tita's posts with tag: school

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag school
Blog EntryKaka Alief Hilang...!!!Feb 24, '08 10:41 PM
for everyone

Jam 13:30 siang saat saya sedang discuss dengan beberapa teman di kantor Manulife Insurance, tiba tiba suami call me, “Mamah ..kaka Alief enggak ada di sekolah, semua lagi sibuk nyari kaka sampai Raker nya di tunda”.  “Lho..kok bisa sih pah?”.  “Iya..papah terlambat menjemputnya karena bla..bla..bla..”.  Astagfirullahal adzim ..aliran darah serasa berhenti….lemasss…dan nyut ..nyut..nyut..ujung kepala langsung berdenyut.

 
Di rumah masalah harus meminta izin bila hendak pergi ke rumah teman atau pergi  kemanapun adalah salah satu peraturan yang wajib di lakukan.  Bila di langgar sangsinya pun mematikan, jatah mainnya di kurangi beberapa hari atau yang paling parah jatah peluk dan baca buku pengantar tidur di tiadakan.  Dan Alhamdulillah It’s work.  Namun peraturan ini tentu saja tidak hanya harus di taati di rumah saja, tapi di sekolah juga sama.  Terutama masalah jam pulang sekolah, tidak boleh tergiur oleh ajakan  seseorang walaupun di kenal (apalagi tidak di kenal) tanpa sepengetahuan ibu atau bapak guru, selalu di tekankan.  Berbagai alasan mengapa ini tidak boleh pun sudah sering di ceritakan, big issue nya adalah tentu saja masalah Penculikan.  Bahkan di rumah issue ini di sosialisasikan semenjak kaka memasuki usia angka 2.  Mengapa??

 
Kaka Alief anak pertama kami ini dari sejak kecil sudah terlihat anaknya supel sekali, selain itu berani, lincah, kreatif, tidak malu malu, tidak menolak bila diajak siapapun tak terkecuali oleh orang yang tidak kenal, terutama bila yang mengajak itu  memiliki mobil.  Untuk yang terakhir, ini yang selalu membuat saya dan suami ketar ketir.  Dan akhirnya ada kejadian yang membuat trauma.  Saat kaka Alief usianya kurang lebih 2 tahun, ia pernah hilang di mall Fantasi selama lima belas menit lebih, saat itu kaka sedang kami ajak berwisata ke toko buku Kharisma.  Dua orang yang menjaganya, saya dan ayahnya, namun rupanya tetap kecolongan juga.  Tiba tiba kaka hilang dari pandangan mata, lima belas menit yang menakutkan itu membuat saya panic, menangis dan para security pun sibuk mencari.  Alhamdulillah akhirnya kaka di temukan di toko sebelah yang sedang mengadakan pameran computer, seorang bapak kebingungan ada anak imut dan ganteng, senyam senyum, terus mengikuti sambil menggandeng tangannya. 

 
Kembali ke awal cerita, tak dinyana peristiwa ini terjadi lagi di usianya yang sudah tujuh tahun.  Walau kaka sudah besar, tetap saja mendengar berita ini hati berdebar.  Alhamdulillah tak berapa lama berita gembira terdengar, rupanya tanpa pamit ke ibu guru kaka di bawa oleh seorang sahabat saya.  Maksudnya baik tentu saja, kasihan melihat kaka yang sudah menunggu terlalu lama, ngebell dan sms pun sudah di lakukan, hanya ndilalah tak satupun yang tersampaikan.  Keputusan pun di ambil, kaka di bawa pergi tanpa re-confirmasi, dan peristiwa heboh pun terjadi.

 
Di rumah kita berdiskusi lagi, tak ketinggalan sangsi pun di berikan lagi, hanya kali ini tak boleh menggunakan computer selama beberapa hari.  Di sekolah teachers pun memberi sangsi yang di jalankan kaka seharian tadi.  Punishment nya kaka tidak di izinkan mengikuti kegiatan sekolah selama seharian penuh.  Ia stand by di ruang kepala sekolah (tapi masih di beri buku untuk di baca sama miss Ade nya) dan semua teacher dan staff pun kompak kalau kaka saat itu harus tetap di ruang kepala sekolah.  Hemm….jadi ingat punishment yang di lakukan The Nanny di Metro TV.  Alhamdulillah pada akhirnya kaka menyadari kekeliruannya dan meminta maaf sama teachernya.  Punishment kali ini semoga menjadi hikmah berharga buat kaka, bahwa apa yang dilakukannya membuat semua khawatir, lebih dari itu karena semua sangat sangat sayang padanya.  Untuk kami tentu saja konsolidasi lagi, saling mengingatkan jam pulang sekolah kaka mulai di lakukan lagi.

 
Terakhir …kami memohon maaf pada guru dan sekolah sudah bikin heboh dan repot semua.  Semoga peristiwa yang membuat panic ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. 

 
Balikpapan 8 february 2008

With love

Salman’s Mom

 


Setiap ada undangan yang diberikan oleh kaka Alief dari sekolah, saya selalu antusias dan berusaha untuk selalu menghadirinya.  Alhamdulillah sampai saat ini Allah masih memberikan keleluasaan waktu, apalagi bisa sambil bawa anak, minimal bisa membawa si tengah yang baik hati kaka Ara, sekalian sambil rekreasi gratis.  Karena anak gadis saya ini bisa menggunakan semua fasilitas permainan yang ada di sekolah, kayak ayunan atau perosotan pavoritnya.  Lebih dari itu, bisa bertemu dengan guru guru kakak nya yang bila di rumah terkadang menjadi rebutan, bahkan sudah di claim menjadi gurunya juga.

 

Undangan kali ini, pihak sekolah mem presentasi kan bagaimana cara para guru dalam memberikan pengajaran kepada murid muridnya. Acara ini di kemas seperti mini work shop, para guru kelas terutama kelas I (acara ini khusus untuk kelas I Umar & Abu Bakar) semuanya ikut andil, satu guru presentasi sementara yang lain ber acting menjadi muridnya, semua presentasi di lengkapi dengan alat peraga yang dibuat berdasarkan hasil kreasi para guru sendiri, sementara para orang tua, duduk manis menyimak dan menjadi penonton saja. 

 

Dari work shop ini para guru menginformasikan kepada kita bagaimana membuat  murid belajar dengan suasana yang menyenangkan, iklan para guru bahwa Math is fun, studying English is fun, Al-qur’an also is fun benar benar di realisasikan. Semua display yang di sajikan oleh para guru membuat saya takjub, tidak hanya karena kreatifitasnya karena rata rata di buat dari bahan sederhana dan bekas, lebih dari itu bila di lihat dari segi kesabarannya, benar benar luar biasa.  Dan yang membuat saya kagum, display yang di buat oleh salah satu ustad dalam memberikan pengajaran Al-Qur’an.  Display yang berbentuk permainan bola sederhana yang dibuat dari triplek, paku dan karet gelang ini di buat agar anak anak bersemangat dalam belajar Al-Qur’an, dan display ini rupanya telah menjadi favorit anak anak.  Alhamdulillah, sungguh bahagia melihat anak anak belajar memahami Al-Quran dengan suasana menyenangkan seperti ini.  Memperkenalkan ke Imanan dengan sifat Allah yang Rahman dan Rahim benar benar terwujud disini.  Dan memang sudah seharusnya begitu, seperti yang pernah saya dengar dari tausiah nya bunda Neno Warisman, bila mau menanam pohon cinta maka kita harus menyiram dan merawatnya dengan cinta pula, bila ingin menumbuhkan keimanan dalam hati anak anak kita, maka perkenalkan dengan terlebih dahulu menceritakan tentang kebesaran, kebaikan dan kasih sayang Allah pada hamba-Nya. Cara cara menakut nakuti dengan neraka, dosa dan hukuman Allah, sudah seharusnya di hilangkan dan sudah tidak zaman lagi untuk di terapkan.

