tita's posts with tag: curhatan
Waktu istirahat kali ini aku gunakan pergi ke mall terbesar di Balikpapan, aku sudah bertekad bulat ingin membeli sepotong baju untuk diriku sendiri yang sudah bertahun tahun ini tak pernah lagi ku lakukan. Pernah mencoba hendak membeli namun daftar prioritas anak dan rumah tangga selalu bikin gagal rencana awal, selebihnya karena banyak baju yang tidak cocok ..he..he..tidak cocok di kantong maksudnya . Dan hari ini, berhasil berhasil…horreee..aku berhasil membeli sepotong baju, aku memejamkan mata melihat harga 195 rebu yang tertera di labelnya, aku acuhkan bayangan dan bisikan agar aku membatalkan rencana dan cepat pergi dari situ, dan akhirnya berkat tawar menawar 45 rebu bisa tetap ku pertahankan dan baju berhasil aku dapatkan. Lega kah diriku setelahnya.. ternyata tidak..tanpa bisa ku cegah berbagai judul buku anak berkelebat di kepala, hiks..150 rebu kalau di bukabuku.com dapat berapa judul coba, terbayang kaka alief n ara yang lagi asyik baca buku, terus kalau di belikan susu de Rizqy wah bisa jadi 4 kotak susu sgm 600 gr, terus..terus..hiks aku makin menyesal . Aku jadi ingat acaranya Oprah…tentang para wanita yang menaruh prioritas dirinya di daftar yang paling belakang setelah mereka menikah dan memiliki anak, dan aku termasuk salah satunya. Aku menyesal karena mengapa harus menyesal memutuskan beli baju untuk diriku, seharusnya perasaan itu tidak perlu bukan, toh jarang jarang dan aku tidak berlebihan. Para wanita..para istri..para ibu perlu juga sesekali menempatkan prioritasnya di urutan pertama, bahkan para suami atau anak harus mengingatkan bila para istri atau ibu mereka hanya melulu berkutat dengan tugasnya mengurus anak dan rumah tangga. Sesekali istri atau ibu mereka perlu rileks..dan menyenangkan dirinya sendiri. Seharusnya aku tak perlu menyesal….ya seharusnya...
“Mah papah kapan pulangnya ?, mah ..ingatkan aku ya kata papah Sabtu besok tanggal 5 ada di Indosiar, berarti hari Senin nya papah udah pulang kan mah. Bukan Sabtu besok sayang, tapi Sabtu depan, Sabtu besok kan masih bulan Desember jadi papah pulangnya masih lama di bulan Januari nanti. Sabtu besok kok mah…papah bilang sendiri sama aku, coba telpon papah dulu aku ingin bicara sendiri sama papah”. Itu pertanyaan kaka Alief di hari pertama papahnya pergi ke luar kota, pernyataan kangen pun mulai jadi tema obrolannya, padahal papahnya di rencanakan pergi sepuluh hari lamanya, kebayangkan jadinya. Napah itu ke Jakarta urusan orang u ikut"
Lain lagi dengan adiknya Ara, sambil nanyain kapan papahnya pulang sesekali masih ngomel juga, “huh…papah itu enak betul ya mah…ke Jakarta terus, padahal aku juga mau ikut, kapan ya kita bisa ke Jakarta mah? . Papah itu ke Jakarta urusan orangtua sayang, urusan kerjaan.. Lagian kalau papahnya pergi mau jalan jalan doang pasti tidak akan mamah ijinkan, kalau urusan jalan jalan, senang senang harus bawa anak anak, tapi kalau urusan kerjaan enggak usah bawa anak anak soalnya enggak bikin happy anak” .
Dan ada hal lain lagi yang membuat mamah takjub, bagaimana tausiah singkat seorang ayah bisa langsung membuat perubahan dalam diri seorang anak. Pernyataan papah ke anak sulungnya kalau selama papah tidak ada di rumah berarti kaka yang menjadi wakil papah, menjaga dan melindungi mamah dan adik adik, benar benar mengena di hati dan berusaha di jalaninya. “Mah biar mamah enggak kecapean, nanti yang nyuci piring sama nyuci baju, aku aja ya”, atau “Mah nanti aku di bangun kan subuh subuh, kalau akunya enggak bangun juga mamah bangunkan seperti kalau aku di bangunkan pagi pas mau sekolah, soalnya aku mau bikin sarapan dulu jadi mamah bisa jaga de Rizqy”, belum lagi adiknya Ara yang berinisiatif ngambil alih urusan sapu menyapu . Hem…Subhanallah bagaimana Allah menggerakkan hati anak anak ini sungguh ajaib sekali. Note : Diary ini semoga bisa mengurangi lelah papah, sorry bikinnya cepet cepet soalnya keburu mau pulang. Papah…baru sehari papah pergi tapi kami sudah pada kengen semua. Kaka Ara mulai sehat tapi makan nya masih malas malasan, kaka Alief hebat dan de Rizqy semalam mulai demam , doa nya ya pah. Oh iya…terima kasih sudah menepati janji bikin sate untuk anak anak kemarin ya…anak anak happy sekali . Happy new year pah...semoga 2008 nanti ibadah kita lebih baik lagi dan menjadi orang tua yang lebih sholeh lagi, Insya Allah. mamah mulai kerja tanggal 2 nanti. I u.
