tita's posts with tag: resensi buku
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Souad |
Penerjemah : Khairil Azhar Tebal : 290 halaman Cetakan : 5, Februari 2007 Harga : Rp. 38.900 Gramedia Balikpapan
Buku ini saya beli tanggal 18 Oktober 2007 lalu, dan saya telah membacanya untuk yang ketiga kali. Heran…??? Jangan, karena sudah menjadi kebiasaan, masa jeda untuk memperoleh buku berikutnya ku hibur dengan membaca buku buku lama. Adapun kali ini saya tulis review nya selain dalam rangka belajar, hal lain karena tertular “virus iri” sama teh Echy dan teh Uci atau yang di kenal ibutio si jago masak itu ..(review perdananya langsung dapat buntelan bo…..hiks..bikin daku ngiler saja).
Buku ini menceritakan tentang seorang gadis Souad namanya yang lahir di sebuah desa di tepi barat Palestina. Ia di bakar hidup hidup oleh kaka iparnya atas kesepakatan keluarga, karena telah merusak kehormatan keluarga, hamil diluar nikah. Sampai akhirnya ia di selamatkan oleh Jacqueline seorang yang bekerja di sebuah organisasi social, lalu di bawa ke Swiss untuk di obati dan 25 tahun kemudian ia bersaksi dan menceritakan kembali kisahnya lewat buku ini.
Kemalangan yang menimpa Souad bermula dari impiannya akan sebuah kebebasan, bebas dari perlakuan brutal bapaknya yang tak henti menyiksanya hanya karena ia terlahir menjadi seorang anak perempuan. Dan satu satu jalan menuju kebebasan itu adalah melalui perkawinan, meninggalkan rumah orang tua dan tinggal di rumah suami, walaupun di sana mereka juga kerap di pukuli. Celakanya adat setempat juga mengharuskan seorang gadis menunggu giliran untuk di kawinkan, kakak tertua dulu baru disusul yang lainnya. Kainat kaka Souad belum juga ada yang mau melamarnya, padahal umur mereka telah layak menjadi bahan olok olok tetangga, dan menjadi aib keluarga. Sampai akhirnya Souad mendengar ada seorang lelaki melamarnya, dan setelah melihat secara sembunyi2 ia langsung jatuh cinta padanya. Terobsesi akan sebuah perkawinan, impiannya akan kebebasan, ia pertaruhkan hidupnya dalam bahaya dengan menyerahkan kehormatan pada lelaki pengecut yang ternyata hanya memanfaatkan kenaif pan cintanya. Tak lama apa yang ditakutkannya terjadi, ia hamil dan lelaki yang di cintainya tak kunjung datang melamar. Setelah keluarganya tahu, Souad mulai di kucilkan, dan dalam pertemuan keluarga, kata kata kaka iparnya “Aku akan mengurusnya”, memberi tanda bahwa vonis kematian telah diketukkan untuknya.
Secara keseluruhan buku ini intinya menceritakan penderitaan dan malangnya nasib perempuan. Bagaimana Souad di selamatkan dan perjuangannya untuk “membangun rumah baru”, serta perjuangannya melepas bayang bayang masa lalu yang terus menghantuinya.
Kasus kasus pembunuhan atas nama kehormatan ini terjadi hampir di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia sendiri. Adat istiadat, budaya dan truktur hukum yang tidak melindungi perempuan makin membuat berbagai kasus pembunuhan atas nama kehormatan ini makin susah terungkap dan terkubur di lembaran paling kelam sejarah perempuan. Adapun kasus yang diangkat dari tepi barat Palestina yang notobene berpenduduk muslim, sebenarnya makin memperkuat keyakinan kita, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Islam adalah agama yang sangat Rahmatan Lil Alamin dan sangat menjungjung tinggi harkat dan martabat perempuan.
Satu hal yang membuat saya kecewa pada kisah Souad ini, pilihannya untuk tinggal bersama dengan seorang lelaki-2 yang di cintainya, setelah ia tinggal di Eropa, walau pada akhirnya ia menikah juga. Tapi begitulah hidup bukan, begitupula dengan kisah Souad, tidak semuanya harus sesuai dengan keinginan dan harapan kita.

 | Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Dina Y. Sulaeman |
Ini adalah buku uni Dina yang ketiga yang saya baca, pertama adalah Mukjizat Abad 20 Doktor Cilik Hafal dan Faham Al-qur’an, yang saya beli sebelum berkenalan di MP dan akhirnya membuka jalan untuk mencari rumah mayanya di multiply, dan yang ke dua buku rame ramenya Oh Baby Blues. Kemudian setelah mengenalnya, memiliki buku uni Dina seperti menjadi kewajiban bagi saya. Dan khusus untuk Pelangi di Persia, buku yang teramat istimewa bagi saya, bisa saya katakan Allah mengirim buku ini lewat uni Dina khusus untuk menghibur saya yang tengah di landa cemas pasca musibah Ara Juni 2008 lalu. Thanks ya Uni…semoga Allah selalu memudahkan Uni dalam menulis buku buku berikutnya, Amien.
Berbicara tentang Iran mau tak mau saya mengingat kembali informasi apa yang saya ketahui tentang Iran. Hemmm…yang terbayang pertama tentu saja kecantikan dan kemodisan perempuan Iran di balik jubah atau Chadurnya yang serba hitam itu, Islam Syiah nya yang sampai saat ini masih membuat saya bingung, gempa bumi yang sering terjadi di negeri yang langganan di boikot PBB ini, dan yang terakhir adalah tentu saja Ahmadinejad (idolaku gituu..), lelaki mungil nan sederhana, namun tegas dan berani melawan kesombongan mr bush, presiden sebuah negara yang sering di gelari adi kuasa.
Pelangi di Persia benar benar makin membuka cakrawala pengetahuan saya tentang negeri Iran. Subhanallah…membaca buku ini bukan seperti membaca memoar perjalanan biasa, tepatnya seperti membaca buku sejarah namun di kemas dalam bahasa yang asyik, tidak membosankan dan jauh dari mumet dah pokoknya. Semua lengkap di kupas, tidak hanya sejarah situsnya, budaya dan adat istiadatnya, yang tak kalah menarik di kupas juga negeri Iran dari sisi politiknya.
Setelah saya membaca buku In the name of honor (cerita seorang perempuan Afganistan) dan Burned A live (cerita perempuan Palestina), terpikir di benak saya, perempuan Iran pun sama saja, selalu menjadi yang tertindas dan selalu menjadi subordinate semata. Ternyata wow..sungguh melegakan, perempuan Iran ternyata berbeda, mereka lebih berani dalam mengemukakan pendapat dan diberi ruang yang luas dalam hal pendidikan dan pekerjaan oleh pemerintahnya. Cerita masalah mahalnya mahar dan kepedulian mereka akan penampilan dan keakraban mereka dengan salon agak sedikit menyinggung sekalingus membuat saya tertawa. Patut juga di contoh oleh perempuan Indonesia menurut saya.
Nah..karena ini lagi lagi buku kolaborasi dengan akangnya, perjalanan kang Otong Sulaiman suaminya uni Dina ke Yazd, Kerman, dan Shiraz memberi nuansa baru, tidak hanya menceritakan sejarah kota kota tua lengkap dengan situs purbakalanya, namun juga persahabatan singkatnya dengan Mehdi supir taxi yang bermata biru itu sungguh mengharu biru pula dan sempat membuat hidung saya bergerak tanda ada air mata haru mau lewat. Saya juga terkesan dengan cerita petualangan si Akang, karena rasa penasarannya hingga akhirnya sukses menemukan makam tokoh terkenal, yaitu makam Sibawaih konseptor besar dalam ilmu Nahwu (Gramatika Bahasa Arab).
Jadi singkatnya buku kolaborasi antara uni Dina dan akangnya ini menarik dan menjadi buku wajib tidak hanya untuk orang yang hendak berwisata atau belajar ke negeri Iran semata, tapi bagi siapa saja yang mau melihat indahnya pelangi di negeri yang di pimpin sosok pemberani, Ahmadinejad ini.