 

Subhanallah, para guru dan sekolah menyuguhi kita tontonan yang menarik sekal,i dan Insya Allah mencerahkan sebagian dari kita para orang tua.  Untuk saya pribadi ada rasa lega, bahagia, haru juga, terutama saat bu Mia mendisplaykan suara nanda Yusuf saat berpuisi spontan tentang kecintaannya kepada ayahnya di depan kelas yang kebetulan di rekam di HP.  Display ini sungguh mengharukan dan Insya Allah membahagiakan sekaligus melegakan hati ayahnya yang kebetulan sebelumnya curhat dan khawatir karena anaknya belum juga bisa membaca.   

 

 Dari mini work shop ini Insya Allah para orang tua banyak  membawa oleh oleh hikmah untuk dibawa pulang.  Para orang tua yang tadinya khawatir anaknya belum juga bisa baca jadi tenang karena di sekolah ini bukan hanya bisa baca saja yang jadi ukuran penilaian, multiple intelegensia anak benar benar di kedepankan.  Yang anaknya masuk kategori golongan faster jadi tidak perlu khawatir juga karena guru dan sekolah tetap mensupport dan memfasilitasinya, misalnya bila anak tersebut hebat di math maka dia boleh belajar dengan kaka kelasnya, atau sekalian diserahkan ke kepala sekolah biar sekalian beradu pintar dengan kepala sekolah yang emang jago matematika.  Untuk para orang tua  yang suka ngotot ngajarin anaknya di rumah jadi instropeksi diri, bahwa cara membimbing selama ini jauh dari menyenangkan.  Untuk orang tua yang khawatir, heran, bingung dengan jawaban anak yang katanya di sekolah enggak pernah belajar kerjanya cuma “MAIN” melulu, jadi hilang penasarannya dan tau sebabnya.  Cara guru menyampaikan pelajaran dengan nuansa bermain, memakai alat peraga yang lucu lucu membuat anak anak tidak menyadari kalau mereka sedang belajar.

 

Untuk saya pribadi ada sedikit kekhawatiran yang sempat singgah di hati, hal ini tentang masalah kekaguman, kedekatan dan kasih sayang antara kaka dengan guru kelasnya.  Bahagia tentu saja, tapi ada sedikit ganjalan di hati, bagaimana bila kelas II nanti gurunya berganti, lalu tidak sedekat dengan guru gurunya yang sekarang.  Namun Alhamdulillah kekhawatiran itu lenyap sudah, saya melihat dan merasakan guru guru di Luqman Al Hakim semua tulus, ramah dan sayang sama anak anak.  Oke lah,  bisa saja perasaan saya salah, namun saat kaka Alief sekarang mulai sering menyebut nama miss Aan dan bu Mia guru kelas Abu Bakar atau bahkan bunda Wilda atau  bu Lia kepala sekolahnya, sungguh ini kenyataan yang tidak dapat di pungkiri lagi,  kaka Alief bangga dan sayang tidak hanya dengan guru di kelasnya saja tapi dengan semua guru di sekelilingnya, hal ini tentu tidak akan terjadi bila tidak ada “sesuatu yang indah” di antara mereka, yaitu kasih karena Allah yang di berikan para guru pada murid muridnya.  Alhamdulillah Ya Robbi…. Fabi ayyi Ala irobbikuma tukadziban.

 

Balikpapan 22 November 2007

Catatan  : 

  • Diary ini terinspirasi saat kaka Ara bisik bisik ke saya lalu dia tanya, “mamah miss Ade yang kata kaka sayang sama anak anak itu yang mana sih..”.
  • Hari ini di atas motor, saat kaka Alief dengan hebohnya terus memberi tahu saya, “mamah itu ust. Imam..itu Ust Imam !!!” (seperti mamahnya ini belum pernah bertemu dengan Ustad nya saja), namun saat kaka berteriak memanggil ustad nya, lalu mereka berdua saling melambaikan tangan, Subhanallah saya merasa ikut bahagia juga. 
  • Diary ini tidak dalam niatan memuji muji, namun point yang ingin disampaikan bahwa ketulusan, kesabaran, sentuhan kasih sayang para guru kepada anak anak rupanya telah sampai di hati mereka, Insya Allah.  Semoga diary ini makin menguatkan tekad dan azzam para guru guru di sekolah, untuk memperkenalkan ISLAM dan ILMU ALLAH lewat cara yang indah dan menyenangkan dan dalam sentuhan kasih sayang.  Amien Ya Robbal A’lamin……..******

 Saya belum melakukan persiapan apapun untuk kaka Alief dan Ara dalam menyambut Ramadhan ini, tidak ucapan atau prakarya yang bisa di tempel di dinding, tidak obrolan tentang Ramadhan atau sekedar membaca dan mendengarkan kisah seputar Ramadhan.  Kecelakaan yang menimpa adik hingga di rawat hampir sepuluh hari lamanya, di susul kemudian bapak mertua yang hendak operasi mata, membuat waktu berlalu begitu cepat, dan tanpa terasa, Ya Allah besok Ramadhan akan tiba, dan saya panik sedikit kecewa karena belum melibatkan anak anak, membuat suasana istimewa untuk menyambut bulan yang paling mulia ini. 

 

Sampai akhirnya saya menerima dua lembar kertas dari kaka Alief, info dari sekolah tentang jadwal kegiatan Ramadhan yang akan di lakukan dua pekan ke depan.  Allahu Akbar..Alhamdulillah Ya Allah…pertolongan-Mu tiba juga.  Ada banyak kegiatan yang akan di lakukan kaka Alief selama Ramadhan nanti, ini menolong sekali dan saya meyakinkan kaka Alief kalau Ramadhan kali ini ia akan mendapatkan banyak pengalaman berharga, bahkan hampir semua kegiatan akan menjadi pengalaman pertama untuknya.  Dan sebagai ibu tugas saya adalah memastikan kaka, bahwa semua kegiatan yang dilakukan nanti akan membuat nya makin “kaya”, kaya pengalaman, kaya hati, banyak teman dan tentu saja akan membuat Ramadhan nya makin berkesan indah di hatinya.  Jadi, sementara anak lain selama Ramadhan sekolahnya di liburkan, kaka Alief dan teman temannya justru sebaliknya, sedang belajar, bermain, berkenalan dan memahani Ramadhan dengan kegiatan yang mengasikkan.

 

Belajar bersama siswa sekolah sore Ma’dubatullah

Ma’dubatullah Qur’an School adalah sebuah lembaga pendidikan qur’an gratis yang di kelola oleh Masjid Hidayatullah bekerja sama dengan SDIT Luqman Al Hakim dan TKIT Mardatillah Balikpapan tempat kaka belajar.  Sekolah sore ini di khususkan bagi anak anak kurang mampu yang tinggal di sekitar masjid dan sekolah.  Nah pada saat Ramadhan para siswa di gabungkan belajarnya, dengan demikian Insya Allah makin membuka pergaulan dan cakrawala pengetahuan kaka dan teman temannya, terbukti ada nama OJA dan AKIP yang berkenan nempel di hati kaka dan selalu menjadi bahan obrolan di hari hari berikutnya. 

 

OJA adalah anak “istimewa” dan menjadi teman pertama kaka Alief yang cacat secara phisik, kita banyak ngobrolin OJA, dan dari OJA kita banyak mengambil hikmah seperti tentang rasa percaya diri, kecacatan tidak mematahkan semangat belajar, mensyukuri karunia Allah di beri tubuh yang sehat, ber empati terhadap teman, dst .  Alhamdulillah saya bisa memenuhi permintaan kaka Alief untuk berkenalan dengan OJA sahabat barunya, namun sayang dengan AKIP sampai sekolah libur belum sempat berkenalan juga.  Menurut kaka, Akip suka terlambat masuknya, makanya saya tidak pernah bertemu dengannya.  Saat saya tanya kesan kaka tentang OJA, kaka menjawab kalau ia tidak terlalu banyak tau tentang OJA soalnya OJA pendiam, dan kalau di bicara susah mengertinya, tapi OJA suka tersenyum dan walau jarang ngobrol kaka memastikan suka sama OJA dan Akip, dan mereka menjadi sahabat barunya.  Alhamdulillah mendengar jawaban kaka bahagia rasanya.

