Tercenung lalu diam
Perlahan rasa hampa mulai menyelimuti rongga dada
Atas nama cinta
Ku ikuti segala kehebohan dunia
Pekerjaan…anak dan segala rupa…
Bisa kubuat menjadi prioritas utama
Lalu tiba giliran membuat janji berbicang dengan sang empunya jiwa
Bisa kah aku membuat prioritas yang sama
Atau terbenam lagi dengan hiruk pikuk dunia yang tak pernah ada ujungnya
Allah…tolong hamba..
Lelah…kosong…hampa….kini makin menyesakkan dada 
“Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbiy ‘alaa diinika wa’ala thoo’atika”
(wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk tetap konsisten dalam dien-Mu dan dalam menta’ati-Mu).
********************
Sekeping hati di bawa berlari
Jauh mengarungi jalanan sunyi
Jalan kebenaran indah terbentang
Di depan matamu para pejuang
Tapi jalan kebenaran
Tak akan selamanya sunyi
Ada ujian yang datang melanda
Ada perangkap memburu mangsa
Akan kuatkah kaki yang melangkah
Bila di sapa duri yang menanti
Akan kaburkan mata yang menatap
Pada debu yang pasti kan hinggap
Mengharap senang dalam berjuang
Bagai merindu rembulan di tengah siang
Jalannya tak seindah sentuhan mata
Pangkalnya jauh ujungnya belum tiba
( SAUJANA )