Catatan : alasan saya kasih bintang 5 seperti saya bilang di atas, buku ini menurut saya buku sejarah yang mengasikkan, tdiak bikin bosan apalagi mumet ngebacanya. Buku ini selesai di baca dalam waktu dua minggu, tapi real waktunya sih dua hari dah tuntas.

 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Tetsuko Kuroyanagi |
Aku tau ceritanya Toto Chan udah lama sekali, waktu itu pinjam punya teman, tapi buku ini baru ku miliki dua tahun lalu. Walau udah baca, hasrat aku untuk memiliki buku ini tak padam jua, trus sering ngacai bila ngeliat buku ini di Gramedia. Harganya yang kala itu lima puluh ribuan, bikin aku terus nimbang nimbang beli bukunya anak anak apa beli buku Toto Chan yang ku idamkan ini. Akhirnya selalu Totochan yang terkalahkan. Sampai Allah kasihan sama aku, dan akhirnya seorang sahabat mba Leny namanya, ngehadiahkan aku buku ini. Thanks ya say...
Toto chan termasuk salah satu buku favorit aku, ceritanya ringan, trus lucu juga. Keluguan, kepolosan Toto Chan sebagai anak yang serba ingin tahu, benar benar makin klop setelah ketemu dengan Mr Kobayashi, kepala sekolah Tomoe yang baik hati itu. Banyak anak yang memiliki masa kecil yang indah, namun jarang sekali memiliki kenangan yang indah tentang sekolah apalagi kepala sekolahnya. Buku ini menurut aku sangat cocok di baca oleh para guru, terutama guru TK atau SD, juga termasuk oleh para orang tua yang masih punya anak balita. Bahkan aku jadikan salah satu bacaan sebelum tidur untuk anak anak di rumah. Kk Alief dan Ara, suka bila aku bacakan buku ini, biasanya mereka pilih judulnya dulu, terkadang kita gantian bacanya, terkadang kita tertawa bersama, pokoknya di jamin asyikkkkkkkk dah…cobain aja !!!!

| Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Neno Warisman |
Di Mesjid Istiqomah Balikpapan 28 January 2006 adalah awal aku bertemu dengan buku ini, setelah beberapa minggu mencari di beberapa toko buku besar di Balikpapan, namun tak satupun yang memajangnya disana, “masih di pesan”, begitu jawaban mereka selalu. Alhamdulillah setelah mendengarkan seminar dan launcing majalah Female Readers yang saat itu mengangkat tema “Andai Kartini Khatam Mengaji” akhirnya Allah memberi jalan hingga buku ini akhirnya ada ditanganku.
Aku bertemu dengan bunda Neno sekitar empat tahun yang lalu di gedung BRI lt 8 saat bunda Neno & bunda Elly Risman mengisi seminar parenting “Mengasuh anak kita agar sehat dan lurus seksualitasnya”. Perjumpaan pertama itu begitu berkesan mendalam, dan Biiznillah.. telah membuka hati dan cakrawala berfikirku dalam kaitannya dengan masalah pola asuh anak, dan bagaimana aku melihat atau menemani dan membimbing buah hatiku ke depan, aku jadi mempunyai planning, arah dan tujuan. Selanjutnya aku selalu mencari berita tentang beliau berdua. Karya bunda Neno terutama mengenai bagaimana cara bunda Neno menemani buah hatinya sangat aku tunggu tunggu selama ini.
Membaca buku ini, pertama yang kurasakan hatiku bergetar, terharu, kagum, selanjutnya mengintropeksi diri, apa yang telah aku lakukan dan belum aku lakukan dalam hal membimbing & menemani kedua buah hatiku saat ini. Benar kata bunda Neno, bahwa semua yang bunda alami pernah pula di alami oleh seluruh ibu di dunia ini tanpa kecuali, benar bahwa semua anak di dunia ini pasti mempunyai bakat atau keistimewaan sendiri tanpa kecuali. Hanya saja tidak semua ibu atau orang tua menyadari bahkan mau berusaha untuk menyadarinya. Allah swt dan nabi kita Muhammad saw berkata bahwa setiap anak di dunia ini dilahirkan dalam keadaan fitrah atau bersih laksana kertas putih yang masih kosong, tinggal bagaimana orangtuanya hendak menjadikan apa ia, seorang yahudi, nasrani, majusi atau seorang anak yang sholeh taat pada Allah yang telah menciptakannya dan orangtua yang telah melahirkannya kedunia ini. Amanah luar biasa ini ada di tangan kita orang tua terutama IBU.