 

Tarhib Ramadhan

Atau kunjungan silaturahim ke para tetangga seperti ke rumah pak RT, ke SD negeri di sekitar sekolah, dan mengunjungi korban longsor/banjir yang baru menimpa wilayah Balikpapan, Insya Allah menjadikan kaka dan teman temannya makin perduli dengan lingkungan sekitar.  Untuk menjalankan kegiatan ini pihak sekolah meminta partisipasi orang tua dengan menyediakan hanya dua buah buah buahan saja, untuk kaka sendiri kebagian membawa dua buah jeruk

 

MABIT

Acara mabit ini Insya Allah sangat bermanfaat buat anak anak, selain melatih kemandirian juga mempererat kebersamaan, menautkan kasih sayang diantara teman dan para guru juga pengurus sekolah.  Apalagi ada kegiatan amal seperti bersilaturahim dengan pengurus mesjid At Taqwa (mesjid raya Balikpapan), sholat Ashar berjamaah, setelah itu ada kegiatan pembagian Ta’jil bagi pengguna jalan yang langsung di berikan oleh anak anak sendiri.  Malam harinya di isi kegiatan sholat malam bersama, memutar film tentang Ramadhan, Memandangi bintang bintang dan banyak kegiatan lainnya. 

 

Kegiatan Sekolah lainnya yang makin membuat suasana Ramadhan kaka semakin berkesan adalah adanya Drama Al Qur’an, Menonton film tentang Ramadhan, Buka puasa bersama, Bakti Sosial mengunjungi panti jompo/SLB/panti asuhan, dan terakhir adalah Bazar Gakin.  Dari semua kegiatan social, orang tua di minta berparti sipasi dalam hal menyumbang pakaian layak pakai dan sembako yang tidak di tentukan jumlahnya, artinya yang memiliki kelapangan rezeki tentu bisa menyumbang lebih besar sedangkan bagi orang tua yang pas pas san dapat menyumbang semampu daya mereka.  Sedangkan untuk buka puasa bersama para orang tua diminta untuk membawa empat kotak nasi plus empat kotak kue.

 

Bagi saya pribadi, sebagai seorang ibu bekerja dengan tiga orang anak yang masih kecil pula.  Berbagai kegiatan yang dilakukan sekolah dalam menyambut dan menjalani Ramadhan ini sangat membantu sekali, membantu meringankan kekurangan ide saya tentu saja.  Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban saya untuk mensupport kegiatan sekolah ini semampu daya.

 

Dari keseluruhan kegiatan, acara MABIT adalah yang paling berkesan Insya Allah buat kaka juga buat kami sekeluarga.  Karena hikmahnya luar biasa sekali buat kaka, bisa saya ibaratkan seperti ketiban rezeki yang barokah.  Bagaimana tidak, acara MABIT  adalah momentum buat kaka untuk puasa full sampai menjelang Maghrib tiba.  Masih saya ingat cerita bu Siti, sambil tersenyum menceritakan kembali bagaimana ia membujuk kaka agar bersabar menahan rasa hausnya.  Setiap sedotan milkuat yang dibawanya sudah di tempelkan di mulutnya, bu Siti telaten memcegah dan membujuk kaka agar mengurungkan niatnya.  Saya yakin sekali, saat Mahgrib tiba ada kebanggaan dan kepercayaan diri yang luar biasa di dada kaka.  Ia ternyata mampu puasa layaknya orang dewasa.  Kemudian kepercayaan diri tersebut pada akhirnya merembet ke saya, sebagai ibunya untuk lebih menguatkan diri dan hati, dan percaya bahwa anak sulung kecintaannya ini, yang satu bulan ke depan genap tujuh tahun usianya, telah mampu berpuasa dari Fajar menjelang Maghrib tiba.

 

Alhamdulillah segala puji bagi-Mu Ya Allah……Amien.

 

Balikpapan 23 Oktober 2007

Mom’s Salman – 1 Umar

 

Catatan  :  Dimulai semenjak Ramadhan baru selesai sekarang.  beginilah kalau penyakit pamelesan.com menyerang


 

Bila Jum’at sore tiba, biasanya hati saya mulai berdebar dan sibuk bertanya tanya dalam hati, kira kira apa ya isi  “info pekanan” kali ini.  Gerilya pun di mulai, karena anak sendiri susah di hubungi (setelah di jemput langsung dibawa ke tempat kerja ayahnya), saya biasanya mulai menghubungi mama Dela (1 Umar) atau bibi tercinta mamah nya Dinda (1 Abu Bakar).  Dari informasi yang saya dapat, langsung menyebar ke beberapa tempat, salah satunya ke sahabat tercinta di Chevron sana, ibunda mas Rafli (1 Abu Bakar).  Dari sini biasanya kita jadi sharing information, tukar tukaran ide atau bahkan saling menolong bila ada bahan yang belum bisa di temukan.  Dan sudah sejak lama saya ingin membuat tulisan berkaitan dengan info pekanan dan tugas prakarya ini.  Kejadian yang saya dengar dan saksikan tadi pagi, makin menyemangati saya untuk segera menuliskan yang selama ini ngumpul di hati.

 

Menurut pengamatan dan pengalaman saya pribadi, banyak manfaat yang saya peroleh dari info pekanan yang di berikan sekolah selama ini , diantaranya adalah  :

  • Membuka jalan dan menjadi salah satu bentuk hubungan komunikasi antara orang tua dan sekolah, terutama bila buku penghubung yang di bagikan tidak terlalu di gunakan karena kesibukan orang tua yang tiada henti misalnya. 
  • Bagi orang tua yang sibuk bekerja, Info pekanan ini “memaksa” kita untuk meluangkan waktu, minimal di akhir pekan, untuk terlibat langsung dengan kegiatan pendidikan anak anak kita. 
  • Memberikan informasi kepada orang tua, hingga membuat kita mengetahui apa saja yang akan di pelajari, di bahas, dan di kerjakan oleh anak anak kita dengan ibu bapak gurunya di sekolah.
  • Selain membuka hubungan komunikasi dengan sekolah, yang paling utama adalah dapat memberi jalan bagi kita memulai  komunikasi dengan ananda tercinta di rumah.  Info Pekanan dapat kita gunakan sebagai contekan untuk memulai obrolan, terutama untuk kategori anak yang  “pelit” bicara tentang kegiatan yang di lakukannya di sekolah.

 

Untuk tugas atau prakarya yang di berikan tiap pekan, misalnya membuat mobil mobilan dari kotak bekas, atau seperti tugas pekan ini, yaitu  dalam rangka menyambut bulan Suci Romadhan, adalah membuat miniature mesjid dari karton bekas susu.  Jujur saja bila di lihat dari sisi negatifnya, rasanya tugas ini berat juga.  Namun bila kita mau meluangkan waktu mencari hikmahnya, Subhanallah Allah akan memberi kemudahan kepada kita, lewat jalan apa saja sesuai dengan janji-Nya. 

 

Untuk saya pribadi, ibu mana yang tak bahagia melihat ayah dan anandanya bekerja sama membuat prakarya, saling mengobrol, melontarkan ide, bahkan sesekali saling mencela di sela sela canda.  Tanpa di sadari, ada virus cinta yang sedang di tularkan dan di tanamkan di dalam memori anak anak kita.  Kebersamaan, kerjasama, dan keberadaan orang tua disamping mereka saat membuat prakarya ini, tanpa kita sadari Insya Allah akan di wariskan pada anak anak mereka atau cucu kita kelak bila mereka menjadi orang tua pada masanya nanti.  Dan jika anak kita makin tergali daya kreativitasnya, bagi saya itu  merupakan salah satu bonus semata. 

