tita's posts with tag: masa kecil
“Mah…dongengkeun cicalengka. Dongengkeun Ummi sareng Aki Oma di Pangalengan Dongengkeun oray anu aya di kebon bambu tea. Dongengkeun jin anu osok nyingsienan mamah. Mah…dongengkeun sagalaaaaaaaana ka teteh”. Atau bila di terjemahkan ke bahasa gaul kurang lebih seperti ini artinya “Mah…ceritakan tentang Cicalengka. Ceritakan tentang nenek Ummi dan Aki Oma sewaktu di Pangalengan. Ceritakan tentang ular yang suka keluar dari kebun bamboo. Ceritakan tentang Jin yang suka menakut nakuti mamah waktu kecil dulu. Mah… ceritakan semuaaaaaaaaaaaaaanya ke teteh…”. Kalimat atau permintaan itulah yang selalu dan selalu keluar dari bibirku saat kecil dulu. Lalu bagaimana dengan mamah ? …sepengetahuan atau seingatku belum pernah mamah menolak keingin tahuan ku ini. Mamah bisa lakukan acara yang menyenangkan ini sambil meninabobokan aku atau bisa juga saat mencari kutu misalnya. Hahhh..nyari kutu???...lha iyalah…orang waktu aku kecil dulu kalau keramas jarang pakai sampoo, apalagi kalau sudah mandi di sungai yang airnya kecoklat coklatan alias butek. Biasanya si kutu pasti berkembang biak dengan pesat. Pengalaman di cariin kutu..sambil tidur di pangkuan mamah, habis itu di dongengkan tentang segala hal tentang dunia luar sana, adalah salah satu pengalaman yang paling indah dalam hidupku. Saat di cariin kutu ini…imajinasiku bisa melanglang buana pergi kemana saja, ke daerah, ke kota yang lagi di ceritakan mamah. Badan ku memang terkungkung di tempat sepi, di sebuah teras di rumah yang sangat sederhana di daerah Transmigrasi sana, yang di sekelilingnya hanya terlihat hutan belantara saja. Tapi mamah bisa membawa imajinasiku jauh melesat, terbang, berkeliling ke tempat yang aku belum pernah menginjakkan kakiku di sana. Sambil di pepende (di ninabobokan) atau di cariin kutu ini aku jadi tau dan bisa membayangkan bagaimana indahnya hamparan perkebunan teh di Pangalengan tempat mamah kecil dulu, atau bagaimana panjangnya gerbong kereta api di Cicalengka, derasnya sungai Citarum di Sukarame tempat keluarga bapak tinggal, atau tentang apa saja yang ingin ku ketahui, mamah selalu siap memberikan informasi. Suara lembutnya, tawanya, usapan jemarinya di rambutku, rasanya masih terasa hingga kini. Dua puluh lima tahun berlalu setelah itu. Di suatu siang, aku tergugu, terharu, ahhh..aku kehabisan kata untuk mengungkapkan isi hatiku ini, yang jelas masa lalu yang indah itu seperti hadir kembali di tahun 2007 ini, di sebuah dapur sederhana di komplek Bangun Reksa Asri Balikpapan, tempat aku tinggal sekarang. Aku melakukan hal yang sama seperti yang mamah lakukan dulu, pada putri kesayanganku Ara, mencari kutu di rambutnya, sambil bercanda dan bercerita tentang apa saja pada gadis kecilku ini. Tau enggak de, dulu mamah juga suka di sayang dan di cariin kutu sama enin Lilis, seperti ade sekarang. Masa mah..emang mamah waktu kecil dulu ada kutunya juga. Lha iya lah..mamah kan si Bolang, si bocah petualang, sukanya mandi di sungai. Trus mah..trus mah…he..he.. akhirnya keingin tahuan ade terpancing juga. Ada komentarnya yang lucu sekali, saat aku mulai kelelahan karena kutu yang kita cari belum ketemu juga, komentarnya khas anak jaman sekarang. “Mah..kutunya enggak ketemu ketemu, kali kali lagi pergi ke mall Ramayana”, katanya lugu sekali. “Emangnya ngapain kutunya sampai ke Ramayana segala”, tanyaku makin ingin tau. “Ya kepasar lah mah..beli sayuran untuk di masak buat anaknya, abis ibu kutu selesai