“Hari ini ananda Masya Allah luar biasa sekali, menghafal surah surah pendek tanpa di suruh sambil menunggu sholat berjamaah”. Berita membahagiakan ini di tulis oleh bu Siti di buku penghubung ka Alief hari Rabu kemarin. Berita ini juga jadi mengingatkan saya tentang kejadian indah Sabtu lalu saat kaka saya bawa Liqo. Saat mamahnya sedang mendengarkan tausiah, kaka alief terlihat sibuk membuka buka halaman belakang Tafsir mini mamahnya, kemudian membaca dengan samar samar beberapa surah dengan khusunya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan sempat menggetarkan hati saya saat itu. Apalagi mengingat saya belum pernah mengajarkan kaka cara membuka tafsir, dan boleh jadi sekolah yang lebih dahulu memperkenalkan hal ini. Barisan kalimat di buku penghubung, juga bayangan saat kaka alief membaca tafsir Sabtu lalu benar benar menohok jantung saya, perih, membuat hati basah oleh rasa bersalah. Saya malu pada diri sendiri, ingat akan sinetron yang saya perankan tadi pagi. Saya lebih memilih peran antagonis hanya karena hal hal sepele, karena kaka lelet saya mengomel panjang lebar, mengomentari semua kesalahan “versi” saya saat itu. Mulai dari sarapan yang lambat plus remah remah makanan yang berjatuhan di bawah meja, kaos kaki yang belum di pakai, songkok yang belum juga ketemu, sepatu yang lupa naro nya, semuanya tak luput dari omelan. Di tambah lagi, setelah separo jalan sapu lidi yang harus di bawa ke sekolah ketinggalan di rumah. Lelah yang mendera, hati gundah meninggalkan de Rizqy yang belum sehat, plus waktu yang terus berpacu, meruntuhkan tembok kesabaran dan lagi lagi Syeitan jadi pemenang Pemandangan menyejukkan mata hari Sabtu lalu, kabar bahagia dari bu Siti, di tambah saat malam hari ku saksikan kaka membacakan cerita untuk adiknya, de Rizqy, telah melengkapai kesholehan kaka hari ini. Aku menyadari Allah sengaja memperlihatkan semua keajaiban dan keindahan ini, untuk menegurku, meluruskan kembali arahku dan terutama mengingatkan kembali akan janji janji ku untuk menyayangi dan menghormati mereka, selalu. Rekonsiliasi hati yang sempat saya lakukan tadi pagi dan janji bahwa kita akan mengobrolkan lagi hal ini di malam hari, tak mampu menutupi rasa bersalah dan malu ini. Lebih lebih ketika kaka lagi lagi kembali memberi kejutan, “Mah….katanya mau ngobrolin masalah yang tadi pagi”. Aaahh kaka maafkan kehebohan mamah tadi pagi ya nak……Alloh humaghfili ..Ya Robbi….. Melatih kedisiplinan..kemandirian adalah hal penting yang harus di lakukan Namun menjadi tidak penting lagi manakala dalam proses nya “kasih sayang” tidak di utamakan. Balikpapan 7 December 2007
Sudah lama sekali saya dan beberapa sahabat merencanakan masalah melatih kemandirian anak dengan cara nginep di rumah teman ini, atau istilah kerennya “Mabit”. Beberapa undangan dari sahabat telah lama di tawarkan, dan salah satunya dari tante Susi, sahabat jiwa tempat saya berbagi. Untuk kaka masalah nginep bukan hal aneh buatnya, sejak usia lima tahun, saya sudah memberanikan dan men-Tega-kan hati melepas kaka pergi, pertama saat berlibur nginep di rumah Enin dan Aki, bahkan sampai sepuluh hari lamanya. Setelah itu rumah enin dan Aki di Babulu selalu menjadi alternative, bila liburan sekolah tiba. Kedua di tempat enin Eti di Balikpapan atau di rumah Anty Erna. Namun nginep di rumah teman, ini adalah pengalaman pertama untuk kaka. Maka tak aneh bila ibu dan anak sama sama antusiasnya, begitu pula dengan sahabat saya sepertinya sama sibuknya. Tujuan saya menerapkan, mengizinkan masalah Mabit ini tentu saja dengan berbagai pertimbangan dan alasan diantaranya adalah : - Untuk melatih kemandirian sejak dini. Hal ini bisa jadi ada kaitannya dengan masa kecil saya yang selalu berpisah dengan orang tua, jadi saya berani pula melakukan hal yang sama. Apalagi saya berkeyakinan suatu saat, cepat atau lambat, jangka pendeknya smp jangka panjangnya saat kuliah, kaka toh akan berpisah juga dengan orang tua dan keluarga.
- Pelajaran berharga buat kaka untuk mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda, karena beda rumah tentu beda orang, watak, dan peraturannya.
- Pengalaman kaka makin bertambah luas, baik dalam hal pergaulan maupun dalam menyikapi kehidupan.
- Kaka Mabit di rumah sahabat yang saya percayai, yang pola pendidikan di rumahnya sedikit banyak saya tahu juga, minimal hampir sama dengan cara yang saya lakukan di rumah. Kurang lebihnya, justru akan memperkaya pengalaman batin kaka.
- Dan alasan yang satu ini menjadi tujuan dan impian antara saya dan tante Susi, karena kita bersahabat akan asyik dan bahagia rasanya bila anaknya bersahabat pula. Tidak maksa sih, namun karena anaknya mau, jadi seperti peribahasa pucuk di cinta ulampun tiba gitu lah atau peribahasa lain sekali merengkuh dayung…...
- Hikmah lainnya, saya bisa rehat sejenak, dan bisa berdua duaan dengan anak gadis saya kaka Ara. Kemudian saat kaka tidak ada, kita jadi merasa kehilangan dan kangen, terbukti dengan ucapan kaka Ara, “kaka Alief kalau nginep di rumah teman, gimana kalau aku kangen”, katanya sambil berkaca kaca. Kemudian adiknya juga jadi termotivasi, kaka Ara sering bilang kalau nanti kaka Ara sudah TK atau sudah sebesar kakanya, ia berani dan mau menginap di rumah Enin dan Aki Babulu, seperti kaka Aliefnya juga.
- Hikmah lainnya sepertinya masih rahasia, namun Insya Allah seiring waktu kita akan menemukan hikmah lainnya juga. Semoga…. Insya Allah.