 

Saya suka sekali mendongeng atau mengisahkan tentang masa kecil saya di kampung dulu, bahkan saya dan anak anak menjuluki diri saya sendiri sebagai “Si Bolang” si bocah petualang.  Tak jarang mereka akhirnya meminta saya membuktikan apa yang saya kisahkan tersebut, misalnya membuat mobil dari sandal jepit, membuat senapan dari batang pisang, main hujan, mandi di sungai, berburu ulat daun dan lain sebagainya.  Ada sebagian yang bisa saya penuhi, sebagian lainnya lagi selalu menjadi janji janji yang entah kapan bisa terpenuhi.  Sampai akhirnya ada tugas pekanan ini, walaupun sering saya delegasikan kepada suami dalam menghandel proyek ini, namun minimal kita tetap bisa menghubungkan dan menghadirkan masa lalu orang tuanya dulu dengan masa kecil anak anak kita saat ini

 

Bila di lihat dari kacamata Negatif

Saya sebenarnya bingung juga ketika harus menuliskan sisi negatifnya, karena dari yang pernah saya baca, dengar maupun saksikan tak ada sisi negative dari membuat suatu prakarya selain membuat seorang anak makin berkembang imajinasi dan daya kreativitasnya.  Namun saya mungkin harus menceritakan negatifnya dari sisi lainnya.  Seperti yang sudah di sebutkan di atas, untuk orang tua terutama yang super sibuk, tugas membuat prakarya ini lumayan berat juga.  Namun bila kesibukkan kita di perturutkan juga, maka konsekuensinya seperti yang saya saksikan hari ini.

 

Di saat sebagian anak lain tertawa, bangga dan meluapkan kegembiraan mereka dengan rumpian akan hasil karya yang mereka bawa.  Nun di sudut lain, di salah satu pojok pintu ada beberapa anak yang muram, awan mendung begitu menggantung di wajahnya, bahkan ada yang sejak tadi tak sanggup lagi untuk tidak menumpahkan air matanya di pelukan ayah dan ibunda tercinta.  Bujukan orang tua dan ibu guru yang menegaskan bahwa ibu guru tak marah walau mereka tak membawa prakarya, rupanya tak mempan juga.  Bila kita  mau menyelami dan memposisikan diri menjadi mereka, maka kita akan mengerti dan berempati mengapa mereka bersedih dan menangis seperti ini.  Anak anak terluka, merasa berbeda, malu, jengkel, sedih dan berbagai perasaan berkecamuk lainnya.  Yang jelas hari ini mereka sambut matahari pagi dengan air mata dan hati yang tak lagi bernyanyi.

 

Lalu Bagaimana solusinya  ???

Rasanya saya tidak berkompeten dan merasa terlalu gaya gayaan untuk membahas hal ini.  Namun dari pengalaman ada beberapa point yang bisa di jadikan bahan pelajaran atau hikmah buat orang tua maupun pihak sekolah. 

  • Untuk saya pribadi, sebagai orang tua rupanya kita harus bekerja lebih keras dan memiliki semangat yang tinggi lagi, untuk terjun langsung menemani pendidikan putra putri kita. 
  • Bagi anak yang belum berkesempatan mengerjakan tugasnya, itu artinya orang tua harus ekstra keras memper siapkan mental anak kita sebelumnya, tentang kemungkinan atau konsekuensi yang akan di hadapinya, misalnya perasaan malu atau minder dengan teman teman, atau bahkan adanya konsekuensi dari ibu guru di kelas.  Dengan demikian anak di harapkan tidak terlalu kaget dan hancur hatinya, melihat dia berbeda dengan teman sekelasnya
  • Memberi pengertian kepada anak bahwa ada kalanya kita tidak bisa menyelesaikan semua tugas tugas yang diberikan, dan itu tak mengapa, apalagi bila kita sudah berusaha mengerjakannya.
  •  Dari sekolah, di setiap pertemuan atau forum orang tua perlu terus di sosialisasikan tentang manfaat dan tujuan dari program yang di berikan sekolah.  Agar antara orang tua dan pihak sekolah mampu bersinergi dan meminimalisir kesalahan persepsi.  Seperti ungkapan yang saya dengar pagi ini ketika ada orang tua yang berkata, “English home work ngerjain orang tua saja” dan English teacher yang tak sengaja mendengar, sedikit bengong dan nampak tak enak hatinya (maaf bila salah mengartikan …..)

 

Semoga ibu dan bapak guru di sekolah, juga kita para orang tua di rumah, selalu di beri kemudahan oleh Allah dalam mengemban amanah tak ringan ini.  Membimbing dan menemani putra putri kita, menuntunnya menuju cita cita mulia, menjadikan mereka anak anak yang sholeh dan sholeha.  Amien ya Robbal A’lamin.

 

Balikpapan 10 september 2007

Mom’s Salman

 

 

Note  : 

Alhamdulillah selesai juga ceritanya, bila ada kalimat yang bernada menggurui itu semata untuk karena keterbatasan ilmu saja dalam menuangkannya, juga hanya sebagai bahan intropeksi untuk saya pribadi. Mohon maaf bila ada kata yang tak berkenan.  Semoga Allah selalu menjaga hati kita selalu.

 

 

 

 

 

 


Blog EntryMau ngomongin tentang "PENDIDIKAN"Aug 23, '07 9:49 PM
for everyone

Oleh oleh dari Workshop yang di adakan oleh komite sekolah Luqman Al Hakim Balikpapan,  dengan tema  “Mensinergikan Peran Orang Tua dan Sekolah Dalam Pendidikan Anak”

 

 

Hari Minggu 19 Agustus 2007, saya habiskan sepertiga waktu siang saya di gedung theatre Patra dalam rangka mengikuti Seminar dan Work Shop sehari, tepatnya dari pukul 8:30 sampai dengan pukul 15:30, yang di motori oleh komite sekolah Luqman Al Hakim Balikpapan.  Hormat dan salut saya untuk komite sekolah, karena acara sebesar ini benar benar free of charge, modal kita hanya kemauan untuk datang doang, dan acara inipun baru di selenggarakan kali pertama setelah tiga tahun lamanya sekolah Luqman Al Hakim berdiri.  Jadi apa lagi yang bisa saya katakan selain Alhamdulillahirobbil a’lamiin, saya mensyukurinya, mengingat hikmah besar yang bisa saya bawa pulang hari ini.

 

Karena keterbatasan memori, saya mencoba meng-Ikat setiap makna atau hikmah dari apa yang saya peroleh di Seminar tersebut dalam tulisan ini agar saya tidak lupa, dan tentu saja karena saya bukan seorang pakar di bidang pendidikan, maka tulisan ini mewakili diri saya sendiri, sebagai Seorang Ibu tentu saja.

 

Kita akui, karena tidak dapat di pungkiri metode pendidikan di Negara kita ini masih menggunakan jejak yang di tinggalkan oleh penjajah Belanda, bahkan setelah Indonesia merdeka 62 tahun yang lalu, metode pendidikan Nasional yang di pakai masih terputar di situ situ juga, istilahnya masih memakai warisan lama, bahkan ibu Draga Rangkuti mengatakan bahwa pendidikan di Negara kita tertinggal puluhan tahun lamanya, dibandingkan Negara Negara  maju seperti Singapore, Australia atau Amerika misalnya.  

 

Ketertinggalan yang menghentakkan dan membuat beliau berdua bersama suaminya Bp. Mirdas Eka Yora kerap keliling dunia, melakukan study banding dari satu Negara ke Negara maju lainnya dalam hal mencari input guna menemukan metode apa saja yang di perlukan dalam mengejar ketertinggalan pendidikan bangsanya ini.  Fajar Hidayah mengambil lokasi di ibu kota Jakarta,  adalah nama sekolah yang akhirnya didirikan oleh beliau berdua yang menjadi cikal bakal sekolah dengan menggunakan metode Active Learning, yang dalam proses pembelajaran memberikan kesempatan bagi anak untuk berekspresi dan berkreasi seluas mungkin sehingga dapat menumbuhkan pribadi yang aktif, mandiri, kreatif dan dapat memecahkan masalah dalam hidupnya.  Dan sampai pada hari ini tunas tunas lain bertumbuhan, salah satunya dengan berdirinya  SDIT Luqman Al Hakim Balikpapan ini.

