”. Semua terdiam menahan ketawa, sampai kaka alief akhirnya nyeletuk juga, “de kok doa nya mau makan sih” haaa…haa…haaa… ketawalah kami berempat. Hemm Ade…Ade… ada ada aja, tapi papah tetep bahagia kok de. 13 July 2007 Ke esokan malamnya saat ade di minta membuat doa tambahan untuk papah, dengan khusu ia mengangkat tangannya, kali ini doa yang di bacanya “Alloh humma soyyiban nafian”, doa yang selalu di ucapkannya bila hujan turun. He..he.. enggak apa apa de ya, semoga bila malam ini hujan turun di Bali, di Balikpapan atau di bumi mana saja, semoga menyuburkan dan membawa manfaat untuk kita semua. Amien. 17 July 2007 Penasaran mau tau doa tambahan yang di bacakan ade tadi malam. Sambil mengangkat tangan seperti biasa, “Alloh hummagfirli wali wali dayya warham huma kama robbayani sogiro”, Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa ke dua orang tua ku, dan sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangi aku di waktu kucil, Amien”. Alhamdulillah…Alloh hu Akbar….terima kasih anakku sayang, semoga engkau menjadi anak sholehah nak ya. Hemm…besok doanya apa lagi ya…besoknya lagi …besoknya lagi….Aahhh ade Ara, bikin gemez saja. Balikpapan July 2007 **Saat hati di penuhi cinta** Note : Papap ini sekalian laporan buat papap, mana tau bisa ke warnet.
Sepulang kerja, bagaimana daku tidak gondok coba, dari laporan bule kk Alief sudah pergi dari siang tadi, katanya ke rumah enin dan akinya. Awalnya mau ngajak bule main catur, karena bule tidak bisa makanya dia pamit kerumah aki sekalian mau ngajak aki nya main catur. Begitu aku susul eh dianya lagi bergerumbul sama teman teman besarnya, di depan teras rumah orang, disamping mesjid, lagi main catur tentu saja. Suara ngaji di mesjid rupanya belum juga menyadarkan anak anak ini, kalau maghrib sebentar lagi tiba. Seharian main, eh rupanya belum cukup juga. Di rumah enin…sehabis sholat Maghrib, pas aku lagi ngasih ASI de Rizqy, kaka diam diam pergi lagi ke rumah rian, tetangga sebelah rumah. Wah…murkalah si bunda, sambil gendong de Rizqy, nuntun de Ara, kita jemput kaka. Tapi abis it di sepanjang jalan menuju rumah…nyep…diamlah diriku seribu basa. Ceritanya lagi benar benar MARAH, gitulah… Kaka Alief yang pura pura tidak tau kalau ibundanya lagi marah, sibuk manggil manggil sambil terus ngebuntuti kemana aku pergi, ke kamar ikut ke kamar, ke dapur ikut ke dapur, aku ke kamar mandi di tongkrongin juga di depan pintu. “Mah..mah..mah.. “, begitu terus, kaka mencoba memecahkan kebisuan aku. “Mamah ini kenapa sih aku panggil dari tadi diam aja, enggak mau menjawab !?”, protes si |
|