Balikpapan 10 September 2007
Curhatanku kali ini..this is truly my opinion...tidak semua orang mengalaminya, jadi ceritanya boleh beda kan ??. Namun di kisah terakhir...khusus ku hadiahkan untuk some one di SG sana...he..he..he.. Ada banyak komentar yang sudah umum atau standar yang beredar di masyarakat atau minimal di lingkungan ku sendiri baik di lingkungan kantor maupun rumah, artinya sudah sering ku dengar dan tentu saja sudah pernah menimpa diriku, makanya aku merasa ingin menuliskan ini, karena sudah lama menjadi unek unek yang mengganjal di hati. Dimana komentar ini tanpa di sadari, dan tanpa di sengaja tentu saja, sebenarnya terkadang bisa menyakitkan hati, namun karena sudah menjadi kebiasaan, jadi seperti lumrah saja terjadi. Kali ini berkaitan dengan cara pandang sebagian orang dalam menyikapi kehamilan dan kelahiran seseorang. Mungkin di zaman sekarang, mempunyai anak satu atau yang paling banyak dua, menurut sebagian masyarakat adalah yang paling ideal, apalagi misalnya anaknya sudah sepasang, laki laki dan perempuan, di tambah jarak usia yang agak berjauhan juga. Jadi bagi sebagian pasangan yang ingin mempunyai anak tiga dan seterusnya, terus jaraknya dekat dekat, sudah jadi tanda tanya, aneh, kebanyakan dan seterusnya dan seterusnya. Hingga komentar yang sebenarnya tidak perlu, iseng dan tidak pada tempatnya terhambur keluar, tidak perduli lagi dengan perasaan seseorang. Aku sendiri punya pengalaman pribadi yang lumayan menyakitkan hati berkaitan dengan hal ini. Bukan di anak ketiga saja, malah di mulai dari anak ke dua. Saat itu kaka Alief baru saja genap dua tahun, walau pakai alat kontrasepsi ternyata sang adik (bakalnya kaka Ara) keukeuh pengen cepet ketemu sama kita. Aku yang saat itu masih jadi ibu muda, belum banyak ilmu dan pengalaman, agak takut, bingung dan was was juga. Tapi Alhamdulillah…kita tetap nyambut bahagia, segera mempersiapkan mental dan lain sebagainya, intinya tetap menerima dengan rasa suka cita. Kalau masalah bingung dan teman temannya, ya manusiawi lah. Nah yang bikin aku geleng geleng kepala, ya komentar para tetangga kiri kanan ini. Di antaranya : “Kok rajin betul bikin anak?”. “Kebobolan kah..?”. “Ya Allah Ta…anak mu masih kecil kok sudah punya adik lagi, enggak kasihan kah?”. “cek..cek..cekk… sambil geleng geleng kepala”. Wah..banyakkkkkkkk deh komentar yang enggak perlu terlontar begitu saja, dan menurutku itu sih masih biasa, Karena ada yang lebih pedas lagi, bahkan di sampaikan sama first lady nya kantorku sendiri. “AMIT AMIT JABANG BAYIII…..kok bisa ?!!!” sambil geleng geleng kepala, aneh dan entahlah, soalnya mukanya kok begitu amat ngeliatnya, yang jelas itu komentar terpedas yang aku alami. Jujur …saat itu aku marah dan tersinggung sekali, aku ingat kalimat yang ingin ku katakan saat itu, “lho…kok amit amit bu, lha wong saya hamil sama suami saya sendiri bukan suami orang, Alhamdulillah bu…saya dan suami senang dan bersyukur dengan kehamilan ini, trus..bla..bla..bla..”, tapi sayang kalimat itu hanya tersangkut di tenggorokan tak pernah bisa ku keluarkan. Untuk masalah fight begini aku orangnya tak punya nyali, selalu mengalah, dan aku merasa masa kecil ku yang selalu pindah sana pindah sini, ikut sana ikut sini, yang menyebabkan aku punya sikap seperti ini. Ewuh pakewuh, mengalah, nrimo dengan segala kondisi. Walhasil aku pulang saat itu juga, dengan perasaan remuk redam dan air mata yang meleleh tak tertahankan. Di angkot aku sempat mengelus perutku, membesarkan hati anakku, dan aku berdoa agar anakku ini kelak menjadi anak yang berani, tegar dan kuat, enggak pengalahan kayak diriku. Itulah cikal bakal nama “Sabita” ku berikan untuk anak ke dua ini, dan tentu saja masih banyak alasan lainnya mengapa aku memilih nama ini. Di kehamilan ketiga komentar usil terjadi lagi. Bila kaka Alief punya adik saat pas usia dua tahun, kaka Ara agak lumayan dua tahun tiga bulan aku mulai hamil lagi. Komentar komentar yang iseng dan standar pun mulai bermunculan, tapi tentu saja aku lebih siap mental. Saat sebenarnya hatiku kebingungan, dan mengalami krisis PD, bukan enggak percaya diri nambah anaknya tapi lebih ke mampu tidak aku menjadi ibu yang sholeh, yang ideal untuk mereka. Aku pun mulai memproklamirkan diri bahwa anak yang ku kandung ini anak “ULET, KEUKEUH, PEJUANG dan telah menjadi PEMENANG”. Gimana tidak coba, dalam keadaan gawang terjaga saja, dia bisa menerobos dan goal juga pada akhirnya. Menurut yang ku dengar dan ku baca, setiap suami istri bercinta, itu artinya sang suami telah mengeluarkan sekitar 2-5 mililiter air mani, setiap ml nya mengandung 20-120 juta sel mani atau spermatozoa (bakal anak tea). Sperma dapat hidup di dalam rahim selama 2-3 hari, sedangkan di dalam vagina sekitar 8 jam. Dari 20-120 juta sperma itu yang dapat membuahi sel telur kita hanya satu sperma saja. Itu berarti kedua anakku baik Kaka Ara maupun de Rizqy dari lahir sudah menjadi pemenang, tarohlah saat itu misalnya ada 100 juta spermatozoa, berarti kan anak anak sudah mengalahkan sembilan puluh sembilan juta sembilah ratus ribu sembilan puluh sembilan pesaing lainnya. (Tuh..aku saja sampai bingung ngitungnya) Berakhirkah sudah komentar yang tidak perlu itu setelah sang bayi di lahirkan. Ternyata belum juga sodara sodara. Setelah de Rizqy lahir komentar aneh lainnya bermunculan, bahkan sampai hari ini masih juga terjadi, di antaranya : “Ta…kok anakmu putih banget kayak siapa ya ?”