 

Dan ternyata bukanlah hal mudah mengenalkan dan mensosialisasikan metode pembelajaran yang baru ini, walaupun telah di gunakan oleh Negara maju berpuluh puluh tahun lalu, dan telah terbukti keberhasilannya, kita tetap keukeuh di ninabobokan oleh system pendidikan konvensional, sangat susah merubah cara pandang yang tertanam kuat di masyarakat kita, hingga benturan, kesalahan pahaman antara orang tua dan sekolah tidak bisa di hindarkan.  Bahkan  Bp Mirdas dan Ibu Draga sendiri mengakui,  membangun kesamaan persepsi ini adalah hal terberat yang harus di hadapinya.

 

Stigma, cap, persepsi atau banyak istilah lainnya yang terlanjur melekat kuat dan berkembang di sekolah, orang tua dan masyarakat dimana cara pandang kita masih sangat bertumpu pada kebanggaan terhadap prestasi akademik semata,  bahwa anak itu di katakan pintar bila ia mempunyai nilai yang tinggi di bidang ilmu pasti, misalnya Matematika.  Anak yang bisa masuk jurusan IPA itu pasti anak yang pinter pinter, yang masuk jurusan IPS itu yah rada setengah pinter, dan anak yang masuk jurusan Bahasa itu berarti sudah masuk ke wilayah tanda tanya untuk masalah kepinterannya, atau  menilai kepintaran seorang anak dari rangking yang dia peroleh di sekolah. 

 

Stigma dan cara pandang inilah yang harus kita rubah, karena semua kecerdasan seharusnya dihargai tanpa di beda bedakan  sehingga setiap individu dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal.  Prestasi Akademik ternyata tidak bisa di jadikan tolak ukur kesuksesan seorang anak di masa depan, melainkan berprestasi dalam kecerdasan majemuk (multiple Intelegence) seperti yang dicetuskan oleh Dr Howard Gardner.  Orang tua dan guru harus menyuburkan potensi potensi kecerdasan yang ada pada anak tanpa memberi stereotype kecerdasan yang satu lebih unggul dari kecerdasan lainnya. 

 

Oleh karena itulah seminar ini di adakan sesuai dengan temanya Mensinergikan Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Pendidikan Anak.  Dengan tujuan dalam rangka membangun kesepahaman, kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua.  Dari pihak sekolah ini adalah waktunya mereka menginformasikan sebanyak banyaknya metode apa yang gunakan, bagaimana cara belajarnya, media apa saja yang digunakan, kurikulumnya seperti apa dan lain sebagainya.  Karena dengan ciri khas dan keunikan sekolah ini, misalnya dengan tidak adanya buku paket yang digunakan, didalam kelas menggunakan system dua bahasa, tempat belajar yang tidak hanya di satu tempat (moving class), materi yang di berikan selalu dalam bentuk permainan, istilahnya belajar sambil bermain, dimana biasanya yang metode terakhir ini yang sering menimbulkan kesalah pahaman dengan orang tua, karena tidak jarang orang tua yang mengeluh, berkomentar atau minimal memendam keherannya di hati, kok sekolah anak saya ini kerjanya main melulu.  Tanpa informasi seluas luasnya yang di berikan pihak sekolah, bukan tidak menutup kemungkinan kesalah pahaman akan terus terjadi.

 

Adapun untuk kita para orang tua, menyekolahkan anak di Luqman Al Hakim ternyata tidak bisa terima beres begitu saja, kerjasama sangat dibutuhkan dari kita para orang tua dalam rangka mencapai tujuan kita bersama yaitu menjadikan generasi penerus kita ini menjadi seorang pribadi yang smart, berkarakter Sholeh dan Islami.  Karena apa yang kita lakukan sekarang adalah dalam usaha mempersiapkan anak anak kita, menjadi generasi  di masa yang akan datang, generasi yang bisa berdiri tegak, kokoh dalam menghadapi tantangan zaman.

 

Balikpapan 21 August 2007

 

Catatan  :  Ini adalah curahan hati yang membuat aku mengernyitkan dahi juga, saking banyaknya ide yang ingin di sampaikan, tapi terbentur kemampuan ilmu yang belum memadai, namun Alhamdulillah kelar juga walau seadanya.  Curahan hatiku ini  selain oleh oleh dari seminar kemarin, juga sebagai hadiah Independence day, 17 August 2007.  Allahu Akbar…Merdekaaaaaa!!!!


Cerita kali ini tentang obrolan antara saya dan anak sulung saya, kaka Alief.  Jam sembilan malam telah lewat, doa tidur dan doa ke dua orang tua telah  di panjatkan secara bersamaan oleh kaka Alief dan Ara.  Surah surah pendek penghantar tidur telah pula saya lantunkan di telinga mereka.  Namun kedua mata mereka belum mau terpejam juga.  Keduanya masih saja asyik ngobrol.  Karena topik obrolan mereka tentang sekolah, pikir saya wah pucuk di cinta nih…saya pun isengan masuk ke arena obrolan, mencari celah agar kaka mau sedikit saja menceritakan tentang sekolahnya.

Kali ini saya ingin tau apa saja keistimewaan sekolah Luqman Al Hakim di mata kaka.   Penasaran dengan ceritanya, ini dia  :

  1.  Aula

(O..ooo.. rupanya masih seputar Aula juga yang masih menarik perhatiannya)

  1. Belajar bahasa

“Sekolahku istimewa karena belajar bahasa English sama Arab”, kaka tak lupa menjelaskan.  Bahkan kaka ngasih advise agar mamahnya belajar bahasa Arab juga sama pak Imam, Arabic teachernya.

  1. Suka nonton, saat saya tanya yang di tontonnya film apaan, penuturannya seperti ini:  “Dulu waktu aku belum lahir, waktu aki Aang sama enin Aan masih kecil, Indonesia di serang Jepang sama Belanda, terus Jepangnya enggga jadi nyerang habis rumahnya di bom sama Amerika.  Terus mah Indonesia akhirnya jadi merdeka.  Terus mah nonton film perjuangannya di Aula habis sholat Dhuha, nontonnya seperti yang di tempat tante Eka itu lho, ada sinarnya terus filmnya ada di dinding.  (ooh..rupanya nonton film perjuangan dalam rangka independence day, trus nontonnya  pake slide proyektor, hemm..itu rupanya yang membuat kaka terkesan)
  2. Main sepak bola di lapangan
  3. Suka belajar computer
  4. Suka nulis diary juga, kayak mamah.

 Udah habis, cuma itu aja yang ku suka dari sekolahku, kata kaka menutup point keistimewaan sekolahnya di angka 6.

 

Saat ku tanya yang enggak di suka dari sekolahnya atau yang negative di sekolah kaka itu apa.  Awalnya ia enggan bercerita, namun setelah ku bujuk dan yang ku minta hanya satu point saja, kaka akhirnya membuka sedikit rahasia, dengan catatan “jangan di beri tahu sama miss Ade” katanya menegaskan.

 “Yang negatifnya mukul mukul”, katanya pelan.  “Mukul mukul bagaimana ka, kaka yang mukul teman atau teman mukul kaka”, tanyaku penasaran.  “Itu bahasa ku aja mah, mamah ini enggak tau lho”.  “Maksudnya kaka bahasa kiasan, gitu”.  “iya..Cuma bahasa ku aja”.

 

Karena penasaran dan sedikit khawatir saya terus mengorek keterangan, dan akhirnya saya menarik kesimpulan yang di maksud “mukul mukul” oleh kaka adalah semacam permainan laki laki, ya mungkin main kelahi kelahian gitu, namun menurut pengakuannya ia pernah di injak oleh salah seorang teman (sambil menyebutkan nama), terus pernah juga di pukul kepala pakai dengkul namun tidak sakit, yang sakit saat di injak saja.  Kalau kelahi kelahian gitu biasanya saat bu guru lagi sibuk, kata kaka menambahkan.