ngasih makan anaknya, nanti baru dia balik lagi ke rambutnya kaka”. Ha..ha..ha… aku tak kuat menahan tawa, tidak mau kalah kaka ara pun ikut ikutan tertawa hhaa….haa… akhirnya kitapun jadi tertawa bersama, berdua saja, dengan disaksikan Malaikat dan Allah tentu saja. Subhanallah…Walhamdulillah… Allahu Akbar Ya Rabb…berikan selalu kesehatan pada Mamah tercinta Sinari selalu jalannya….seperti mamah yang selalu menyinari jalanku ketika ku kecil dahulu…yang sinarnya, kasih sayang terus kurasa hingga kini….Amien. Saat cahaya masa lalu menghangatkan hati kami berdua Balikpapan 19 August 2007
Lama sekali aku ingin memiliki seorang adik. Yang bisa ku ajak bermain, berteman atau sesekali bertengkar. Bila malam menjelang, dirumah hanya ada kami bertiga, mamah, bapak dan aku saja. Suasana rumah terasa sepi dan sunyi. Kalaupun ada suara paling suara binatang, seperti jangkrik, kodok, kucing, anjing atau nyamuk yang saking banyaknya terdengar seperti suara air mendidih, saheng begitu orang sunda bilang. Belum lagi di luar rumah suasana gelap sekali, hanya sinar bulan dan bintang yang sesekali menerangi. Tak lama kemudian, kabar gembirapun datang, mamah hamil berarti tak lama lagi aku akan mempunyai teman, seorang adik yang selalu ku impikan. Namun yang bikin aku tak tenang, Mamah hamil di saat desaku lagi di liputi desas desus. Ada hantu Kuyang yang berkeliaran akan menghisap darah bayi bayi yang baru di lahirkan, begitu rumor menyeramkan yang terdengar. Hantu Kuyang ini berwujud perempuan, berambut panjang, seram dan bisa terbang. Yang anehnya badannya tidak ada, jadi hanya kepala dan usus yang menjulur, terbang kesana kemari mencari mangsa. Bahkan di daerah Longkali (nama desa tetangga), yang jaraknya tak jauh dari desaku, sudah ada korban bayi, jadi mangsa dan darahnya di hisap hantu Kuyang sampai meninggal. Tepat di hari Jum’at menjelang malam, tanggal 2 Oktober 1981, mamah tiba tiba mamah merasa akan segera melahirkan. Aku si gadis kecil menjelang enam tahun, di minta untuk memanggil salah seorang tetangga yang telah di anggap keluarga, bi Nyai namanya. Sedangkan Bapak langsung melesat pergi menjemput mak Enok seorang Paraji atau dukun beranak yang sudah terkenal di desaku, yang rumahnya cukup jauh dari rumahku. Aku sendiri, bergegas berlari, antara berani dan takut sekali. Suasana di luar gelap, tak ada sinar bintang apalagi bulan, awan mendung menandakan hujan akan turun. Hembusan angin yang bertiup kencang, makin mengoyang goyangkan dahan pohon nangka dan rambutan di sepanjang jalan yang ku lalui. Belum lagi suara sandal dan nafasku, membuat aku makin ketakutan sendiri. Aku terus berlari, semakin aku takut, semakin kencang aku berlari. Aku berlari, seolah olah ada bayangan mengintai, mengejar dan siap menerkamku. Sampai di rumah bi Nyai, akupun tidak bisa langsung mengetuk pintu rumahnya. Rumah bi nyai agak menjorok ke belakang, karena di depan rumahnya ada semacam sungai kecil, bisa melewati sungai ini, tapi jalannya agak menjorok ke bawah dan licin, namun mang Jaja suami bi Nyai, menggeletakkan sebatang pohon gelondongan yang berfungsi sebagai jembatan, ini di gunakan biasanya bila air sungai nya agak meluap. Di siang hari, melewati gelondongan kayu ini tentu perkara mudah, tapi di malam hari, saat hati sedang ketakutan begini tentu aku harus berpayah payah. Akhirnya tiada jalan lain selain berteriak teriak memanggil nama bi Nyai sambil memberi tahu tentang keadaan mamah. Tiba di rumah, aku melihat mamah mengerang kesakitan. Aku takut sekali. Samar samar, entah karena mamah takut juga, ku dengar mamah bicara ke bi Nyai. “Bi…ieu teh bi nyai?”