. “Ta..anakmu kok cakep, enggak kayak bapak sama ibunya ya?”. “Ta…anakmu mancung ya?”, muka heran sambil langsung ngeliat hidungku yang emang pesek ini. Bahkan saat aku ikut arisan Dasawisma, welehhhhhhhhh…komentar berhamburan makin liar. “Ta..Ta…anakmu ini kayak anak bule lho…kok bisa ya enggak kayak ibu sama bapaknya?”, kata ibu yang satu. “Wah…si ita selingkuh sama orang bule dong…ha…ha…haaaa..haaa…”, kata ibu yang lainnya trus ketawa bersamaan. Puihhhhhhhhh….aku hanya bisa narik nafas saja, soalnya kalau di ladenin kok aku merasa sama anehnya dengan mereka, paling banter jawabanku “Alhamdulillah…semuanya ganteng dan cantik kok, kan kayak ibu sama bapaknya” (tuh kan..jadi sombong jadinya). Sebenarnya…tidak semua teman, tetangga komentarnya aneh begitu, tentu saja ada juga sebagian yang mensupport dan berempati, terutama teman di lingkungan liqo ku, hanya saja aku kali ini ingin menceritakan komen yang negatifnya saja. Hikmah dari semua yang ku alami ini, Insya Allah membuat diriku lebih berhati hati lagi, lebih ber empati terutama pada sesama BUMIL. Lebih dari itu bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk yang lemah tanpa daya. Allah jualah yang menentukan semuanya, anak kita cantik, ganteng, hitam, putih, keriting, mancung, pesek dan lain sebagainya, bukan kuasa kita untuk mengatur dan menentukannya, itu sudah masuk daerah kekuasaan Allah sang Pencipta. KB dan segala macam jenis alat kontrasepsi lainnya, itu adalah ikhtiar kita sebagai manusia untuk lebih memperlambat kehamilan, namun yang menentukan hamil atau tidaknya tentu saja Allah juga. Allah yang maha tau segala, Insya Allah telah memberikan yang terbaik yang kita mampu dan bisa. Dan hanya kepada Allah aku berserah dan berpasrah…karena aku tak berdaya melawan itu semua. Amien….. 08 August 2007
Setelah kehamilan anak ketiga, akhirnya muncul lah berbagai isu urgent yang ku angkat ke permukaan dan ku diskusikan dengan my dear husband. Salah satu isu itu adalah masalah ketidak berdayaan ku dalam menyikapi masalah transportasi antara rumah-kantor-pasar dan betapa besarnya budget yang harus ku keluarkan untuk keperluan transportasi ini, belum lagi jarak tempuh yang lebih lama sekitar satu jam di bandingkan bila naik kendaraan pribadi, motor misalnya. Duluuuuuuuu…sekali, tepatnya saat aku kelas satu sma pernah bisa mengendarai motor, namun setelah kecelakaan di empang, saat itu aku yang di bonceng teman, dan seiring dengan luka dan tanda biru yang menempel di sekujur badan dan muka ku, hilanglah pula ilmu dan keberanian mengendarai motor ku. Sejak kecelakaan itu sampai aku menjelang kelahiran anak ke tiga, keinginan untuk mengendari motor lagi selalu tersimpan rapi di hati. Padahal sebenarnya aku rajin berlatih, namun sayangnya selalu dalam khayalan, itupun selalu pake acara jatuh segala, akhirnya harapanku untuk bisa naik motor makin ku lupakan saja. Anak ketiga ini rupanya telah merubah segalanya, rasa trauma mulai di kalahkan oleh ke terpepetan situasi dan kondisi. Bahkan lambat laun…aku mulai memberanikan diri berlatih lagi, masih di dalam khayalan tentu saja, kan..motornya belum kebeli, tapi Alhamdulillah sudah ada kemajuan, karena belajar motornya tidak pernah jatuh lagi. Sampai pada suatu hari, “Pah…karena sekarang jalan makin macet, mamah udah bosan ngetem di terminal dan bla..bla..bla..…kayaknya kalau mamah sudah melahirkan, mamah mau belajar motor betulan, asal motornya motor Mio atau motor yang khusus untuk perempuan lah. Trus motornya enggak boleh nyicil, karena uang bulanan sudah fully book, sudah enggak ada celah lagi untuk cicil menyicil”. Itu permintaan ku pada suami lengkap dengan term and conditionnya. Melihat diriku yang sedang ‘mabuk laut’ begitu (ngidam: muntah terus), tiada jalan lain selain di iya kan dulu, sambil memutar otak dan menunggu Allah memberi kelapangan rezeki tentu saja. Sampai suatu saat my hubby di beri amanah menjadi juri di kerjurda yang di selenggarakan di Kukar (kabupaten kutai kertanegara), trus investasi tanah kita terkena mapia, jadinya tanah harus di jual paksa walau harga tak seberapa, akhirnya terkumpullah dana dan di akhir tahun 2006 motor mio yang ku idamkan sudah ada di depan mata. Subhanallah Allah membuka pintu rezeki lewat pintu mana saja yang Dia kehendaki. Tiga bulan setelah melahirkan, tepatnya pertengahan bulan Maret aku mulai latihan mengendarai motor lagi, sempat jatuh tiga kali sampai akhirnya mahir dan mulai ke jalan raya dengan percaya diri. Tepatnya di bulan April 2007, awal petualangan petualanganku yang mengasyikkan dengan anak anak, makin terhampar luas di depan mata. Tak ada lagi yang menyulitkan, serba di pikirkan dan serba terbatas lainnya. Pergi liqo, jalan jalan, antar jemput sekolah, ke dokter gigi, ke