 

Karena masih trauma cerita smack down yang memakan korban beberapa waktu lalu, aku mengingatkan kaka tidak boleh main smackdown dengan teman karena berbahaya.  Itu pelanggaran berat dan di larang oleh polisi, kataku sedikit menakuti sambil mengingatkan kembali beberapa kisah yang ada di tv dan berita yang dulu sempat ku informasikan padanya. Kemudian bila ada teman yang main smackdown, atau kaka mau di smack down cepat menghindar, lari terus beritahukan ke ibu guru.   Kaka pun akhirnya terdiam…sambil meng-iya-kan pelan, di diringi mata yang menutup perlahan, dzzzzzz..dzzzz….

 

Sambil memohon agar anak anak di hindarkan dari bahaya selama di sekolah, terpikir olehku, bu guru di sekolah sudah belum ya mensosialisasikan lagi bahaya smack down ini.  Alhamdulillah bila di lihat di koran, tidak ada lagi berita baru tentang korban smackdown, hanya saja memori dan imajinasi anak anak siapa yang tau ????###.......

 

(Di keheningan malam, 14 August 2007)

 

 

 

 

 

 

 


 

Pagi hari setelah nganterin kaka Alief ke sekolah, aku menyempatkan mampir ke PG Mutiara Islam, tempat kaka Ara anak kedua ku belajar, sekalian diskuss dengan adik tercinta yang kebetulan menjadi kepala sekolah di sana, hal ini berkaitan dengan kaka Ara yang mulai mogok sekolah    Yang menjadi perhatian untuk ku ceritakan disini adalah bukan masalah kaka Ara nya, tapi tentang kisah seorang ibu yang hendak mendaftarkan anak keduanya di PG ini.

 

Ceritanya ibu tersebut (walahh..malah lupa namanya) telah menyekolahkan anak pertamanya, laki laki,  di SDIT bla..bla… sampai kelas tiga.  Naik kelas empat anak nya mulai mogok sekolah, bosan, jenuh, cape dan berbagai macam ketidak nyamanan lainnya.  Setelah di paksa bertahan beberapa bulan, akhirnya baik anak dan kedua orang tuanya menyerah juga.  Subhanallah…ibu dan ayah si anak ini menurut aku kategori orang tua yang luar biasa (aku jadi teringat sama bunda Neno Warisman ketika mengalami masalah yang sama), tidak menyalahkan si anak dan tidak terburu buru memaksa si anak dengan memindahkan ke sd negeri atau sd konvensional lain misalnya, tapi cooling down dulu sambil terus ber ikhtiar dan menyelami kondisi sang anak tersebut.  Nah pilihan terakhirnya ini yang bikin aku takjub, jadi keputusan yang di ambil nya adalah “Home Schooling”.  Mendengarnya saja aku langsung, Hahhh… di Balikpapan, Home Schooling ???, di Jakarta sih its’s oke lah, sejak dua tahun belakangan ini sudah mulai menjamur, dan komunitas nya pun mulai banyak bermunculan.  Hingga ada wadah atau tempat share information, bagi orang tua yang menemukan kesulitan tentang materi atau apa saja yang ingin di ketahuinya tentang home schooling.  Lha di Balikpapan…rasanya belum pernah dengar ada anak yang home schooling,  apalagi komunitasnya, sepertinya belum ada juga.

 

Jadi, topik inilah yang membuat aku tanpa malu malu ikutan nimbrung, discuss dan sharing information regarding home schooling ini dengan si ibu tersebut.  Ternyata benar, di Balikpapan belum ada komunitasnya, tapi sudah ada beberapa orang tua yang melakukan home schooling .  Untuk materi pelajaran sebagian dilakukan oleh ayah dan ibunya, sebagian mendatangkan guru privat, sebagian di cari di internet dan sebagian lagi mengacu kepada home schooling dari Jakarta.  Dan sebenarnya di dunia maya sendiri, sudah bertebaran blog, situs dan mailing list tempat para homeschooler bertukar informasi, mulai dari perkembangan dan kegiatan anak anak sehari hari sampai kurikulum hingga materi, gratis, tinggal klik dan down load doang, segala macam materi tinggal pilih dan terhampar luas di depan mata.  Jadi ini lumayan memudahkan, karena bisa di akses langsung dari rumah sendiri.

 

Sedangkan menurut aku pribadi,  home schooling  ini bisa menjadi  pendidikan alternative di masa depan.  Sebagai reaksi personal terhadap karut marutnya pelaksanaan pendidikan sekolah formal di Negara kita ini yang makin penuh dengan ketidak pastian.  Mulai masalah kurikulum yang sebentar sebentar berubah, buku paket yang setiap tahun wajib pula berganti, di tambah dengan masalah yang dua tahun terakhir ini selalu popular dan menjadi head line baik di media cetak maupun elektronika, apalagi kalau bukan masalah UAN yang telah memakan banyak korban, tidak hanya siswa tapi juga para guru sendiri, seperti yang terjadi di Sumatera Utara (juga di daerah lainnya) dimana 27 guru terkatung katung nasibnya karena pilihan mereka untuk tetap berpegang pada hati nuraninya dan menolak bekerja sama untuk berbuat curang menuliskan jawaban saat pelaksanaan UAN kemarin.

 

Menurut pakar pendidikan, Dr Arief Rachman, MpD.  Materi bersekolah di rumah atau home schooling sebenarnya tidak ada bedanya dengan pendidikan di sekolah formal.  Hanya penyampaian nya yang berbeda, karena di rumah memakan pendekatan yang lebih personal.  Bersekolah di rumah mengembalikan konsep dasar pendidikan, yakni pada keluarga, bukan pihak lain seperti sekolah.  Anak menjadi mandiri dan hubungan dengan keluarganya menjadi harmonis.

 

Sedangkan menurut kaka Seto Mulyadi, kekuatan persekolahan di rumah ialah lebih memberikan kemandirian dan kreativitas bagi anak , peluang untuk mencapai kompetensi individual secara maksimal, terlindungi dari penyakit social seperti narkoba, konsumerisme, pergaulan yang menyimpang,  tawuran dan penyakit social lainnya.

 

Nah bila pertanyaannya siap tidak aku untuk melakukan home schooling.  Wah pertanyaan yang lumayan berat, yang jelas untuk saat ini “Belum Siaplah”.  Dengan kondisi ibu yang bekerja seperti aku ini, rasanya akan sangat berat menjalaninya.  Karena menurutku kalau kita sudah memutuskan home schooling, berarti harus sudah mempunyai KOMITMENT yang kuat untuk menjalaninya, sebagai orang tua kita harus makin manambah wawasan dan lebih giat belajar lagi, dan yang tak kalah penting harus lebih sabar lagi tentunya.  Jadi istilahnya sekali basah harus nyebur sekalian, total, tidak tanggung tanggung, biar anaknya juga tidak bingung.

 

Nah sekarang harapanku untuk sekolah kaka Alief adalah, salah satu maksud dan tujuan aku menuliskan curhatan ini, selain sebagai sharing information, semoga kasus ibu tersebut di atas bisa menjadi hikmah bagi sekolah, terutama yang noto bene ngambil system full day school.  Karena dengan jam belajar yang lebih lama, materi yang juga padat, bila system belajarnya masih memakai system konvensional, ya tidak menutup kemungkinan para murid bisa teler dan tumbang satu persatu.   

 

Sistem belajar di Luqman Al Hakim ( tempat kaka Alief belajar ) yang moving class, kemudian setiap belajar, murid di bagi menjadi tiga kelompok dengan jumlah delapan murid tiap kelompok,  mempelajari materi yang berbeda, di kelas yang berbeda menurutku itu merupakan salah satu cara agar siswa terhindar dari kejenuhan.  Di tambah lagi dengan guru yang menurut kaka tidak pemarah, itu makin menjauhkan lagi dari kebosanan.  Di tambah lagi home work yang jarang di berikan, bikin hati anak makin nyaman.  Dengan demikian Insya Allah,  rasa cape, jenuh, bosan dan berbagai istilah tidak menyenangkan lainnya dapat terhindar di sekolah kaka, tempat aku menitipkan pendidikan formal buah hatiku kepada mereka.  Namun demikian, tetap saja harus waspada dan selalu berinstropeksi, jangan sampai ada celah yang memungkinkan kasus seperti ibu tersebut di atas terjadi di sekolah kita ini.