Aku kutip salah satu tausiah bunda Neno yang sangat menyentuh dan membuatku bersemangat kembali. “Maghfira..atau anak manapun saja di muka bumi, andainya mereka di beri peluang untuk tumbuh dengan patut dan mulia, diberi ruang untuk mengembarakan pikirannya hingga mampu menganalisis dan menemukan jawaban atas keingintahuan mereka sejak dini, dan kita sebagai orang tua mau bersabar menemani,…saya yakin, mereka akan menjadi orang orang besar dunia!Dengarlah sekali lagi : ORANG-ORANG BESAR DUNIA!
Dalam satu bulan, ini kali ketiga aku membaca buku ini, buku ini telah menjadi temanku seperti hal buku parenting lainnya yang telah jauh hari menjadi temanku. Teman dalam hal berbagi semangat dalam menemani kedua buah hatiku dirumah. Kemudian tentu saja hanya kepada Allah, aku meminta perlindungan, bila Syeitan mulai mengajak berkawan, hingga tanduk di kepala keluar, mata merah melotot, suara nyaring menghardik mulai terdengar, dan buah hati mulai menjadi pelampiasan, tak lagi aku muliakan. Ya Rabb..hamba mohon, lindungi hamba menjadi ibu yang mengerikan seperti itu.
Membaca buku ini, di awal tahun baru 1 Muharram 1427 H ini, ada mutiara yang bersinar terang di hati dan menjadi komitment ku tahun ini. “Aku ingin selalu melibatkan Allah dalam menemani kedua buah hatiku, dalam setiap detik, menit, jam atau waktu yang masih kupunya. Rabbi..amienkan ..kabulkan doa hamba.
Balikpapan 9 Februari 2006
Bunda Neno, bunda Ely… Karena Allah aku merindukan kalian selalu Bila Allah belum lagi mempertemukan kita Tak mengapa, namun untuk mengobati rindu Maukah kalian menyapa kami selalu Lewat karya yang kalian cipta karena Allah semata Bunda ..ku tunggu karyamu selanjutnya……..
 | Category: | Books | | Genre: | Parenting & Families | | Author: | Agnes Triharjaningrum |
Mutiara dari sahabat maya
Liburan Idul Adha juga kesibukan membuat laporan HSE karena sebentar lagi kantorku akan di audit, membuat aku tersadar ternyata sudah hampir seminggu aku tidak membuka email. Begitu ID dan password ku masukkan, buzz… Mataku langsung tertuju pada email berwarna biru tanda belum ku baca berderet rapih di layar kaca. Email dari teman mulai dari masalah Idul Adha, Palestina sampai Isu Formalin yang lagi santer di Indonesia berderet memenuhi halaman pertama mailbox ku. Sampai akhirnya mataku tertuju pada deretan paling bawah, email dari sahabat mayaku teh Agnes.
Barisan kata-kata yang kubaca membuat aku terkesiap dan gagap, “Buku aku udah siap terbit, sekarang Ita aku beri kehormatan nih sebagai sahabat setia yg mengunjungi blogku untuk memberi endorcement”, begitu isi pesannya. Duh hatiku langsung gerimis, antara merasa tersanjung karena aku di beri kesempatan menjadi orang ketiga yang membaca naskahnya, turut bahagia karena menulis buku adalah salah satu yang sudah lama di idam-idamkannya, panik antara ingin cepet baca naskah buku atau nyelesaikan dulu laporan yang berjibun di meja, sekaligus feeling hopeless karena sepertinya penawarannya ini sudah expire alias tak berlaku lagi.
Hemm..aku jadi ingat ketika saat pertama kali berkenalan dengan sosok ibu yang satu ini, Allah Yang Maha Penyayang mengenalkan aku dengan teh Agnes dengan cara yang sungguh indah dan unik. Di bilang unik, karena aku merasa sudah sangat dekat walau belum pernah berbicara apalagi bertatap muka dengannya.