pasar, ke mall, kemana saja kita mau pergi, dapat segera kita lakukan tanpa merasa tak enak hati dan tergantung pada suami lagi. Di sepanjang perjalanan, di atas motor ini banyak sekali cerita indah terjadi dan akan selalu menjadi kenangan kelak anak anak besar nanti, hujan hujanan di jalan sambil bernyanyi nyanyi, ngobrol kesana kemari, merubah syair lagu sesuai tema jalan jalan pun kerap di lakukan di atas motor, dan untuk aku sendiri banyak ide cerita justru muncul nya pas aku lagi diatas motor ini. Tadi malam, saat hendak pergi ke dokter gigi, dan sambil bernyanyi nyanyi di temani gadis cantik kecintaanku Ara. Bersahut sahutan kami berdua merubah syair lagu di kegelapan malam jalan raya (lagi mati lampu soalnya), Satu satu mamah sakit gigi...Dua dua pergi ke dokter gigi ... Tiga tiga di temani sama Ara ….Satu dua tiga biar sembuh sakitnya …lala..lala..lala..lala Setelah menunggu selama lima belas tahun, Aku beryukur pada Allah dan berterima kasih pada de Rizqy yang merubah diriku, membuatku mau berdamai, belajar untuk menghilangkan trauma dan ketakutan ku ini. Jadi bila suatu saat nanti kita ngobrolin bagaimana mamah bisa naik motor lagi, tentu saja yang pertama kali mamah lirik dengan penuh arti adalah si ganteng, ‘de Rizqy’. *** Balikpapan, 7-Aug-2007 ***
Akan ku kabarkan padamu sayang, perihal kedatangan mu di ruang hati mamah saat itu, agar tak ada lagi yang di pendam. Mamah ingin engkau tau tentang kisahmu sama seperti hal nya kisah unik lain yang telah di miliki kaka kaka mu. Anakku, berita tentang kehadiranmu tiba di pangkuan mamah dalam selembar surat berkop Klinik Ibnu Sina, dengan keterangan standar, Positip begitu yang tertulis di dalamnya. Kabar yang sungguh di luar dugaan, karena kabar itu datang saat papap dan mamah belum mempunyai persiapan, baik persiapan mental, dana, maupun mempersiapkan kaka kaka mu akan kehadiran adik baru. Saat mamah mulai tahu kehadiranmu, mamah menangis tersedu di pelukan papap. Mamah menangis di hadapan Murobbi, dan mamah menangis di atas sajadah berkeluh kesah pada Allah tempat mamah meminta. Bukan karena mamah tidak bahagia dengan kehadiran mu, dan tentu saja bukan karena mamah tidak mencintai mu. Bingung, begitulah gambaran sikap mamah saat itu. Sebagai manusia, mamah banyak sekali memiliki kekurangan dan kelemahan. mamah takut, apa mamah mampu merawat tiga anak balita sementara mamah harus bekerja, sempat terlintas untuk berhenti bekerja, namun itu tak memungkinkan juga. Mamah juga takut bila tidak bisa memenuhi gizi anak anak, mamah takut tidak bisa menyekolahkan anak anak di sekolah yang terbaik menurut mamah. Mamah juga suka di hinggapi rasa bersalah ninggalin anak anak di rumah. Mamah takut pada hal hal negative yang terlintas di benak mamah. Hati dan pikir mamah, di takuti oleh perasaan perasaan negative yang mamah ciptakan sendiri, rupanya saat itu mamah benar benar di hinggapi penyakit krisis kepercayaan diri. Tak mau berlarut larut, mamah pun saat itu memberi waktu pada diri sendiri untuk bermelankolis, dan berbingung ria selama dua hari. Setelah itu mamah harus mulai menata hati, menata mental, menumbuhkan sikap juang, membuat perencanaan dan mulai memasrahkan semua hanya kepada Allah saja. Tau tidak nak, selama mamah menangis, mamah juga tak henti meminta maaf padamu, pada Allah agar engkau tak tau dan tak merasakan apa yang mamah bingungkan. Lalu Allah yang maha Rahman dan Rahim, mengirimkan hadiah indah untuk menghibur hati mamah, mengobati kebingungan mamah. Lewat rumah mayanya bunda Agnes, mamah di perdengarkan tausiahnya bunda Neno Warisman, tausiah yang membuat mamah tersentak, dan menyadari kesalahan. Tidak cukup itu saja, tak berapa lama Allah pun mempertemukan mamah dengan bunda Neno, saat bertemu mamah banyak curhat, nangis di pelukannya, kami tak melepaskan genggaman tangan saling menguatkan sampai bunda Neno hilang di parkiran, mamah bahagia rasanya saat itu. Di tempat liqo, untuk pertama kalinya dalam hidup mamah, saat berulang tahun tidak hanya dapat ucapan dan doa, juga dapat kue tart kesukaan mamah, para sahabat mamah bilang ini kejutan buat teteh karena selama hamil kelihatan pucat dan agak kurusan, kejutan yang bikin hati dan mata mamah berkaca kaca juga. Dan hadiah terindah yang Allah berikan, yang akan selalu terpatri dalam hati mamah sampai kapanpun juga adalah tentu saja dari anak anak mamah tercinta, kaka Alief dan Ara. Subhanallah selama mamah mengandung dirimu, selain mendapat perhatian, kebaikan, pengertian, pelukan dan ciuman hangat mereka di perut mamah, kita juga mendapat doa doa tulus mereka. Setiap pulang kerja, tak bosan bosannya kaka Ara nanya sambil memeluk dan menciumi perut mamah, “mamah…kapan sih ade bayinya keluar”, begitu selalu tanyanya. Kaka Alief dan Ara, mereka berdua juga mempunyai doa tambahan menjelang tidur malam, biasanya kaka Alief yang memimpin doa, lalu de Ara yang meng-Amien-kan, begini doanya selalu dan tak pernah berubah selama sembilan bulan lamanya : “Ya Allah…tolong sembuhkan muntah muntah mamah dan semoga ade bayi sehat dan lahir di bulan Desember, Amien”. Dan