…(Bi..ini bi Nyai kah ?”) “Sumuhun Lis…ieu bi Nyai” (Benar Lis…ini bi Nyai) “Lamun leures ieu bi Nyai…sok baca Alfatihah, ayat kursi…..”. (Kalau benar ini bi Nyai, coba bacakan surah Alfatihah, ayat kursi………) Tak lama berselang mak Enok dan Bapak datang, kemudian dengan di iringi zikir dan lantunan ayat suci Alqur’an, dari bibir mamah, bapak, bi Nyai, mak Enok dan aku sendiri, lahirlah se orang adik perempuan sekaligus teman bermainku. Erna Nurtania Syamsuddin, begitulah nama yang di berikan mamah dan bapak untuk adik perempuan ku ini.   Balikpapan 22 June 2007 Catatan : Rumor tentang hantu kuyang, tentu saja hanya sebatas rumor yang belum dan tidak terbukti kebenarannya. Namun di tunjang situasi dan keadaan desa yang sunyi lagi terpencil, hingga rumor sekecil apapun cepat tersebar sampai se antero desa. Mengenai adik, Kini adik ku telah menjadi kepala sekolah di Play Group dan TPA Mutiara Islam Balikpapan, telah menikah dan menjadi seoran ibu bagi putri kecilnya yang cantik, Naya.
Namanya mang Iwang, perawakannya tinggi, kurus, dan hitam. Rambutnya lurus dan agak gondrong. Pokoknya raut wajahnya tidak menyenangkan alias serem. Mang Iwang belum bekeluarga alias masih bujangan, tinggalnya juga kebetulan di sebelah rumahku, di rumahnya Nini dan Aki. Mang Iwang ini sangat di takuti anak anak, termasuk aku tentunya. Selain wajahnya yang serem, ada yang suka bikin anak anak takut setengah mati padanya. Ia suka mencium dan mengejar anak anak. Aku termasuk yang paling takut dan benci padanya. Anehnya para orang tua justru berteman dan tidak membencinya. Terkadang bila anak anak nakal, mereka para orang tua berpura pura berteriak memanggil mang Iwang, dan menyuruhnya mencium anak yang nakal tersebut. Yang jelas trik ini berlaku untuk anak perempuan saja. Dahulu, kala aku masih kecil tentu saja belum pernah ada kabar tentang perkosaan atau tindakan tak senonoh orang dewasa terhadap anak anak. Jadi kasus mang Iwang ini tidak terlalu meresahkan mereka para orang tua pada waktu itu, malah membantu mereka menakut nakuti bila anak anak bandel atau tidak patuh. Jadi orang tua tak berburuk sangka ke pada Mang Iwang, termasuk mamah dan bapak di rumah. Walau aku lari terbirit birit, ketakutan karena baru berpapasan dan menghindar dari ciuman mang Iwang, mamah bapak tetap tenang saja. Namun bagaimana bila hal itu terjadi kini, di zamanku, di abad millennium atau tepatnya di tahun 2007 ini. Dimana banyak perkosaan atau pelecehan seksual justru pelakunya dari kalangan terdekat, paman, ayah atau tetangga sendiri. Belum lagi masalah Pedofilia yang makin ngetren belakangan ini. Jangan salah, bila ku dapati anak gadis kesayanganku yang berumur empat tahun, nangis ketakutan karena ada om atau tetangga yang hendak menciumnya. Tentu aku tak akan tenang dan berdiam diri saja, bila perlu aku marah besar, trus ku ancam dengan melaporkan tindakannya ke polisi. Sungguh jauh berbeda dengan di jamanku dahulu, orang tua tetap tenang meninggalkan anak gadisnya bermain, karena tak pernah ada predator yang mengincar anak anak di jaman dahulu. Tak pernah terdengar ada pelecehan seksual apalagi perkosaan, suasana demikian tenang dan anak anak bebas bermain sepuasnya. Sampai kisah ini kutuliskan aku tak pernah tahu lagi kabar tentang mang Iwang, begitu juga mamah dan bapakku. Entahlah bila Allah mengizinkan kita bertemu, apakah aku masih membencinya seperti dulu ????? Balikpapan 22 June 2007