 

Balikpapan 8 August 2007 / Kaka Alief’s mom

 

Note  :  mengenai materi belajar kaka di sekolah, Insya Allah aku ingin menuliskan lebih detail lagi di lain waktu.  Terutama tentang info pekanan yang telah mencuri hatiku.  Ini curhatan ku yang lumayan serius, jadi bila ada kesalahan di sana sini ya maafkanlah, karena diriku kan bukan pakarnya. ( he..he.. ngeles.com)


Jum’at sore, anak sulung kesayangan ku memberikan segepok dokumen oleh oleh dari sekolah yang isinya tentang materi sepekan ke depan, apa saja yang harus di persiapkan dan harus di bawa ke sekolah.  Program sholat dan membaca buku yang harus di isi tiap hari,  kemudian di parap orang tua bila tugas tersebut telah di lakukan adalah salah satu yang segera ku sosialisasi kan ke kaka. 

 

Ada kejadian lucu berkaitan dengan hal ini, Sabtu sore tanpa di ingatkan kaka pergi berwudhu sambil tak lupa mengingatkan aku, “Mah…kaka mau sholat Zuhur, jangan lupa nanti di parap ya di buku yang dikasih sama ibu guru”.  “Lho kak…sekarang belum bisa, kan itu untuk tanggal 30, Senin nanti”, tak kuat aku menahan geli mendengar niat sholatnya kali ini.   “ya enggak apa apa lah mah…”.  “Enggak mau ah…nanti mamah dosa bohong bohong begitu”.  Melihat aku tidak termakan bujuk rayunya, awalnya kaka hendak mengurungkan niat sholatnya, namun Alhamdulillah dengan susah payah akhirnya di teruskan juga. 

 

Untuk masalah membaca buku, aku juga terus mengingatkan, namun kaka maunya start nya di hari Ahad saja.  Kali ini buku yang ingin di bacanya lagi adalah buku ATLAS yang lagi menjadi pavoritnya, masih tetap nyari propinsi Riau, dan mengelompokkan bendera negara mana saja yang sama dengan Indonesia, seperti yang di lakukannya kemarin dan kemarinnya lagi.  Terakhir minta kertas dan langsung menggambar bendera dua negara, Korea dan Jepangni ke Ramayanaan apa saja yang har

 

Untuk beberapa buku yang di rekomendasikan berkaitan dengan tema pekan ini, ‘Kejujuran’ dan ‘kisah Nabi Adam As’ Alhamdulillah kaka tinggal bawa koleksi buku yang ada di rumah. Namun untuk buku tulis, buku gambar dan teman temannya, kita harus hunting ke pasar.  Di toko buku Kharisma, aku bertemu dengan ibundanya Azra yang sedang hunting buku sama seperti aku, tapi dia dari kelas Abu Bakar.  Kita sempat curhat, inti nya senang dan ikut mensupport kegiatan sekolah ini.

 

Melihat anak anak gemar membaca dan mencintai buku adalah salah satu yang ku cita citakan dari mereka, dengan adanya program membaca tiap hari dari sekolah ini seperti mendapat pribahasa “Pucuk di cinta ulampun tiba” atau bila di ibaratkan  orang tua dan sekolah adalah sepasang suami istri maka sudah seiring sejalan visi misinya.

 

Pagi hari saat mengantarkan kaka sekolah, ada yang penasaran ingin kuperhatikan, gerangan apa yang akan mereka bicarakan tentang PR yang diberikan pada mereka.  Wahh…Subhanallah, di pagi yang gerimis ini aku sudah ketiban Rezeki, ku saksikan pemandangan yang menakjubkan, acara “Pamer Buku” yang dilakukan anak anak imut ini, buku apa saja yang mereka bawa, judulnya apa, juga tentang keluh kesah ‘tas berat’ yang harus  mereka bawa hari ini. 

 

Subhanallah…Alhamdulillah,  Insya Allah program baca buku tiap hari dalam rangka membuat anak anak makin mencintai buku yang di gelar sekolah ini akan terwujud dalam waktu dekat ini.  Bila anak anak mulai mencintai buku, bagaimana dengan kita para orang tua, siap tidak, sama bergairahnya tidak dengan anak anak kita  ???. 

 

Aku jadi ingat dengan lagu yang baru ku rubah syairnya dua minggu lalu, yang lagi ngetren dan sering di dendangkan anak perempuan kecintaan ku “De Ara’, yang sudah menjadi  lagu wajib kita bila  pergi ke toko buku.  Dan di atas motor Mio ku, menuju ke kantor, berdendang lah juga hati ku dengan riang nya …….

 

Satu satu aku beli buku

Dua dua lalu aku baca

Tiga tiga buku  anak sholeh dan sholeha (bisa diganti lagi sesuai kebutuhan)

Satu dua tiga biar nambah ilmunya ***

 

Kalau kau suka hati bilang buku            BUKU

Kalau kau suka hati bilang baca            BACA

Kalau kau suka hati dan harusnya begitu

Kalau kau suka hati bilang                     AKU SUKA BACA

Siapa pengarang pavorit mu ….

Apa saja buku kesayangan mu

Allah kan pasti suka, sama anak yang rajin membaca

Karena Allah telah bicara di dalam kita suci kita. *** 30 July 2007 ***

 

 

 


Kaka selalu protes bila aku salah menyebutkan nama panggilan ibu Ade, English teacher nya.  “Mamah ini lupa terus….miss Ade, bukan ibu Ade”, protesnya selalu.  “Ya..maafkan lah ka..mamahkan belum terbiasa”, jawabku tak mau kalah juga.  Malam ini karena timingnya pas banget, we discussion about English and what his activity in the school, gimana cara nyari arti kata di kamus, ngumpulin vocab,  tebak kata dst, dan sekalian aja aku pengen tau kesan kesan kaka tentang gurunya.

 

Kesimpulannya miss Ade dan ibu Siti are nice teacher, tidak pemarah namun pernah marah juga sama anak anak, termasuk kaka.  Namun marahnya kalau anak anak bandel, kaka tak lupa merevisi keterangannya.  Pas aku tanya bandelnya atau kehebohan kaka di sekolah seperti apa sih, wah gimana ya..aku lupa, soalnya banyak aku enggak ingat lagi,   (walah…tak terbayang deh kalau dia bilang banyak begitu …he..he).  Terus lanjutnya lagi, miss Ade ngomongnya bahasa Inggris terus, pokoknya orangnya pinter bahasa Inggris kalau ibu Siti bicaranya pake bahasa Indonesia.  Kemudian kaka juga bilang di sekolah buku yang pernah di bacanya buku tentang Jendral Sudirman sama Ba’da Isya.  Ketika ku tanya ceritanya tentang apa, “Wah… susah nyeritainnya, soalnya banyakkkk betulll”, huh..jawaban begini emang “kaka banget” deh pokoknya.   

 

Di akhir cerita, “kak..menurut kaka sekolah nya kaka ini asyik enggak sih”.  “Ya ..lumayanlah” jawabnya.  “Lumayan gimana ka..” tanyaku lagi penasaran.  “Aku enggak tau…susah ngomonginnya, banyak”.  “Tapi kalau kaka di sekolah itu sedih atau bahagia, happy or sad ka..” (he..he.. ngotot juga diriku).  “yaa.happy…mah”.  Alhamdulillah..legalah sudah, dan cukup deh ngobrolnya, “selamat bobo ya ka, mimpi yang indah, mamah mau nyuci dulu ya…”.  “I love you mah…nanti kalau abis nyuci pelukin aku lagi ya ?” pintanya pelan dan mata nya pun meredup perlahan.

 

Alhamdulillah…Mohon jaga selalu hatinya ya Allah, biarkan ia bahagia dalam belajarnya, semoga sekolah  menjadi salah satu tempat terindah dalam hidupnya, Amien”.