setiap selesai sholat Maghrib, kaka Alief selalu bilang “mamah aku tadi sudah doain mamah lho…biar cepet sembuh muntahnya”. Robbana Watakobbal Dua…Allah yang maha pengabul doa, mendengarkan doa anak anak sholeh ini. Alhamdulillah anak ketiga mamah, adenya kaka Alief dan Ara, lahir dengan selamat di rumah sakit bersalin Kasih Bunda, hari Sabtu jam 5:35 pagi tanggal 16 Desember 2006, di bulan yang sama seperti dalam doa kaka tercinta. Di sambut tangisan bahagia mamah, di tunggui papap tercinta yang selalu setia menemani kita. Kebahagiaan yang kami rasakan saat itu, rasanya sama seperti saat kehadiran kaka Alief dan Ara. Papap mu itu nak, tak henti hentinya mengagumi paras wajahmu, menggendong dan mengelus kulit mu yang halus putih dan bersih. Setelah berargumen cukup lama dengan kaka Alief dan Ara, karena mereka bersikeras agar nama pilihan mereka yang di ambil untuk adik bayi yang baru tiba. Akhirnya kami bersepakat, memberi nama anak ketiga kami, adik tercinta kami : “ RIZQY NAWFAL SETIAWAN ” Karena kehadiran mu merupakan rizeki buat mamah, papah, kaka Alief dan Ara. Semoga engkau menjadi anak sholeh yang selalu di limpahi rezeki yang barokah oleh Allah SWT, dan dapat mensyukurinya dengan selalu bersikap dermawan pada sesama. Amien. Sayang ku, mamah mencintaimu sama hal nya seperti mamah mencintai kaka kaka mu, kehadiran mu sama membahagiakan seperti halnya kehadiran kaka kaka mu. Selamat datang anakku sayang….. selamat datang kekasihku sayang…..Alhamdulillah kini ada tiga bintang yang selalu bersinar di hati mamah, SELALU..SELAMANYA... From deep of my heart, I love you de Rizqy… July 2007
Ibunda tersayang datang, seperti biasa membawa oleh oleh sekeranjang cinta dan cerita yang tak sabar ingin segera di bagikan padaku. Cerita kali ini masih tetap sama bahasannya, apalagi kalau bukan masalah pornography, pornoaksi dan segala macam permasalahan sexsualitas di lingkungan kampung tempat mamah tinggal. Potret wajah desa Babulu tempat keluargaku tinggal dan berjuang, tak akan pernah lagi sama, seperti saat aku kecil dahulu. Kebobrokan moral generasi mudanya benar benar luar biasa untuk ukuran desa, bahkan lebih vulgar dari kota besar tempat aku tinggal dan berjuang membesarkan anak anak tercinta. Tawuran antara pemuda desa A dan desa B, entah itu karena alasan tersinggung, memperebutkan gadis atau berbagai alasan sepele lainnya seringkali terjadi. Pemuda tumpuan dan harapan para orang tua itu, sebagian terluka, sebagian lagi masuk penjara. Masalah perceraian yang dahulu tak pernah ku dengar, kini mulai ngetren tak kalah dengan tayangan gossip selebritis yang laris manis. Narkobapun perlahan mulai menyerang tanpa ada perlawanan, langsung di sambut oleh anak anak, bahkan ada nama desa yang terkenal hanya karena banyaknya pecandu narkoba. Tak cukup hanya itu, kaset bajakan versi India dan dangdut dengan segala macam goyangannya menghipnotis dan digemari seluruh kalangan, baik anak anak, remaja, tak kalah ketinggalan para orang tua, yang seharusnya menjadi panutan mereka. Tak cukup lewat vcd bajakan, gempuran datang tak kalah dasyatnya dari dalam rumah sendiri, si KOTAK AJAIB bernama televise ini, begitu di candui dan menjadi tontonan wajib setiap pagi sampai malam hari. Dan korban pun perlahan mulai berjatuhan. Anak, remaja dan orang tua mana yang sanggup menahan gempuran pameran syahwat yang merajalela, nyaris setiap hari yang di pertontonkan di depan mata mereka. Begitu yang namanya era globalisasi masuk menyapa desa, dengan segala kemudahan dan akses yang belum pernah mereka terima, mereka langsung menyerapnya bulat bulat, mereka tidak mempunyai filternya, tidak mempunyai ilmu untuk menangkalnya, mereka akhirnya terlena dan langsung menjadi korbannya. Kini tak sedikit di dapati Para orang tua yang bingung dan terluka melihat anak anaknya, tumpuan harapannya, satu persatu terjungkal kalah menjadi pecundang. Dahulu tak pernah ku dengar apalagi terjadi, anak anak di mangsa teman, abang atau tetangga sendiri. Kini…Astagfirullah hal adzim, khadimatku sendiri mempunyai anak tiri yang di perkosa sepupunya sendiri. Anak kelas tiga sd, di jemput paksa sepupu yang di rasuki nafsu binatang, kemudian di perkosa di alang alang dalam perjalanan pulang. Kejadian itu terus berulang, kemudian setelah mulai ketahuan, saat keadilan ingin di tegakkan, bahkan neneknya sendiri tega menakut nakutinya dengan menyobekan pisau dipaha gadis kecil itu, agar tidak mau bersaksi di depan polisi. Si sepupu di ganjar lima tahun penjara, namun apalah guna. Luka di pahanya sudah sembuh setelah di obati, namun luka dan nyeri di hati akan selamanya ia bawa sampai mati. Aku pikir cerita pilu beberapa bulan lalu itu, cukuplah sudah, sampai akhirnya ibundaku datang. Mamah ku tersayang ini risau benar hatinya, bagaimana tidak, mamah masih mempunyai anak gadis yang beranjak ABG, kedua adikku ini masih sd kelas dua dan empat. Dan berita burukpun datang menyerang, di kampung sedang gentayangan pria bercadar, menyerang dan hendak memperkosa dua orang gadis desa. Alhamdulillah mereka masih tertolong, kasus sudah sampai ke