Saat masih tinggal di Blok C, Babulu Darat. Aku mempunyai tetangga yang rumahnya persis di samping kiri rumah kami. Hanya terhalang oleh kebun dan pohon buah buahan saja. Orangnya sudah tua, aku dan teman teman biasanya memanggil mereka Nini atau Aki (panggilan orang sunda untuk kakek & nenek). Aku sering sekali main ke rumah Aki dan Nini ini, terutama setelah aku memberi makan sapi peliharaan kami, REBO namanya. Kebetulan kandangnya, berdekatan dengan rumah Aki dan Nini. Sebelumnya Aki dan Nini ini tinggal di Waru (nama kota kecamatan di Kabupaten Pasir Tanah Grogot), namun setelah Aki sakit mereka pindah ke Blok C, dan langsung menempati rumah kosong yang telah di tinggalkan pemiliknya kembali ke Jawa Barat. Menurut desas desus yang ku dengar dari pembicaraan orang tua, Aki sakit karena di ‘guna guna’ setelah perebutan tanah dengan penduduk di sana. Pada waktu itu, hal hal yang berbau mistis memang sangat kental mewarnai desaku, mulai dari guna guna sampai hantu Kuyang, hantu yang suka menghisap bayi yang baru di lahirkan, atau suku lain biasa menyebutnya Leak, kerap jadi perbincangan hangat di antara para orang tua, tak ketinggalan jadi bahan obrolan seru diantara aku dan teman teman. Setelah sakit parah, Aki baru di bawa pulang ke desa. Aki sakit berbulan bulan lamanya, kemudian lambat lau perutnya jadi membuncit. Bila sakitnya sedang kumat, Aki suka berteriak teriak, meminta golok ke nini, ingin bunuh diri katanya. Yang kasian Nini, sedih, sibuk dan bingung sekali. Suatu hari, aku nemenin Nini dan Aki. Mamah dan Bapak sebenarnya sudah mewanti wanti agar aku tidak ke rumah mereka, karena takut bila Aki kumat bisa membahayakan orang di sekelilingnya, tapi aku bandel dan nekat aja. Terkadang keingin tahuanku suka mengalahkan nasehat mamah dan bapak. Rupanya saat aku bermain ke rumah Nini ini, Aki sedang meregang nyawa. Hanya ada kita berdua, nini dan aku di samping aki yang terus mengaduh kesakitan. Mulutnya meracau tak karuan, perut aki pun makin membesar, seperti ibu ibu yang hamil delapan bulan. Imajinasi kanak kanak ku makin membuat suasana semakin mencekam. Tak lama dari mulut Aki keluar buih dan darah. Nini yang panik langsung berteriak menyuruh aku memanggil orang orang. Berlari sekencang kencangnya, sambil berteriak teriak aku meminta pertolongan. Suasana sepi, siang hari begini para tetangga kebanyakan pergi ke ladang atau sawah. Begitu juga mamah dan bapak. Namun mamah dan bapak pergi ke ladang dekat rumah, letaknya di sebuah bukit dekat sumur di belakang rumah, mereka sedang menanam sayur Waluh Putih. Tak lama berselang tetangga berdatangan, kematian Aki pun dengan cepat menyebar. Aku, si gadis kecil belum lagi genap lima tahun, untuk pertama kalinya melihat bagaimana maut menjemput Aki, persis di depan mata. Tak hanya itu, aku juga menyaksikan dan menemani Aki, dari mulai di mandikan (yang ini ngintip ngintip penasaran) , di antar ke kubur, di masukkan ke tanah, di beri bantalan dari tanah yang di bentuk bulat bulat, di tutup papan, sampai akhirnya tanah menimbun dan menutupi tubuh aki seluruhnya. Sampai kini, kenangan akan kematian Aki masih tersimpan rapi di memori. Erangannya, teriakannya, perutnya yang membesar, sampai buih dan darah kental yang menutup mulutnya, tak akan pernah ku lupakan.   Balikpapan 22 June 2007 Catatan : Kematian Aki menjadi awal dari petualanganku pergi ke kuburan, karena setelahnya, setiap ada penduduk desa yang meninggal, aku dan teman teman tak pernah absent untuk melewatkan acara mengantar jenazah ini. Petualangan yang sungguh mengasikkan sekaligus menakutkan
