Bila panggilan populer di Indonesia untuk seorang perempuan yang telah melahirkan kita adalah IBU atau IBUNDA maka MAMAH lah panggilan sayangku untuk beliau, perempuan luar biasa, berparas cantik yang telah melahirkanku tiga puluh satu tahun lalu. Mamah adalah gambaran sosok ibu yang tegar, sabar, tawakal dan penuh kasih sayang. Bagiku sosok mamah adalah definisi dari cinta itu sendiri.
Bila di lihat dari kisah masa kecilnya yang lumayan berlimpah, adalah hal yang luar biasa ketika mulai bekeluarga, dunia yang di ketahui di masa kecil dulu, ternyata berbalik seratus delapan puluh derajat saat mamah memutuskan untuk menikah. Setelah memiliki keluarga sendiri, di mulailah episode kehidupan yang tak pernah di kenali bahkan tak pernah terlintas dalam benaknya sekalipun.
Saat tiga tahun usiaku atau tepatnya tahun 1979 di mulailah kisah penuh heroik itu. Orang Sunda bilang angkleng angklengan (terombang ambing) di lautan selama beberapa hari demi menuju tanah impian Kalimantan Timur itulah awal episode kehidupannya yang berubah total. Bila ada semboyan habis gelap terbitlah terang, maka episode mamah adalah kebalikannya. Habis terang muncullah kegelapan, walaupun pada akhirnya seperti layaknya roda kehidupan tentu adakalanya berputar.
Masa kecil yang lumayan berada, situasi atau fasilitas di Bandung yang telah maju untuk ukuran sebuah kota kala itu. Lalu tiba tiba terdampar di salah satu desa bernama Babulu Darat, di propinsi Kalimantan Timur adalah seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Rumah yang di sediakan oleh pemerintah untuk penduduk transmigrasi ini nyaris seperti kandang burung saja untuk ukuran sekarang (maksudnya bila kulihat dari kaca mataku sekarang). Tunggul tunggul pohon bekas pembakaran nyaris di geletakkan begitu saja di sepanjang rumah dan jalan, semak belukar dimana mana, dan sejauh mata memandang yang ada hanya hutan dan hutan saja.
Belum lagi fasilitas rumah tangga yang jauh dari memadai. Untuk MCK yang tadinya tersedia di dalam rumah harus berganti dengan sumur yang jaraknya lumayan jauh, letaknya di belakang rumah dekat sungai yang gelap karena sekelilingnya hanya di tumbuhi pohon dan semak belukar. Untuk penerangan seingatku lebih dua puluh tahun lamanya kita menggunakan jasa lampu teplok atau obor dan yang paling mewah pake petromaks. Tepatnya saat aku aku tengah kuliah semester dua, sekitar tahun 1995, baru lah PLN masuk dan cahayanya mulai menyapa desa.
Untuk keperluan memasak, kompor adalah barang yang sangat mewah bahkan aku tak ingat apa ada tetangga yang memilikinya saat itu. Yang kami miliki adalah Hawu atau tungku yang pakai kayu bakar, bahkan untuk kayu bakarnya, terkadang mamah sendiri yang harus membelah gelondongan kayu dengan kampak. Bila kita bercerita kembali tentang masa masa itu, mamah sendiri masih tak percaya bagaimana bisa dari tangannya yang mungil, putih dan halus bisa mengeluarkan energi sekuat itu.
Keukeuh, begitulah mamah, artinya teguh pendiriannya. Bila memulai sesuatu yang di yakininya, maka akan di kerjakan sampai tuntas, seberat apapun tantangan yang akan di hadapinya. Hasilnya, mamah menurutku menjadi seorang perempuan yang mau belajar dan serba bisa. Bisa bertani, bisa bikin panganan kecil untuk di jual, bisa ngurusin empang termasuk nyebur sekalian ke empang atau sungai untuk masukkan atau ngeluarkan air. Untuk semua ilmu kehidupan yang di pelajarinya, mamah membayar dengan pengorbanan yang sangat mahal. Saat mulai belajar nanam padi, mamah awalnya kena penyakit gatal gatal, pernah juga pahanya di gigit kalajengking, dan terakhir pernah di gigit ular.