meja pak polisi, namun predator bercadar ini, raib dan masih menjadi misteri. Aku sedih dan miris sekali, ketika untuk kesekian kali membrifing mamah dan kedua adik ku ini, bagaimana berikhtiar menghindari para predator bejat ini. Segala informasi yang kupunya selalu ku sharing dengan mamah. Aku khawatir bila teman adik ku di sekolah sudah ada yang pernah menonton film porno, hingga bisa mencelakai atau mempengaruhi teman lainnya. Lagi lagi aku harus menceritakan apa saja yang harus mereka lakukan, baik di sekolah, maupun di rumah bila ada hal yang mencurigakan datang. Kasihan adik adik ku ini, harusnya mereka tenang bermain, bereksplorasi seluas luasnya dengan alam seperti masa kanak kanak ku dahulu. Berat memang karena mamah merasa sendirian, namun aku mempunyai keyakinan, dengan doa dan keshalehan mamah, Insya Allah bisa menjaga, mendidik dan membimbing adikku, sama seperti kami dahulu. Mamah… Engkau berjuang dan tetap tegar membesarkan kami Dengan segala macam kondisi Tak perlu risau dan bersedih hati Biar lah Allah tempat kita bergantung Menolong, dan menuntun jalan anak anak kita Agar mereka selamat dunia dan akhiratnya 27 June 2007
Kaka Alief setelah seminggu ini belum juga sembuh walau kemarin telah tes darah dan Alhamdulillah hasilnya negative (di Balikpapan lagi musim demam berdarah), kaka Ara Alhamdulillah demamnya udah ilang nyisa batuk pileknya aja, de Rizqy yang kemarin sembuh bersamaan dengan kaka Ara, ealah…malam ini malah demam lagi plus batuk pilek juga. Kayaknya mereka bertiga ini kompak saling menularkan virus. Sampai curhatan hatiku ini otomatis sudah delapan hari anak anak sakit. Hemmmmm capek iya…lelah juga…tapi yang paling nyesek ke dada, ngeliat tingkah polah mereka ini dalam menghadapi sakit. Waduhhh…kasiannnnnnnnn sekali. Terutama kaka Alief yang rada parah…sempat dalam satu malam ngigau dan mimpi buruk terus, sampai bantal, guling, dan seprey di lempar suruh di buang karena di kira muntahannya sendiri. Begitu anak anak terlelap, mungkin.karena lelah pikiranku jadi menerawang, melanglang buana tak tentu arah, gimana ya bila aku ‘tiada’ terus anak-anak sakit berbarengan seperti ini, adakah seorang wanita lain yang bisa bersabar, mendoakan dan menyayangi setulus hati seperti yang kurasakan kini, mampukah ayahnya bersabar mengayomi mereka semua. Bayangan itu yang terus mengusikku, Astagfirullah…ya Allah…. Selama ini bila berkaitan dengan topik kematian, yang sempat kita diskusikan adalah bagaimana mempersiapkan diriku bila papahnya yang ‘pergi’ lebih dulu. Misalnya salah satunya aku di bolehkan tetap bekerja, selain untuk jaga jaga juga agar sebagai seorang ibu aku lebih mandiri. Untuk urusan menikah, sepertinya tak terpikirkan lagi. lain hal bila Allah memang mempunyai rencana lain untukku. Jam setengah sebelah malam… aku masih harus membereskan beberapa pekerjaan rumah yang tadi belum sempat ku sentuh. Tak berapa lama, tangan pun mulai belepotan sabun, siap membereskan setumpuk baju kotor. Pikiran yang tadi melintas di tempat tidur, rupanya tetap tak mau pergi. Akhirnya aku tak bisa menahan lagi, yang mengganjal di hati rupanya tak mau menunggu lagi, harus segera ku keluarkan malam ini. Keadaan suami yang lagi sibuk malam ini tidak juga membuatku mau bersabar sejenak lagi. Bismillah batinku dalam hati, dan pertanyaan tak terduga ini meluncur sudah. “Pah… seandainya mamah meninggal duluan, papah nanti nikah lagi apa enggak ??”, tanyaku tanpa basa basi. Yang di todong dengan pertanyaan tak terduga ini melongo bego, memandang sebentar dengan kertas kerjaan penuh di tangan. “Nikah dengan siapa??”jawabnya balik nanya. ”Ya enggak tau” jawabku rada ketus. “Lha mamah nanya nya aneh begini”. “Lho..ini bukan pertanyaan aneh pah…ini kan hal yang biasa terjadi” jawabku tak mau kalah. Akhirnya kadung pertanyaan ini terlontarkan, cucian ku pending dulu, tangan segera ku cuci, dan aku langsung duduk bersimpuh di dekatnya. Subhanallah malam ini, mengalirlah diskusi yang tidak bisa di bilang ringan ini tanpa beban sama sekali. Sesekali beradu argument namun jawaban suami mengenai komitmentnya terhadap keluarga terutama anak-anak sungguh melegakan hatiku. “Mah..pikiran papah hanya terpokus bagaimana bisa memenuhi kebutuhan tiga anak anak kita, yang lain lain enggak terlintas. Misalkan Allah menakdirkan mamah yang pergi lebih dahulu, memikirkan perempuan dan menikah lagi, itu kan perlu biaya banyak. Papah takut, itu berarti bisa memotong uang bulanan anak-anak, dan papah tidak mau melakukan itu”. “Jadi papah tidak mau nikah lagi ?” “Ya kecuali papahnya nikah lagi sama anak SBY (emang presiden kita punya anak perempuan..??), anak pejabat bla..bla..bla…perempuan kaya, yang bisa menjamin kehidupan anak anak kita…..” “Astagfirullah, jangan ngomong gitu ah, itu namanya matre tau…”, jawabku langsung memotong perkataan suami. “Lagian pertanyaan mamah aneh gitu ….”, jawab suami yang ngeliat aku mulai protes. Alhamdulillah, ternyata kita mempunyai komitment yang sama seandainya musibah itu terjadi, artinya segala macam hal yang berkaitan dengan kepentingan anak, akan menjadi