Bapak harus pindah lagi ke desa Sarang Alang untuk mengajar di sd negeri sana. Dan seperti biasa, sebelum kita sekeluarga pindah, aku dan bapak pasti kebagian mengecek lokasi terlebih dahulu. Pertama kita cek keadaan rumahnya, mana tau rumahnya rusak dan perlu di perbaiki, terus bagaimana keadaan sekelilingnya, sekalian berkenalan dengan calon tetangga, tentu saja bila ada. Menurutku kampung Sarang Alang ini benar benar menggambarkan namanya, dimana mana penuh dengan rumput alang alang yang tingginya melebihi badan manusia, bahkan bisa melebihi tinggi rumah dinas bapak. Letak rumah tetangga berjauhan dan tidak kelihatan karena berada di balik alang alang. Penduduknya pun relatif jarang, bahkan bisa di hitung dengan jari. Suasananya benar benar sepi, gelap, tunggul bekas pembakaran lahan bertebaran di mana mana, di geletakkan begitu saja, sebagian bahkan masih mengeluarkan asap. Kalaupun ada tetangga, ya biasanya dari bangsa atau suku lain, misalnya dari bangsa monyet, ular atau babi hutan. Bahkan awalnya tetangga kita lebih banyak dari bangsa mereka, daripada bangsa manusia, terutama dari bangsa monyet. Dan tetangga yang paling sering bertamu ya si monyet ini, sekalipun tidak di undang tetap saja datang. Bahkan mereka tidak hanya berani bermain di halaman rumah, mereka sesekali nekat tanpa kulonuwun, langsung nyelonong ke dapur, sekalian minta makan rupanya, wah betul betul tidak sopan. Bila sore menjelang, air sungai yang warnanya coklat pekat, yang rasanya campuran antara tawar dan asin (air payau) akan pasang. Bila pasangnya besar, otomatis akan meluber ke jalan, ke paret dan ke kolong rumah dinas bapak. Air akan menggenangi halaman rumah kita atau sekolah. Pemandangan lainnya, jangan kaget bila ular dan berbagai jenis binatang sungai lainnya hilir mudik, berseliweran dan sesekali show up, unjuk gigi nakutin kita yang emang penakut. Penduduk desa Sarang Arang kebanyakan dari suku Bugis, Pasir, dan Banjar. Mata pencaharian mereka bertani, menanam sayur, dan rata rata mempunyai kebun kelapa yang luas, dan sebagian kecil lagi menjadi nelayan. Bila hendak ke Sarang Alang, kita mempunyai dua alternative jalan, bisa lewat jalan setapak yang bila hujan kita harus ekstra hati hati karena becek dan berlumpur, jaraknya sekitar lima kilo meter. Atau bisa juga lewat jalan sungai menggunakan perahu dayung atau perahu bermesin bila memang kebetulan ada yang hendak pergi ke Sarang Alang. Setelah kepindahan kami yang kedua kalinya ini, aku sempat bingung dan menyimpan pertanyaan besar di hati, yang sayangnya tidak pernah berani ku tanyakan sampai kelak aku besar nanti. Bila keluarga lain pindah selalu ke kota atau minimal ke desa yang lebih banyak penduduknya, lebih bagus jalannya, tapi mengapa bapak justru sebaliknya. Pindahnya makin jauh ke dalam hutan. Pertama pindah ke tempat sunyi bernama Babulu Laut yang bila mau menuju kesana, harus pake perahu kecil melewati sungai yang seram, atau jalan kaki melewati jalan setapak yang sempit, licin dan terkadang berlumpur, jaraknya jangan di tanya bisa sampai berpuluh puluh kilo meter jauhnya. Kini lagi lagi bapak pindah ke tempat yang menurutku lebih parah lagi. Makin menjorok kedalam hutan, yang penduduknya saja bisa di hitung dengan jari. . Begitulah Bapak sang kepala rumah