Ceritanya saat itu aku sedang mencari artikel tentang kesehatan reproduksi wanita khususnya masalah aborsi yang ingin aku sharing dengan teman di pengajian. Subhanallah hanya melalui perantara PC, colokan kabel telephone, dan dengan perantara ‘mbah google’ (saya ambil istilahnya teh Agnes) dalam sekali klik hitungannya juga detik Allah langsung mengantarkan aku kerumah maya teh Agnes nun jauh di negeri Belanda sana.
Awalnya hanya membaca topik yang tengah ku cari, lama-lama aku keasyikan melahap menu lain yang teh Agnes suguhkan dirumahnya. Selanjutnya ‘Diary Parenting’ adalah yang menjadi menu pavoritku setiap kali aku berkunjung ke rumah mayanya. Jarak dan waktu yang terbentang jauh antara Balikpapan dan Belanda, kini tak lagi menjadi kendala. Boleh jadi bila silaturahin ini dilakukan di dunia nyata, teh Agnes bisa cemberut dan keki dibuatnya. Lha wong saban hari aku berkunjung, kapan teteh punya waktu buat masak, ngurus anak dan rumah tangga. Tapi Subhanalah begitulah Allah memberi kemudahan bila bersilaturahmi di dunia maya, hingga aturan dan batasan waktu menjadi nomor dua.
Tepat jam satu malam aku terbangun, oalah..lagi-lagi acara menina bobokan kedua buah hatiku selalu membuat mata dan badanku yang lelah ikut hanyut dalam buayan pulau kapuk yang begitu nikmat menggoda. Ditengah kesunyian, setelah menghadapkan wajah pada sang Khalik sang empunya malam, dan sambil menyempatkan merendam cucian yang begitu menggoda ingin segera kubereskan. Lalu perlahan kuambil naskah buku yang tadi siang terburu-buru kubaca. Malam ini aku ingin menikmati halaman per halaman semua curahan hati teh Agnes dengan hati tenang.
Subhanallah setelah membaca bukunya, kesan yang kurasakan sama seperti saat pertama kalinya mengunjungi rumah mayanya Juni tahun lalu. Tulisannya sederhana, mudah dicerna tapi sarat akan makna. Perjalanan batin teh Agnes terutama saat menemani dan membimbing kedua buah hatinya sungguh memberi inspirasi luar biasa bagi diriku. Selalu ada mutiara yang bisa ku ambil dari perjalanan batinnya. Terutama saat ia sedang luka, merasa sendiri, dan tak berdaya menghadapi medan jihadnya di rumah, dalam menjalankan amanah menemani dan membimbing anak-anaknya menjadi anak yang sholehah. Membesarkan anak-anak di negeri berwajahkan sekuler, tentulah bukan perkara mudah.
Lalu bagaimana dengan diriku ? Ampuni aku ya Robb…bahkan setelah aku diberi berbagai kemudahan oleh-Mu, diberi rumah dekat Mesjid, bisa menyekolahkan anak di lingkungan Islami, bertemu teman-teman di Liqo yang sholehah. Tapi membimbing kedua buah hatiku, tetap saja suka lengah dan payah. Bahkan aku sering mencari bermacam alasan, hanya sekedar menghindari rengekan kedua buah hatiku untuk ditemani sholat di Mesjid, berkelit dan mengobral janji esok hari saja bila putra ku minta di bacakan buku, dan berbagai alasan yang kubuat hanya karena lelah tapi bila sedikit saja aku berusaha aku sebenarnya mampu melakukannya. Semoga semua kisah yang baru saja ku baca, membuat aku belajar mengejar ketertinggalan, dan Biiznillah harapan dan impianku mempunyai anak-anak yang sholeh dan sholehan dapat terwujud.
Khusus untuk teteh Agnes selamat ya, diary mengenai pola pengasuhan anak kini menjadi lahan dakwah bagimu, tidak hanya di rumah mayamu tapi kini sudah ada di dunia nyata lewat buku ini. Hingga para pembaca yang belum mempunyai kesempatan menjamah internet, tetapi concern dan giat mempelajari ilmu parenting dapat juga menikmati bukumu ini.
TE, Balikpapan 15 Januari 2006

| |