26 July 2007

 

 


Blog EntryTakut Terlambat SekolahJul 23, '07 3:34 AM
for everyone

Ada perubahan positip semenjak kaka Alief mulai masuk sekolah SD, hari pertama biasalah jadi rada antusias, pengen di bangunin lebih pagi, sampe bangun malam berkali kali karena takut kesiangan.  Namun saat hari kedua ketiga sampai hari ke lima masih lumayan antusias juga, wah aku merasa di minggu pertama ini, it was surprised to me (bener nggak si ngomongnya..).  Padahal pas TK, acara bangun pagi adalah acara yang paling menguras energi.  Banyak ritual yang harus ku lalui, pertama baca doa dulu, terus peluk dan cium dulu, abis itu masih harus nyanyi lagu Sekeping Hati nya Saujana, abis itu minum, baru bangun.  Di kamar mandi masih juga keluar energi karena tidak cocok ini dan itu.  Yang paling bikin aku bahagia, Sholat Subuh nya yang selama lima hari ini, enggak pernah ketinggalan lagi

 

Di akhir minggu pertama ini, hanya sekali komunikasi antara aku dan kaka Alief eror, itupun karena sesuatu yang di luar dugaan, subuh tadi gas habis, jadi kaka Alief tidak sarapan, kemudian aku berencana membeli roti di luar.  Menangis lah kaka karena dia khawatir terlambat.  Menurutnya, kalau sudah tau gas habis, seharusnya dia di bangunkan lebih pagi lagi, jam lima Subuh menurutnya lebih tepat, biar dia cepat mandi, cepat pake baju trus jam enam bisa beli sarapan dulu, jadi tidak akan terlambat sampai ke sekolah. 

 

Menurut pengamatanku, kaka nangis di pagi hari karena alasan takut terlambat tiba di sekolah adalah sesuatu yang paling jarang dan bahkan hampir tidak pernah terjadi.  Minggu pertama di sekolah ini begitu mudah dan menyenangkan untuknya.  Ya Allah…semoga antusiasnya untuk pergi sekolah tetap terjaga.

 


Blog EntryAula SekolahJul 23, '07 3:30 AM
for everyone

ini  Obrolan di atas motor pas jemput kaka, temanya “Tentang Aula Sekolah”

 

Kaka Alief makin sering ngobrolin masalah Aula  yang ada di sekolahnya ini, menurutnya sekolahnya keren punya aula seperti yang ada di sekolahnya Toto chan, hanya saja Aula di sekolahnya enggak sama dengan yang di Jepang.  Aula di sekolahnya di pakai buat berkenalan, mainan, nyanyi juga kumpul kumpul.  Sedangkan Aulanya Toto Chan  di pake buat belajar juga buat ngegambar, Aulanya Toto chan terbuat dari kayu sedangkan Aula di sekolahnya terbuat dari batu bata, semen, tembok, jadi enggak bisa di tulisin.  Saat aku berikan ide, gimana kalau mengusulkan ke ibu guru sesekali aula di sekolahnya di pake belajar dan menggambar juga kayak di Toto Chan, jawabnya “Ya enggak usah lah mah, kan aku juga baru sekolahnya, nanti nanti mungkin bisa”.  He..he… malu deh daku jadinya, ya okelah kalau begitu.

 

 

 


Blog EntryH 1 Kaka Alief di sekolah SDJul 16, '07 9:06 PM
for everyone

Hari ini tanggal 16 July 2007, adalah hari pertama anak sulungku, kaka Alief masuk SD.  Alhamdulillah setelah bersusah payah..memeras keringat  bertahun tahun dan telah meminuskan uang tabungan, kaka Alief di terima di SDIT Luqman Al-Hakim Balikpapan.  Sebuah lembaga pendidikan yang Insya Allah telah aku percaya sebagai sharing partner untuk membimbing dan mendidik anak tercintaku ini.

 

Dari malam hari kaka Alief udah exciting banget karena esok harinya udah mau sekolah.  Jam setengah lima pagi udah bangun, dan karena tergesa gesa sampai sampai nendang gelas berisi air putih segala.  Setelah ku tenangkan, kaka Alief mau bobo lagi.  Jam lima kurang dikit bangun lagi, katanya mau sholat Subuh padahal di mesjid masih ngaji.  Entah ya kalau ku amati, bangunnya kaka ini kayaknya antara ngelindur sama enggak, jadinya pas dianya tidur lagi ya aku biarin aja.  Jam setengah enam, setelah air hangat buat mandi siap, baru deh kaka nya ku bangunkan.   Abis mandi langsung sholat Subuh, wah Subhanallah…dapat rezeki nomplok hari ini, abis tumben tumbenan kaka enak banget di suruh sholat Subuh.  Bacaan sholatnya pun di baca semua, karena kaka rada mengeraskan suaranya, jadi aku bisa mendengar dengan jelas bacaan nya.  Malah sebelum sholat pas aku lagi mandi, dia sempat teriak kalau sholatnya mau berjamaah saja.  Begitu ku jawab kalau aku lagi palang merah, wah langsung ku dengar ia protes lagi, mamah ini haid terus teriaknya, untuk hal yang satu ini kaka memang suka rada jeaouleous.

 

Berangkat sekolah jam setengah tujuh lewat sepuluh menit, sampai di sekolah jam tujuh lebih dikit.  Rupanya kepagian..sekolahnya masih sepi.  Tapi Alhamdulillah kaka nya jadi lebih di sambut sama bu gurunya soalnya belum terlalu sibuk.  Dan yang di  cemaskan kakapun terjadi.  Kalau enggak salah namanya bu Ade, begitu ketemu kaka langsung deh  bu gurunya nanya nanya, masalahnya nanya nya ini pake bahasa English, kaka kan masih belon familiar gitu lho…

 

“What’s your name ?”

“Alief “, jawabnya pelan.

“Where is your shoes ?”

“Shoes itu sepatu kan bu ?”, jawabnya sambil sibuk nyari nyari sepatu yang di taro di tangga, pas lagi jawab suaranya pd banget abis kaka masih ngerti.

“Yes, good”. Bu Ade ngasih apresiasi

“Do you bring your bottle ?”

No, jawab kaka mulai bingung.  He..he.. padahal sebenarnya dia bawa, ada di tas.  Pokoknya setiap ditanya, terus kelihatan rada enggak mengerti atau bingung, jawabnya aku dengar NO and No terus.  He..he.. ya it’s oke lah for beginner …cie….

 

Aku jadi ingat saat mandikan kaka tadi, ada yang rada di cemaskannya.  Mah gimana kalau nanti sama bu gurunya aku ditanya bahasa Inggris, terus aku enggak ngerti.  Mamah sih jarang praktek bahasa Inggris sama aku, jadinya aku enggak bisa.  

 

Hemmmm…he..he..maafkan lah mamah mu ini sayang, jagonya bahasa sunda sama Indonesia doang.  Tapi Insya Allah…mamah akan lebih belajar lagi deh..apalagi ntar Insya Allah sebulan ke depan, udah punya lawan.  Mamah prediksi satu bulan ke depan kaka udah mulai familiar speak in englishnya.  Amien….  To be continue….

 

Jam 17:00

 

Sepulang kerja aku sempat ngajak ngobrol kaka, gimana perasaannya tentang sekolah barunya.  Menurutnya sekolahnya asyik, gurunya baik, yang suka bahasa inggris namanya bu Ade, yang satunya lagi kaka masih lupa namanya.  Trus katanya di sekolah yang baru ada aula, seperti yang di bukunya Toto Chan.  Kemudian sepulang sholat maghrib di mesjid saat aku jemput, senandung kaka rada lain. Ada lagu baru yang di nyanyikannya,

 

Hello…hello.. good morning to you …

Good morning to you

How are you

Yes I am great…….

 

Ade Ara yang enggak mau kalah, langsung juga nyanyi lagu bahasa English andalannya.

 

I love you

You love me

We are happy family

With a great big hug

And a kiss from me to you

Wont you say you love me too….

 

Kita yang dengar senyam senyum aja…swittt…switt… boleh lah a