prioritas utama dan yang paling utama. Sebenarnya, kalaupun suami emang mau menikah lagi, akupun tak keberatan asalkan memenuhi syarat yang ku tentukan. Mendapatkan istri yang sholehah tentulah tidak gampang, mungkin saja ibu Nurdiana (Murabbi ku..) bisaa membantu. Kemudian orang tuaku, anty Erna adik perempuanku, dan teh Susi sahabat tempat aku berbagi adalah orang orang yang tepat untuk di mintai masukan mengenai calon ibu dari anak-anakku. Insya Allah mereka lebih tau, mengerti atau memahami diriku dan apa saja cita cita dan harapanku tentang anak-anak. Jodoh, rezeky, maut tentu saja menjadi rahasia Allah, namun tentu saja bukan juga hal yang tabu bagi kita untuk sesekali mendiskusikannya. Alhamdulillah… legalah sudah, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk keluargaku. Amien Ya Rabb……. 27 April 2007
Teteh ingin mencoba mendefinisikan dirimu lewat kata kata, adikku. Erna Nurtania Syamsuddin, adik yang lahir enam tahun kemudian setelah aku. Yang dulu pernah ku asuh dan ku gendong dengan tubuh yang sama mungilnya, kesana kemari, merangkai cerita yang semoga saja masih ada yang terpatri di hatimu sampai hari ini. Masih ku ingat saat engkau hendak di lahirkan, malam malam aku berlari panik mencari pertolongan. Berlari dalam kegelapan, hembusan angin yang mengoyangkan semua pohon yang ku lalui, membuat ku ngeri. Pikiran kanak kanakku saat itu jadi berhalusinasi. Mungkinkah aku sedang di kejar kejar hantu Kuyang yang selalu datang bila ada seorang bayi yang akan di lahirkan. Begitulah mitos yang berkembang saat itu, yang aku percayai, nyata dan pasti terjadi. Aku terus berlari, takut, namun tak perduli, aku lebih sayang mamah dan calon adikku, itu yang membuat ku berani. Tak lama berselang, setelah bi Nyai tetangga kita datang, di iringi lantunan ayat suci Al-Qur’an, engkaupun di lahirkan, Subhanallah… aku bahagia mempunyai adik dan teman. Dan yang ku takutkan bahwa dirimu akan di bawa hantu Kuyang, tentu saja tidak terbukti. Tertawa, sedih, menangis, bertengkar, berpisah, bertemu, berpisah lagi…lalu berjuta kisah pun telah menjadi bagian dari kita. Perekat cinta kita bila kita sedang alpa. Ah…adikku, lihatlah dirimu kini …..gadis cilik yang tak berambut dulu, kini telah menjadi seorang ibu. Tidak saja seorang ibu bagi anakmu, namun juga seorang ibu bagi berpuluh anak didik yang tengah kau asuh di sekolah mu. Seorang perempuan yang telah tau tentang apa yang di inginkannya. Seorang kepala sekolah yang penuh dengan ide, harapan dan cita cita yang ingin segera di wujudkannya. Seorang ibu yang terus mau belajar bagaimana, mendidik dan membimbing putrinya. Seorang Teman, Adik, tempat aku berbagi, mengenai keluarga, isi hati dan dunia yang terkadang tidak kita mengerti. Adikku, teteh bangga padamu !!!!  
Bismillah ………… Aku berkeliling negeri Singgah dari satu rumah ke rumah maya lainnya (baca blog). Ku mulai dari rumah mas Jonru, ku kelilingi hampir semua sisi rumahnya, ku pelototi dan ku lahap semua yang di sajikan di situ, setelah itu mampir lagi di rumahnya teh Agnes di Belanda, dan dengan sekali klik terbang lagi ke rumah maya lainnya. Terakhir dan untuk pertama kalinya aku mampir di rumahnya mba Helvy. Disini lamaaaaaaaaaaaa sekali aku duduk, terpaku dan membaca satu persatu semua yang ada di dalam tags nya. Hari ini hanya untuk satu tujuan aku berkeliling berjam jam seperti ini, melahap satu demi satu semua kisah, atau karya tulis yang ada di setiap rumah maya mereka, hanya demi mencari jawaban dari semua pertanyaan dan kegundahanku berbulan bulan ini. “Aku ingin sekali menjadi penulis, tapi hampir satu tahun ini tidak pernah lagi mau latihan nulis”, hanya karena alasan kemarin lagi ngidam, abis itu melahirkan, abis itu sibuk, abis itu tetep enggak mood, abis itu bingung sendiri tak tau harus memulai darimana, pada akhirnya aku menyadari, aku hanya punya cita cita doang tanpa ada usaha untuk memperjuangkan. Rumah mayaku sendiri bahkan hampir tak pernah ku kunjungi lagi. Miris sekali….. Setelah berkeliling negeri mencari inspirasi, lalu apa yang ku dapat. Di rumahnya mba Helvy aku makin merasa nyeri campur iri. Iri ngebaca tulisan tulisannya yang…aduh aku sulit mengatakannya, hanya dengan menuliskan curhatan sahabat saja sudah mampu membuat pembaca seperti diriku mengharu biru, Iri dengan keharmonisan rumah tangganya dan lebih dari semua itu, iri bagaimana hubungan batinnya yang indah dengan anandanya Faiz. Begini sarannya mas Jonru mengenai tips menulis untuk pemula seperti diriku, tulis apa saja yang terlintas di kepala saat itu, “cobalah menulis dengan sistem bebas. Mulailah menulis sekehendak anda, lupakan semua beban pikiran yang menghantui tersebut. Pokoknya kosongkan pikiran anda dari segala jenis beban apa saja yang muncul di kepala anda. Dan silahkan langsung menulis. Maka kutuliskan semua yang ada di kepalaku ini tanpa melirik lagi bagus tidaknya, titik komanya, apa adanya saja seperti yang di perintahkan otakku untuk di tuliskan. Mas Jonru bilang, “Hilangkan Beban” Semoga ini menjadi permulaan ………….seperti yang kuharapkan. Amien  Balikpapan 22 May 2007
| |