Lalu pertanyaannya, apa yang membuat mamah memutuskan menukar kehidupan yang lumayan nyaman di Bandung dengan kehidupan yang serba sederhana di Babulu Darat sana. Meninggalkan kota kelahirannya, menempuh jarak ribuan kilo bahkan harus mengarungi samudera yang begitu ganasnya. Tentu saja semata karena bakti mamah sebagai seorang istri untuk selalu berada di sisi suami kemanapun ia pergi.
Karena keinginan menggapai masa depan lebih baik plus iming iming dari pemerintah bahwa penduduk yang bersedia di transmigrasi kan akan memperoleh konpensasi sebuah rumah dengan luas pekarangan hampir setengah hektar, ditambah lagi luas tanah garapan untuk bercocok tanah seluas dua hektar. Fantastis, benar benar luas tanah yang fantastis untuk ukuran penduduk kota Bandung saat itu. Memiliki tanah yang luas di Bandung sungguh mustahil, kecuali bila ia se orang juragan tanah atau orang orang yang berpunya saja yang bisa memilikinya. Dan tentu saja karena baik mamah maupun bapak tidak menyangka kota impiannya keadaannya ‘mencengangkan’ seperti itu.
Mengeluhkah mamah, menyerahkah mamah dengan keadaan yang hampir tak pernah sekalipun terlintas di mimpinya itu ???? Subhanallah…Maha Suci Allah yang telah memberikan ketegaran kepada mamahku tersayang ini. Semua episode dalam lakon kehidupannya ini di jalaninya dengan penuh senyum, sabar, tegar dan pantang menyerah. Baktinya sebagai seorang istri dan ibu sungguh membuatku benar benar bangga akan sosoknya.
Dalam semua keterbatasan dan kesulitan yang di hadapi mamah, yang ku ingat dari masa kecilku adalah kasih sayang dan kesabarannya yang tidak pernah putus. Sampai kelas tiga SD sebelum keadaan memisahkan kami (saat itu aku harus berpisah untuk melanjutkan SD di Bandung), dengan segala keterbatasan aku menikmati masa kanak kanakku penuh dengan kegembiraan, petualangan petualangan yang mengasikkan. Selain itu senandung mamah dengan suaranya yang merdu, dongengan-dongengan mamah yang selalu membuat kami takjub, benar benar membuat masa kanak-kanak ku bahagia, utuh dan penuh.
Ah.. Mamah, beruntungnya Allah menakdirkan aku menjadi anak mamah, menjadi bagian dari mamah dan mendapat cinta kasih yang berlimpah dari mamah. Doa ku semoga apa yang telah mamah lakukan, mamah perjuangkan, menjadi amalan ibadah mamah yang tak terhingga kelak, hinga Allah akan menukarkan semua yang telah mamah korbankan dengan syurga-Nya yang abadi kelak. Amien….
Sesungguhnya ceritaku ini hanya seperti setetes air di lautan yang mewakili sosok mamah, ada berjuta bahkan bermilyar kisah ajaib, yang aku tak yakin apakah aku mampu untuk menceritakan semuanya. Tentu saja aku tak akan mampu
Bubuy bulan
Bubuy bulan sangrai bentang ……
Senandung yang kerap engkau dendangkan di telingaku dulu
Atau dongengan Sakadang kuya, kancil, dan buaya
Sampai kisah tauladannya para nabi terdahulu
Sungguh membuat takjub dan kerap ku tunggu
Atau belayan sayang tanganmu di rambutku
Dekapan hangatmu di tubuhku
Aahhhhhhhhh…Mamah sayang
Sungguh beruntungnya aku dulu
Tak sempat ku saksikan hingar bingarnya tv, yang bikin kita kini mengerenyitkan dahi
Apalagi sinetron, mistik dan berbagai macam goyangan yang sedang menghipnotis seluruh negeri kita saat ini
Aku bersyukur yang ku liat di sekelilingku dulu
Hanyasawah, jangkrik, sungai, bulan, bintang, dan mamah yang penuh cinta di sisiku.
I Love you and I miss you mah….
Baikpapan 24 May 2007
Note : Lagi latihan nulis lagi, cari inspirasi, yang terlintas masih mamah dan hanya tentang mamah. Duhhhh jadi sonooooooooo ka mamah.