tangga, bertaruh nyawa demi masa depan keluarga. Tak kenal lelah apalagi putus asa, terus mencari celah agar hidup kami lebih baik lagi. Di Sarang Alang inilah awal perekonomian kami bisa lebih di harapkan untuk mengantungkan masa depan. Kelak bapak dan mamah akan merintis lahan, membelah hutan demi masa depan, untuk membuat empang (tambak bandeng dan udang). Namun satu hal yang tak pernah terpikirkan, kepindahan keluargaku kali ini, ternyata akhir dari kebersamaan ku dengan bapak, mamah, dan kedua adik kecilku erna dan irman. Karena sd tempat bapak mengajar di sarang alang kelasnya baru sampai kelas tiga, sedangkan aku mulai naik kelas empat. Maka tak ada pilihan lain untuk mamah dan bapak selain menitipkan aku di rumah nenek di Cicalengka, Bandung. Akhirnya kutinggalkan Sarang Alang, yang bila Magrib menjelang, seperti tak ada kehidupan. Aku pergi ke rumah nenek yang lebih terang. Lalu dimulailah lagi petualangan petualangan seru dalam kehidupanku, hanya kali ini tanpa mamah, bapak dan kedua adik tercinta di sampingku. Kali ini aku sendiri, mengikuti jalan Allah yang telah di gariskan untukku. Balikpapan 7 June 2007
Ada yang selalu membuat ku geli bahkan tertawa terpingkal pingkal bila aku jumpa dengan mamah di kampung Babulu, terus curhat dan biasanya selalu flash back ke masa lalu, apalagi kalau bukan ngobrol masa kecil dahulu, yang tak pernah bosan kita ulang ulang ceritanya. Ada sebagian cerita yang aku lupa dan biasanya mamah atau bapak dengan senang hati menceritakannya kembali. Kisah mengenai orang kaya ini adalah termasuk salah satu kisah pavorit kami. Waktu kecil, karena keluguan dan keprihatianan keluargaku dari segi ekonomi, membuat aku mempunyai definisi sendiri mengenai orang kaya, sangat sederhana dan terkadang bikin geli, dan tentu saja berkaitan dengan hal hal yang sangat ku inginkan, ku impikan namun kenyataan saat itu, belum memungkinkan. Suatu waktu aku pernah lari tergopoh gopoh menemui mamahku, hanya untuk menceritakan bahwa temanku Hendi dan Ujang adalah anak orang kaya. Saat mamah Tanya kenapa, aku dengan lugu menjawab, karena aku menonton mereka saat selesai di sunat, di beri ibunya telur bebek rebus satu orang satu. Kali lain aku bilang lagi sama mamah, kalau teh Yani kakanya Hendi dan Ujang itu orang kaya juga. Seperti biasa, mamah selalu bersedia menanggapi lalu bertanya kenapa, karena rumahnya sudah di semen dan aku pernah melihat mereka makan kepiting, asyik sekali sampai membuatku ngiler, jawabku lugu. Yang bikin mamah geli, ketika aku lari tergopoh gopoh hanya untuk menceritakan aku berjumpa dengan orang Indonesia, di benakku orang yang ngomong pake bahasa Indonesia, juga pasti orang kaya karena kelihatannya keren. Mamah lagi lagi tersenyum menyimak ceritaku, dan saat mamah berkata, kalau orang yang aku jumpai itu orang Indonesia, jadi teteh ini orang apa. Dengan pd nya aku berkata, teteh kan orang Sunda bukan orang Indonesia. Yang pasti untuk beberapa lama, aku selalu percaya kalau aku ini orang Sunda bukan anak Indonesia. Satu atau dua tahun setelah itu, kami sekeluarga pindah ke desa Babulu Laut. Dan tidak perlu menunggu aku besar dan dewasa, saat kelas tiga sd aku sudah terbiasa makan ikan atau kepiting yang membuat aku ngiler dulu. Bahkan beberapa tahun kemudian, bapak bisa memiliki empang sendiri, hingga aku bisa makan ikan, udang dan kepiting sesuka ku. Namun yang mengherankan saat aku bisa mencapai apa yang ku impikan dahulu, aku tidak merasa menjadi anak orang kaya, rasanya biasa saja. Mubngkin karena Mamah dan bapak memang selalu mengajarkan kami anak anaknya selalu rendah hati. Satu hal yang membuat aku bahagia, setiap panen tiba, mamah dan bapak tak lupa membawakan ikan atau kepiting kepada para tetanggaku di Babulu Darat dulu. Bapak ingin mereka dapat merasakan apa yang telah keluarga kami rasakan sekarang, berbagi rejeki, berbagi kebahagiaan. Dari beberapa cerita ku tentang orang kaya, yang ini adalah cerita favorit kami, karena tentu saja meninggalkan kesan dan kenangan mendalam, bahkan hingga kini ketika aku telah dewasa, mempunyai keluarga dan anak sendiri, kenangan ini terus terpatri. Adalah lilis nama sahabatku ini, sama dengan nama depan mamahku. Rumahnya persis di samping rumahku, hanya terhalang dengan pohon nangka, rambutan, salak dan nanas. Bahkan bila aku hendak bermain dengannya, cukup melintasi kebun di samping rumah saja, maka aku akan langsung tiba di halaman rumahnya. Lilis mempunyai beberapa kaka laki laki dan dua kaka perempuan. Salah satu kaka perempuannya yang bernama teh Atik menikah dengan orang kaya menurut ukuran tetangga saat itu, yaitu menikah dengan seorang pegawai entah pegawai PU atau Puskesmas, yang jelas bukan dengan petani seperti kebanyakan penduduk di desa ini. Kemudian menempati sebuah rumah yang terbuat dari batu bata, yang pada saat itu sangat sangat jarang di temukan, lokasinya dekat Puskesmas, yang jarak tempuhnya dari rumahku sekitar 5 kilo meter lebih. Namun aku mempunyai pandangan berbeda dengan orang di kampungku, menurutku bukan karena menikah dengan seorang pegawai, atau mempunyai rumah dari bata teh Atik di sebut kaya. Menurutku, Teh Atik orang kaya karena setiap ia datang mengunjungi orang tuanya, teh Atik selalu diantar pake sepeda motor bebek oleh suaminya, plus tak pernah ketinggalan topi lebar yang terbuat dari anyaman rotan, selalu bertengger anggun di kepalanya. Penampilan kaka temanku ini selalu membuatku berdecak kagum. Seperti melihat artis yang ada di kartu hadiah dari chiki, yang biasa ku beli di warung. Puncak kekaguman ku pada teh Atik adalah, saat ia mulai mengeluarkan kapas ajaib dari tasnya. Kapas itu mempunyai beberapa warna, putih, pink, hijau muda dan biru muda. Aku lupa lagi nama merknya. Yang jelas saat teh Atik mulai membersihkan mukanya inilah yang mampu membuat ku menghentikan permainan se seru apapun permainan yang sedang ku lakukan saat itu. Menurutku teh Atik orangnya baik, selain suka tertawa, tawanya juga renyah sekali, jadi terkesan ramah walau pada anak anak. Selain itu teh Atik baik karena tentu saja telah membolehkan aku menonton atau memperhatikan saat ia sedang membersihkan muka, bau suka tertawa, renyak sekali, juga , umah saja sangat di inginkannya waktu kecil dahulu. Ya sederhana namun ahkan sesekali aku di bolehkan mendekat atau sekedar memegang kapas ajaib itu. Hemmm…lembut sekali di tangan, hingga membuat aku berkhayal, suatu saat nanti bila aku sudah besar dan sekaya teh Atik aku akan mempunyai sendiri kapas warna warni sama seperti yang di miliki teh Atik ini. Kini, walaupun telah melewati masa lebih dari dua puluh lima tahun, namun aku masih selalu terkenang dengan teh Atik dan kapasnya itu. Aku selalu tersenyum bila pergi ke mall, melewati lorong di deretan produk kecantikan. Kapas ajaib itu, yang warnanya bermacam macam itu, yang membuat aku dulu takjub setengah mati, aku kini bisa memilikinya dan biasa membelinya sebulan sekali. TE Balikpapan 25 May 2007
| |